
" Yak kak Rian!!!" teriak Syifa hendak mengambil ponselnya kembali tapi tinggi Rian membuatnya kesulitan mengambilnya.
" Nah udah nih ponselnya. "
Syifa menatap Rian kesal. " Jangan pernah menghungiku. "
" Buat apa aku ambil nomor ponselmu kalau gitu. "
" Diemin aja."
" Aku akan tetap menghubungimu. " ucap Rian mencubit pelan pipi Syifa kemudian beranjak pergi.
Sementara Dimas diam dengan rahang yang mengeras dan tangan yang mengepal dengan sorotan mata tajam bak elang dan wajah memerah menahan marah.
" Eh Syifa kita ke perusahaan aja sekarang. " Anita menarik Syifa segera sebelum melihat Dimas yang tampak marah.
" Eh iya... "
" Dim udah ayo balik, loe bisa tanya ntar sama Syifa. Jangan di tahan mulu kalau loe suka sama dia. " ucap Candra berusaha menenangkan Dimas.
Dimas tak peduli dia segera pergi meninggalkan tempat itu.
" Syifa pak Rian itu siapa sih, kaya akrab banget sama loe. " ucap Anita yang mereka baru saja tiba di perusahaan.
" klien kita. "
" Loe kenal dia sebelumnya. "
" Kita kan kerja di perusahaan besar otomatis orang-orang kayak kita kenal diakan? secara dia itu juga pebisnis hebat. " ucap Syifa masih menyela.
" Yak!!selain itu apa? "
__ADS_1
" Akh udah mbak Anita yang cantik nggak usah kepo. " ucap Syifa mempercepat langkahnya.
" Ya kasi tau gua dulu." Anita mengejar Syifa.
Dan Dimas yang baru saja sampai masih dengan wajah yang menahan marahnya. Dia juga ingin tau hubungan apa yang mereka miliki sehingga terlihat mereka sangat dekat.
Sesampainya di ruangannya Dimas melihat Syifa sudah berada dalam ruangan sebelah.
Tampak Syifa sedang mengangkat telfon dengan senyuman manisnya.
" Baru ketemu apa mereka sudah telfonan aja, pake senyum segala ckk.... " batin Dimas dengan sorotan mata tajam.
Dimas dengan rasa penasaran berjalan mendekat dan membuka pintu yang terhubung dengan ruangannya dan ruangan Syifa.
" Aku juga kangen, pengen ketemu pokoknya kangen banget. " ucap Syifa tidak menyadari keberadaan Dimas.
Dimas yang mendengar itu amarahnya kembali memuncak dia merampas dan membanting ponsel Syifa.
" Karena kau berani menelfon di kantorku oada saat jam pelajaran!!! " bentak Dimas membuat Syifa terkejut selama ini Dimas memperlakukannya dengan baik dan tak pernah sama sekali berteriak apalagi membentaknya.
" Tapi nggak usah sampai di banting gini pak. "
" Nggak usah kamu bilang, telfon yang nggak penting yang nggak usah di angkat!!!. "
" Itu penting buat saya pak. "
" Penting, kamu baru aja ketemu dengan pak Rian dan udah bilang kangen, kalian punya hubungan kan itu sebabnya dia terima kesrja sama kita. " ucap Dimas dengan sinis.
" Pak Rian? Si.hmpp..." ucapan Syifa terhenti karena Dimas mencium bibir Syifa dengan sedikit kasur.
Syifa membulatkan matanya, ciuman pertamanya di ambil bosnya itu.
__ADS_1
Syifa berusaha memberontak tapi semakin dia memberontak Dimas semakin menguatkan penganganya dan semakin rakus menciumi dan memberi cumbuan pada leher Syifa.
Syifa akhirnya diam dan tidak memberontak lagi begitu juga dengan Dimas yang mulai melepaskan pengangannya pada tangan Syifa dan mendudukan Syifa di meja kerjanya.
Dimas berfikir Syifa mulai menerima perlakuannya sehingga sentuhannya menjadi lembut tapi tak sesuai pikirannya,Syifa malah mendorong Dimas dan menamparnya.
Plaakkk...
" Dasar brengsek. Aku telfonan sama Bunda, ibu panti aku pak cuma dia orangtuaku sekarang. Dan Kak Rian dia kakak kelasku di SMA dan akun menganggapnya sebagai kakaku karena dia selalu menjagaku, mungkin memang kak Rian dulu pernah ngungkapin cintanya denganmu tapi aku menolaknya dan setidaknya dia menghormati diriku dan dia nggak seberengsek bapak, gua benci sama loe. " ucap Syifa dengan air mata meninggalkan tempatnya.
Dimas yang mendengar ucapan Syifa pun terssadar akan kebodohannya. Dia mengejar Syifa yang saat ini turun menggunakan lift.
" Syifa...." teriak Dimas kemudian masuk lift yang berada di sebelah.
Di dalam lift Syifa menangis sejadi-jadinya tanpa peduli penampilannya yang hancur.
Setelah lift terbuka Syifa berlari secepat yang dia bisa tapi tetap saja dia tertangkap oleh Dimas karena dia menggunakan rok yang lumayan sempit dengan panjang selutut yang hanya hitungan detik keluar dari lift sudah menggapai tangan Syifa.
" Hiks lepasin saya pak. "
" Syifa aku minta maaf, aku nggak sengaja. "
" Hiks lepas gua bilang. "
" Syifa jangan kayak gini kita di lihat banyak orang, aku minta maaf yah. "
" Gua nggak peduli, loe nggak usah minta maaf gua benci sama loe, gua benci.!!! " ucap Syifa memberontak dan akhirnya menginjak kaki Dimas dengan hak tinggi miliknya.
" Akhh... " pekik Dimas.
" Gua akan mengundurkan diri, dasar brengsek. " ucap Syifa pergi dengan perasaan hancur.
__ADS_1
Candra melihat Syifa berlari dengan pakaian, rambut dengan berantakan bahkan dengan air mata.