
Flashback off
Papa Farhan yang saat itu ada di desa, ia baru saja pulang dari kunjungan pembangunan rumah sakit yang sedang di bangunnya di desa itu.
Hari itu hujan deras mengguyur bumi, meski hujan telah reda tapi tetap saja membuat jalan licin.
" Aduh, kenapa jalannya bisa selicin ini. Anak-anak pasti sudah menunggu. "
Jalan yang kebetulan senggang membuat Papa Farhan menambah sedikit laju mobilnya. Tanpa Papa Farhan sadari di depan sana ada seorang anak kecil yang sedang menyebrang dengan di belakangnya seorang pria yang bisa di tebak adalah ayahnya.
Brukk...
" Ayah... " pekik seorang anak cantik yang kisaran berusia 10 tahun.
" Hah hah aku.. Aku menabrak, aku menabrak. " ucap Papa Farhan gemetaran.
" Ayah hiks hiks Ayah. " ucap anak kecil itu dengan langkah kecilnya.
Papa Farhan masih di dalam mobil dengan rasa ketakutan.
Anak itu mengguncang tubuh Ayahnya yang bersimpah darah.
" Ayah... Ayah bangun.. Ayah.. " ucap gadis kecil itu dengan air mata membasahi wajah manisnya dan sebuah boneka kelinci di tangannya.
Papa Farhan keluar dan melangkah melihat keadaan orang di tabraknya dengan langkah gemetar.
" Om kenapa Ayah nggak bangun, Ayah berdarah tolongin Ayah. " ucap gadis kecil itu melihat Papa Farhan.
Papa Farhan terdiam dan duduk di samping pria yang mungkin seumuran dengannya, dengan tangan gemetar Papa Farhan memeriksa denyut nadi pria yang terbaring dengan bersimpah darah.
Degg...
" Om tolongin Ayah. " ucapan gadis itu kembali tapi Papa Farhan spontan berdiri setelah mengetahui pria di tabraknya sudah meninggal.
" Maaf hah maaf... " ucap Papa Farhan yang bingung ingin melakukan apa.
Papa Farhan naik ke mobilnya dan pergi begitu saja dengan rasa ketakutan, ia tidak melihat jelas wajah gadis kecil itu karena takut.
Gadis kecil itu terus memanggilnya untuk menolong ayahnya tapi ia tetap pergi begitu saja.
__ADS_1
" Om jahat!!! " teriaknya.
Flashback on
" Setelah kejadian itu Papa selalu merasa bersalah, dan saat pria itu di makamkan Papa datang ke sana setelah semuanya pergi. "
" Papa minta maaf dan berjanji akan menghidupi putrinya seumur hidup Papa, Saat Papa terus minta maaf Gina dan Papi atau lebih tepatnya Omnya datang ke sana. Dan mengatakan kalau mereka adalah keluarga pria itu, Papi yang Gina panggil saat ini mengatakan dia adik korban. "
" Papa melihat anak kecil itu yang tidak lain adalah Gina, dan Papa saat itu percaya karena warna kulit dan tingginya terlihat sama dengan Gina. Dan tanpa meminta bukti Papa menghidupi Gina dan keluarganya hingga sekarang."
Dimas menjelaskan semuanya pada Syifa, sedangkan Syifa dia sedari tadi sudah tak tahan dengan air matanya yang semakin deras.
" Apa kejadian penabrakan itu di jln xxx dan makam pria itu di xxx. " ucap Syifa gemetaran.
" Iya aku pernah berkunjung di sana begitu juga Diana dan Mama. Kenapa kamu bisa tau. "
Tangisan Syifa semakin pecah.
" Aku paham." ucap Syifa kemudian berlari keluar dari kamar Dimas dengan deraian air matanya.
Dimas mengikuti Syifa dari belakang tentu saja dengan perasaaan bingung.
" Kakak kenapa. " tanya Diana tapi di hiraukan oleh Syifa dan terus berjalan.
Semua orang terkejut dengan apa yang di lakukan Syifa.
" Kau!! Berani menamparku. " geram Papi Gina menatap Syifa dengan marah.
" Itu bahkan belum sebanding!! " teriak Syifa.
" He kenapa menamparnya. " geram salah satu di antara mereka.
" Kenapa!! Apa kau mau juga ku tampar." ucap Syifa dengan tatapan penuh kebencian dan amarah.
Plakkk..
Syifa menampar pria paruh baya itu. Kemudian menatap kembali Papi Gina. Tanpa peduli bagaimana keluarga mereka memarahinya.
" Kau!! Kau bahkan lebih rendah dari seorang sampah. "
__ADS_1
" Kau.. "
" Aku Syifa gadis bisu yang saat berumur 10 tahun teman panti asuhanku kau bunuh di depanku. " bentak Syifa menendang kaki kiri Papi Gina.
Mendengar ucapan Syifa, Gina dan keluarganya spontan terkejut, keringat dingin bermunculan di dahi mereka.
" Jangan asal menuduh dan berhenti memukuli Papiku. " Gina ingin mendorong Syifa, tapi gerakan Syifa jauh lebih cepat.
Plakk...
Syifa menampar Gina cukup keras hingga terjatuh ke lantai. Syifa menarik tangan Gina dan mencengkram kuat kera bajunya.
Papa Farhan ingin menolong tapi di halangi oleh Dimas. " Kita tunggu apa yang akan di bicarakan Syifa. " ucap Dimas, menghalangi Papa, Mama untuk menolong bahkan meminta mereka untuk diam.
Sementara Diana dia tentu terkejut melihat Syifa, dia sudah menangis di pelukan sang Kakak.
" Kau seorang anak. Dan sebagai anak harus menuruti permintaan orangtua. Tapi bukan berarti hal sekeji ini juga kau menuruti orangtuamu bodoh. " bentak Syifa menampar kembali Gina.
" Hey kau itu perempuan kenapa kau sangat kasar dengan anakku. " bentaknya.
" Oo kau ibunya, hmm orangtua tak berguna yang rela menggunakan anaknya untuk hal sekotor ini. "
" He anak muda kau memukul keluargaku dan kau menfitnah kita membunuh temanmu. Apa kau ingin menghancurkan keluarga kami ha.. "
" Ya aku ingin menghancurkannya dengan mengungkap sebuah kebenaran. " ucap Syifa.
" Kalian semua, perlu tau termasuk kalian berlima. " Syifa menunjuk satu persatu orang yang di kenal.
" Olivia yang berumur 10 tahun bukanlah Olivia yang seharusnya kalian bunuh. Kalian membunuhnya karena kalian mengira dia putri dari orang yang sudah di tabrak dia. " Syifa menunjuk Papa Farhan.
Tentu itu membuat Papa Farhan dan sekeluarga terkejut.
" Tapi kalian salah karena Olivia yang harusnya kalian bunuh adalah Syifa Olivia, dan itu adalah aku!!" teriak Syifa mencengkram kera baju Papi Gina.
" Kau dengar!! kalian semua dengar!! Akulah Syifa Olivia putri dari Kalandra yang telah meninggal karenanya. " Syifa kembali menunjuk Papa Farhan.
" Kau sangat berani yah, kau fikir kita akan percaya. Gina lah putrinya kau jangan mengada-ada. "
" Apa kau punya bukti kalau Dia adalah putrinya. " ucap Syifa sinis membuat mereka gugup dan panik.
__ADS_1
" Kenapa kalian panik, nggak punya? Ckk akan ku buktikan akulah putrinya. " ucap Syifa berjalan mendekat Diana yang saat ini memeluk erat kakaknya dengan gemetar.
" Syifa kalau kau mau membuktikannya, silahkan. Tapi jangan lampiaskan emosimu kepada Diana, aku nggak akan tinggal diam jika kau menyakiti adikku. " Dimas menyembunyikan Diana di belakangnya.