
Diana pergi ke rumah sakit dan langsung berlari menuju ruangan rawat Syifa.
" Kak Syifa, hiks hiks... " Diana menghamburkan pelukannya kepada Syifa.
" Loh Diana kamu kenapa. " ucap Syifa terkejut melihat keadaan Diana.
Diana tidak menjawab dia masih menangis di dalam pelukan Syifa.
" Hey ada apa sih, datang-datang kok nangis. " ucap Rian, tapi justru mendapat pelototan dari Syifa membuatnya diam.
" DIANA!!! " Dimas membuka pintu dan langsung masuk.
" Huh huh lari kok cepet banget. " gumam Dimas ngos-ngosan.
Dimas mendekat dan mengelus kepala adiknya itu.
" Pak ada apa sih? Bapak yang buat Diana kayak gini? mau saja patahin tangan bapak. " ketus Syifa.
" Galak banget sih. " Dimas mencubit pipi Syifa.
" Ekhmm tangannya di kondisiin. " sinis Rian.
" Pak!! Diana kenapa. "
" Gina nampar Diana. " ucap Dimas singkat.
" Apa!!! " teriak Syifa. " Wah cari masalah tu orang, terus bapak apain dia. "
" Aku cuma bilang dia nyakitin ade aku, jadi aku semakin benci dia. "
" Ckk... kemari mendekat. " ucap Syifa, Dimas hanya menurut.
" Awww...sakit-sakit Syifa... " ucap Dimas mengelus kesakitan karena Syifa menjewer telinga Dimas.
" Kenapa nggak di apa-apain? kenapa nggak di pukul balik? Dia itu udah mukul adek bapak, dasar kakak nggak bertanggung jawab. " ucap Syifa semakin menjewer Dimas.
" Aww ampun sakit Syifa, iya maaf di sana Papa jadi aku nggak berani takut makin besar masalahnya. tolong di lepas sakit nih hiks Syifa kamu kemapa mengangnya makin kuat sih, telinga aku putus ntar sakit hiks hiks. " ucap Dimas ingin menangis tapi juga ingin tertawa.
" Hihihi hiks hihihi.. " Diana tertawa sambil sesekali sesengukan di pelukan Syifa.
" Bapak nggak jelas, mau nangis? apa mau ketawa.?" ucap Syifa melepaskan jewerannya.
" Kedua-duanya. " ketus Dimas mengusap telinganya yang merah.
__ADS_1
" kak Syifa aku boleh tidur di sinikan. " ucap Diana menatap Syifa dengan sesengukan.
" Ih cantik-cantik kok jorok. " ucap Rian melihat Diana yang mengelap hidungnya yang beringus dengan tangan.
" Biarin, Om diam aja. "
" Yak sudah ku bilang jangan memanggilku begitu. "
" Om Om Om Om Om Om... " ucap Diana menatap kesal ke arah Rian.
" Padahal baru nangis, udah ngeledekin aja dasar cewek. "
" Udah kak Rian sana jauh-jauh, pak Dimas juga. "
" Kenapa? " kompak Dimas dan Rian
" Udah malam mau istirahat, Diana kamu tidur dekat aku aja yah. " ucap Syifa membuat Diana mengangguk.
" Kenapa masih di sini sana pergi. " ketus Syifa dengan wajah galaknya.
" Kenapa jadi galak sih." Kompak Dimas dan Rian kemudian pergi ke sofa tak jauh dari sana.
Diana dan Syifa tidur berpelukan. Dimas yang melihatnya tersenyum, meskipun sudah hampir setahun dia masih belum tahu kenapa adiknya bisa sangat menyanyangi Syifa bahkan pada saat pertama kali bertemu.
..........
" Akhh gua harus maksa Papa Dimas biar pernikahan gua dan Dimas di percepat. Jangan sampai Dimas dan Cewek sialan itu bersama, bisa-bisa rencana Papi hancur, gua nggak bisa nguasain hartanya dan gua yang akan di marahin. " ucap Gina mengepal tangannya.
............
Hari ini Syifa telah di perbolehkan pulang dengan syarat harus kontrol setiap 2 minggu sekali.
Saat ini Syifa sedang berdiri di balkon sembari menikmati udara pagi yang sejuk.
" Huft.... segarnya udara pagi yang sejuk. " ucap Syifa merentangkan tangannya.
Tok tok tok.
" Aish siapa sih, pagi-pagi udah ada tamu aja. Kalau kak Rian gua nggak terima, nggak pernah penting kalau ke sini. " ucap Syifa membuka pintu apartemennya.
Deg.....
" Pa-pak Farhan. " ucap Syifa gemetar.
__ADS_1
" Boleh saya masuk. "
" Oh iya pak silahkan masuk." ucap Syifa
" Huh tenang Syifa tenang." batin Syifa.
" Emm Bapak mau minum apa. "
" Tidak perlu saya hanya ingin bicara sebentar. "
" Oh baik Pak. " Syifa duduk berhadapan dengan Pak Farhan yang tidak lain adalah Papa Dimas.
" Dengar-dengar kamu sudah mengundurkan diri dari perusahaan. "
" Iya Pak. "
" Kenapa? Apa kamu tidak nyaman. "
" Bapak bisa beritahu Pak Dimas, dia mengerti apa yang terjadi." ucap Syifa.
" Hmm apa kejadian di ruanganmu membuatmu mengundurkan diri?" ucap Pak Farhan sedikit membuat Syifa terkejut bercampur malu.
" Iya Pak. " ucap Syifa singkat membuat Pak Farhan mengangguk.
" Apa kau mencintai Dimas?" ucap Pak Farhan sukses membuat Syifa terkejut dan seolah membisu.
" Sa-saya tidak tahu. Saya tidak mengerti tentang hal itu. "
" Kau sangat pintar soal bisnis tapi soal cinta kau ternyata tak paham. "
" Sebenarnya apa tujuan bapak ke sini. "
" Oo baiklah Gina meminta saya pernikahannya dengan Dimas di adakan bulan ini. Saya tau anak saya mencintaimu dan saya berharap kamu tidak membalas cintanya. " Syifa kembali terkejut detak jantungnya sangat kencang.
" Aku kenapa, aku kenapa mendengar hal ini membuat dadaku sakit. Aku kenapa... " batin Syifa.
" Dan soal Diana saya mau kamu membujuknya untuk menerimanya, karena jika Diana menerima Gina maka Dimas akan menerima Gina juga. "
" Saya akan melakukannya, tapi Bapak harus jelaskan kenapa Pak Farhan sangat memperhatikan Gina daripada Diana anak bapak sendiri. "
" itu bukan urusanmu!!! " bentak Pak Farhan tak menyangka pertanyaan Syifa.
" Pasti ada alasannya Diana tak menerima Gina bukan. dan saya tak bisa menjelaskan apapun. "
__ADS_1
Pak Farhan tak menjawab dia langsung beranjak pergi meninggalkan Syifa, tampak kekesalan wajahnya terpancar di sana.
" Sebenarnya ada apa dengan keluarga Gina dan Pak Dimas? " gumam Syifa melihat kepergian Pak Farhan.