
Syifa sudah di tangani oleh dokter sekarang ia telah berada di ruang rawat VIP atas permintaan Dimas dan Rian.
Tentu saja mereka meributkan hal sepele keduanya mau membayar biaya rumah sakit Syifa.
" Maaf pak biar saya saja yang membayar administrasinya. " ucap Dimas .
" Tidak biar saya saja. " ucap Rian
" Syifa adalah sekertaris saya, dia datang ke sana itu karena saya. " Tegas Dimas.
" Sebelum anda mengenalnya saya sudah mengenalnya dengan baik, anda mengenalnya belum setahun tapi saya sudah bertahun-tahun."
" Tapi kalian tidak bertemu selama 5 tahun bukan. "
" Iya tapi setidaknya saya jauh lebih mengenalnya dan saya jauh lebih berhak. "
" Maaf yah pak saya rasa sayalah yang lebih berhak, Syifa datang ke sana dan menjaganya adalah tanggung jawab saya. "
Baru saja Rian ingin mengucapkan perkataannya. Candra sudah geram melihat tingkah keduanya akhirnya menyumpal mulut keduanya dengan roti yang di tangannya.
Keduanya pun menatap Candra tajam.
" Apa!! "
" Ini rumah sakit, berisik banget kalian cuma soal biaya dong di ributin. Kasian tu Syifa masih pingsan tapi kalian ribut banget. " ucap Candra.
" Kartu kalian sini biar di bagi aja. Gua yang ke administrasi." ucap Candra mengulurkan tangannya.
Keduanya pun akhirnya menurut.
" Gua bayar pake ini yah. " ucap Candra memastikan. Rian dan Dimas mengangguk.
Candra pun segera meninggalkan mereka.
Dimas dan Rian mendekati Syifa yang masih terbaring lemah, wajah pucatnya sangat terlihat jelas.
" Sebenarnya siapa yang sudah melakukan ini pada Syifa?. Makanan yang harusnya di uji lap sudah tidak ada, CCTV nya pun sudah hilang. Pelayan restorannya masih lengkap semua jadi sulit untuk curiga. Orang itu sangat bergerak cepat melakukan ini, sulit untuk menemukannya. " ucap Rian menatap Syifa.
__ADS_1
Dimas hanya diam tatapannya tak teralihkan dari Syifa.
Candra telah datang tapi ia tidak sendirian di belakangnya ada seorang gadis yang sedang memasang wajah galaknya.
" Kak Dimas kenapa nggak kasi tau aku kalau kak Syifa sakit. Kenapa kak Syifa bisa kayak gini?."
" Kamu kenapa bisa di sini. "
" Dia nelfon gua, ya gua kasi tau keadaan Syifa. Dia habis ke perusahaan cari dia karena katanya telfonnya dan loe nggaak aktif gua yang di telfon. " jelas Candra
"Oo.. "
" Kak... "
" hmm... "
" Kakak udah temuin belum pelakunya."
" Aish payah... "
" Tau ah pindah. Kakak nggak becus jagain kak Syifa. " Diana mendorong pelan tubuh Dimas dan ia duduk di samping Syifa berbaring.
" Punya ade gini amat, lebih sayang sekertarus kakaknya daripada kakaknya sendiri. " gumam Dimas.
" Bodo amat. "
" Kalian bisa nggak sehari aja nggak berantem. " ucap Candra.
" Itu dialog Mama. " kompak Dimas dan Diana.
" Berisik banget sih. Kalian nggak liat tuh Syifa keganggu, dia udah sadar." ucap Anita membuat semuanya beralih menatap Syifa.
Syifa tersenyum.
" Huhu kak Syifa kenapa bisa gini. " Diana memeluk Syifa yang sedang berbaring.
" Syifa ada sakit?. " tanya Dimas, Syifa menggeleng lemah.
__ADS_1
" Syifa kamu udah sadar. " ucap Rian yang baru keluar toilet dan segera menghampiri Syifa. " Kamu nggak papa kan? Ada yang sakit nggak? "
" Nggak Pa pa. " ucap Syifa membuat Rian bernafas lega.
Sementara Diana menatap Rian tampa kedipan mata. " Ganteng banget. " gumam Diana yang hanya di dengar oleh Dimas.
" Jangan kecentilan, awas aja dia itu klien kakak dan teman lama Syifa. "
" Oo namanya siapa, kakak punya nomornya atau Id line nya atau nama instagramnya apa kasi tau dong. "
" nggak akan. "
Diana tak kekurangan ide. " Kak Syifa laper nggak, mau makan apa. Atau mau sesuatu gitu."
" Nggak kok Diana. "
" Oo ya udah. Hmm dia siapa kak. "
" udah di bilangin jangan centil. " batin Dimas.
" Oo kenalin ini Rian klien kami, dan Rian dia Diana adiknya pak Dimas. "
" Oo Rian..." ucap Diana mengangguk-angguk kepalanya. " Ganteng... " senyum manis Diana di balas Rian.
" Kyaa... manis banget. " jerit Diana dalam hati dan terus menatap wajah tampan Rian.
" Ekhmm..." deheman Dimas membuyarkan lamuan Diana.
" Apa lagi kak, ganggu aja.. "
" Udah jangan berantem kepalaku masih sedikit berat nih. "
" Oke malau kak Syifa yang minta. " Diana melingkarkan tangannya di pinggang Syifa dan memeluknya.
Tentu saja Diana masih melirik Rian sesekali dan tersenyum.
" Suami Masa Depan ." Batin Diana
__ADS_1