BERAWAL DARI MONAS

BERAWAL DARI MONAS
PENCURI


__ADS_3

" Syifa Papa baru aja nelfon, dia minta aku dan Diana pulang ke rumah hari ini katanya ada yang mau di bicarain. "


" Terus apa hubungannya denganku."


" Yak aku belum selesai bicara, Diana nggak mau pulang kalau kamu nggak ikut. Makanya aku jemput ke sini. " jelas Dimas, Syifa tampak berfikir.


" Udah nggak usah banyak mikir, Diana udah dalam perjalanan pulang. "


" Tapikan... "


" Udah cepatan siap-siap dari pada aku menarikmu pergi. "


" Ikh kok maksa sih. " Ketus Syifa tapi tetap menurut.


Setelah bersiap-siap Syifa dan Dimas bergegas meninggalkan apartement dan segera menuju kediaman keluarga Dimas.


Sementara itu Diana baru saja sampai di rumahnya, di ruang tengah terlihat kedua orangnya sedang menonton TV.


" Pa Ma kak Dimas belum datang? " ucap Diana ikut duduk.


" Belum nak, mungkin sebentar lagi. " ucap Papa Farhan pada putrinya yang sudah beberapa hari tak melihatnya.


Diana mengangguk pelan.


" Hmm bisa pulang juga loe." sinis Gina yang menuruni tangga. Diana tak menanggapinya.


Tin.... Suara klakson mobil terdengar dengan antusias Diana segera berlari menuju pintu.


" Kak Syifa..." Diana berlari memeluk Syifa yang baru saja keluar mobil.


" He ayo masuk, malah pelukan kayak udah lama nggak ketemu aja." ucap Dimas yang melihat kedua wanita itu terus berpelukan.


" Bilang aja Kak Dimas iri nggak bisa meluk kak Syifa kayak gini. " ejek Diana.


Dimas berdecak kesal dan masuk terlebih dahulu.


Gina yang melihat Dimas datang langsung menghampirinya dan mengandeng tangan Dimas dengan manja.


" Hay sayang, aku kangen! kamu nggak pulang-pulang sih. " ucap Gina.


Dimas menepis tangan Gina dan duduk di dekat sang Mama.


"Diana nggak mau balik tanpa Syifa,jadi hari ini Syifa akan menginap di sini."

__ADS_1


" Loh nggak bisa begitu dong, Kalau Diana mau pergi ya udah. " ketus Gina.


" Aku nggak minta ijin, aku memberi tahu kalian dan kau tidak punya hak untuk ini. " ketus Dimas.


Gina hanya berdecak kesal, dan Papa Mama Dimas hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan Gina yang tak berubah.


Dua gadis cantik memasuki rumah dengan iringan tawa. Semuanya menoleh ke arah sumber suara.


Tampak Syifa dan Diana saling bercanda satu sama lain, senyum yang terukir di wajah Diana membuat kedua orangtuanya bahagia.


" Syifa sebenarnya apa yang ada di dalam dirimu, Diana sangat mudah tersenyum saat bersamamu. " batin Dimas.


" Diana sangat jarang bicara apalahi tersenyum saat Gina ada di rumah tapi Syifa dia malah terlihat bahagia. Andai Gina tidak meminta untuk di jodohkan dengan Dimas pasti aku memilih dirimu sebagai menantuku. " batin Papa Farhan.


Syifa tersenyum dan melangkah mendekati kedua orangtua Dimas.


" Sore Om sore tante. " ucap Syifa sambil mencium punggung tangan orangtua Dimas.


Papa Farhan dan Mama Dian terkejut, dengan perbuatan Syifa. Kedua anaknya bahkan sangat jarang menghormati mereka seperti itu.


Biasanya Diana akan langsung memeluknya tapi jika Gina tidak ada, sedangkan Dimas diam saja.


Dimas dan Diana menjadi malu sendiri, bahkan tadi mereka langsung duduk saja tanpa menyapa kedua orangtuanya.


" Iya tante saya Syifa. "


" Wah pantas saja anak-anak saya menyukaimu kamu sangat cantik, sopan dan lembut. " ucap Mama Dian mengusap lembut pipi Syifa.


Syifa tersenyum menanggapi ucapan Mama Dian. " Makasih tante. "


Gina menatap tak suka ke arah Syifa. Apalagi saat ini Syifa duduk di sebelah Dimas dan Dimas tersenyum ke arah Syifa.


" Ckk dia sangat pandai mencari perhatian orang. " batin Gina sinis.


" Mama, kak Syifa duduk dekat aku aja." ucap Diana yang menarik Syifa dan duduk di sofa lainnya.


" Eh Mama kan masih ngobrol sayang. "


Diana mengelengkan kepalanya tanpa tidak boleh, ia memeluk Syifa agar tak bisa ke mana-mana.


" Dasar pencuri. " ketus Dimas pada adiknya.


" Pencuri? Pencuri apaan. "

__ADS_1


Dimas tak menjawab ia hanya menatap Diana dengan tak suka.


Sedangkan Syifa membisikkaan sesuatu pada Diana.


" Mungkin maksud pak Dimas, kamu itu nyuri aku. kenapa? karena tadi aku duduk di dekatnya dan sekarang di dekat kamu. Itu sih mungkin aja. " bisik Syifa.


" Ckk kalau bener apa yang di katakan Kak Syifa, kakak itu udah gila gila gila. "


" Memangnya apa yang Syifa katakan. "


" Ee... " Diana ingin mengatakannya tapi mulutnya di bekap oleh Syifa.


Syifa menatap Diana tajam kemudian meletakkan jari telunjuknya pada bibir mungilnya tanda agar Diana tidak mengatakannya.


" Apaan sih Syif, biarin aja Diana ngomong. " ucap Dimas tapi mendapat gelengan dari Syifa.


" Dek kamu ngomong, kakak tambahin uang bulanan kamu. " bujuk Dimas karena rasa ingin tahu.


Mata Diana berbinar-binar dia berlari mendekat ke arah sang kakak.


" Itu tadi kak Syifa bisikin... "


Syifa dengan cepat Menyela ucapan Diana.


" Diana kalau kamu ngomong kakak pulang aja, dan nggak mau ngomong atau bahkan temenan sama kamu, kamu nggak boleh nemuin kakak lagi. " ancam Syifa dengan bertubi-tubi.


" Mmm kak Syifa jangan gitu dong. "


Syifa melipat kedua tangannya dengan wajah cemberut, Diana pun berdiri mendekati Syifa kembali.


" Diana kalau kamu ngomong kakak tambahin 2 kali lipat dari jajan kamu sebulan. " bujuk Dimas lagi, Diana menatap Dimas kemudian beralih pada Syifa yang semakin cemberut.


Diana menggaruk kepalanya bingung, kemudian menatap Dimas dan menggelengkan kepala.


" Kak Syifa lebih berharga dari uang. " ucap Diana memeluk tubuh mungil Syifa.


Syifa yang di peluk tersenyum, dan memeletkan lidah mengejek Dimas yang saat ini berwajah kusut.


" Awas aja kamu Syifa. " ketus Dimas, Syifa semakin meledeki Dimas.


Papa dan Mama Dimas yang melihat interaksi ketiganya tersenyum, Apalagi Syifa dan Dimas, Dimas yang biasanya di ledeki orang lain akan langsung marah tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk Syifa.


" Kak mending kita ke kamar aja, bentar lagi pasti ada singa yang nerkam kakak, jika di ledekin terus. " ucap Diana menarik tangan Syifa tanpa menunggu jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2