
Merasa mendapat tatapan tak menyenangkan. Syifa menoleh dan menampilkan deretan giginya yang rapi.
" Hehehe pak kalau pun saya di pecat saya akan menyelesaikan laporannya dulu dan jelasin apa yang harus dilakuin, perusahaan ini banyak membantu saya selama ini, bahkan bapak udah ngasih saya apartement jadi mana mungkin saya lakuin itu. "
" Jadi itu hanya ucapanmu. "
" Iya pak. " nyengir kuda sambil memengang kedua telinganya.
Dimas yang sekali lagi melihat tingkah Syifa tersenyum dan mengacak rambutnya.
" Ya udah sana kamu lanjut makan gih. " ucap Dimas kemudian pergi.
Setelah kepergian Dimas, Syifa menoleh kebelakangnya dan memeluk gadis yang sepertinya masih berusia 17 tahun.
" Kamu nggak pa pa kan. " ucap Syifa.
" Nggak pa pa mba, makasih udah nolongin saya. "
" Iya sama-sama, lain kali kamu hati-hati kerjanya. " ucap Syifa lembut dan mengelus rambut anak itu.
" Nita aku kembali kerja dulu yah, ini sama pak Candra makannya. " ucap Syifa kemudian pergi.
" Hey ishh dia itu menyebalkan. " gerutu Anita.
" Sudah ayo makan. " ucap Candra menarik tangan Anita.
" Saya sudah makan pak. "
" Baru setengahkan. "
" Tapi saya sudah kenyang. "
" Kalau begitu temani saya. " ucap Candra,Anita hanya bisa pasrah.
Sementara itu di dalam sebuah mobil mewah Gina melajukan mobilnya menuju sambil memaki-maki Syifa.
" Sial berani banget dia buat gua malu di depan semua orang, bakal gua aduin sama Papi gua. "
__ADS_1
Sampai di rumahnya Gina langsung masuk dan menemui Papinya di ruangan tengah.
" Hiks hiks Papi, papi..... " Gina memeluk Papinya sambil menangis.
" Loh anak Papi kenapa nangis siapa yang buat anak Papi seperti ini. "
" Hiks hiks fia karyawan di perusahaan Dimas dia nampar aku Pi, dia buat aku malu hiks hiks... "
Mendengar hal itu Papi Gina menjadi marah. " Kita ke sana Papi akan menelfon Farhan untuk datang. "
" Iya Pi.. "
" Awas aja loe. " batin
Setelah menelfon Pak Farhan, Gina dan Papinya segera menuju perusahaan Dimas.
Di perusahaan.
Dimas sedang menjelaskan materi yang akan Syifa sampaikan pada rapat nanti. Keduanya fokus pada layar laptop yang ada di depannya, Syifa berdiri sambil memengang sandaran kursi kebesaran Dimas.
Pandangan mereka teralihkan karena tiba-tiba ada yang membuka pintu cukup kencang.
" Hiks iya pi hiks hiks. "
Papi Gina mendekat dan tanpa aba-aba langsung menampar Syifa dengan keras.
"Akhh... " pekik Syifa dan seseorang bersamaan.
Karena Dimas berada di sampingnya, otamatis Syifa jatuh kepelukannya.
" Syifa, kak Syifa. " ucap Dimas dan Diana yang berlari ke arah Syifa.
Syifa memengang pipinya yang terasa nyeri. " Syifa aku liat dulu yah... " ucap Dimas lembut.
Dimas mengusap lembut pipi Syifa yang memerah kemudian menatap tajam Papi Gina.
" Om kenapa datang tiba-tiba mukulin orang. " ucap Dimas emosi.
__ADS_1
" Dia berani putriku jadi aku membalasnya. "
Dimas ingin memukuli pria di depannya tapi ia di halangi oleh Papa Farhan. Dimas hanya bisa menahan emosinya.
Sedangkan Syifa yang sedang berada di pelukan Diana menahan perih di pipinya. Mereka berdua duduk di sofa tak jauh dari ke empat orang yang sedang bertengkar itu.
" Kak Syifa ada masalah apa sih sama bapaknya mak lampir itu. "
" Mak lampir?. " ucap Syifa menahan sakit.
" Itu kak Gina si arogan. " ucap Diana pelan.
" Gak boleh gitu dia punya nama."
" Akh tau ah Diana gak suka dia. "
Syifa hanya diam dan kembali memperhatikan empat orang yang sedang berdebat.
Syifa terenyuh mendengar setiap kata yang Dimas keluarkan untuk membelanya.
" Pak Dimas segitunya membelaku, dari dulu dia tidak pernah kasar padaku, orang-orang kantor menghinaku bahkan mereka sering mengataiku tak memiliki orangtua, pak Dimas yang pertama kali membelaku, setiap kali dia membelaku, bersikap manis rasanya begitu hangat, rasanya aku kembali mendapatkan kasih sayang setelah ayah meninggal. " batin Syifa.
" SUDAH CUKUP LEBIH BAIK TUAN DAN ANAK TUAN KELUAR DARI SINI. " ucap Dimas dengan nada tinggi kemudian menghampiri Syifa.
Dimas mengelus lembut pipi Syifa, tentu saja Syifa yang sedari tadi menahan tangisnya, akhirnya jatuh membasahi pipinya.
" Sakit yah? " tanya Dimas tapi Syifa hanya diam.
" Diana kamu ambilin es batu sama kain dulu biar ini bisa di kompres. "
" Iya kak. " ucap Diana segera beranjak dari sana melewati Papa Farhan, Gina dan papinya dengan tatapan sinis.
" Apa istimewanya anak ini, dia bahkan merenggut kedua hati anakku. " batin Papa Farhan.
Sementara itu Gina yang melihat segala perlakuan Dimas pada Syifa menjadi geram, ia mengepalkan tangannya.
" Dimas kenapa kau terlalu baik pada sekertarismu itu. " ucap Papa Farhan, tapi Dimas hanya diam.
__ADS_1
" Kak Ini... " Diana menyerahkan sebuah kain dan mangkuk yang berisi beberapa es batu di sana.
Dimas dengan hati-hati mengopres pipi Syifa.