BERAWAL DARI MONAS

BERAWAL DARI MONAS
PART 44


__ADS_3

Hari ini Syifa kembali bekerja di perusahaan di mana Dimas menjadi bosnya jabatannya pun sama seperti dulu hanya saja kali ini dia akan mengurus pekerjaan Candra.


Bukan tanpa maksud ternyata ada maksud terselubung mengapa Anita dan Candra ingin menginap di rumah keluarga Dimas. Keduanya menyampaikan akan menikah, awalnya Dimas terkejut karena tak tau hubungan keduanya sebelumnya tapi tidak dengan Syifa dia sudah tau dari Anita saat masih bekerja.


Menjadi sekertaris bos menyebalkan bagi Syifa tentu di mulai perdebataan, awalnya Papa Dimas menawarkan Syifa jabatan yang lebih tinggi dan mengurus usahanya yang lain tapi Syifa menolak karena merasa tanggung jawab itu terlalu besar.


Dan saat Syifa menolak Dimas tanpa izin meminta Syifa kembali menjadi sekertarisnya Syifa awalnya menolak tapi berdebat dengan Dimas yang tak mau kalah dan harus d uhh turuti membuat Syifa mengalah.


KESAL, itulah yang di rasakan Syifa pekerjaanya bertambah di tambah Dimas yang selalu menjahilinya.


" Kalau bukan bos, aku sudah mencakar wajah tampannya itu. " batin Syifa.


****


" Akhh udah malam kepalaku pusing, lanjut besok aja. " ucap Syifa melepaskan kacamata anti radiasi yang sedari tadi menempel. di wajahnya.


Ruangan Syifa masih masih sama hanya sekali menengok pandangannya sudah terarah pada bos menyebalkan itu.


" Ckk... dasar bos menyebalkan, aku udah ngatur semua berkas dia malah enakan tidur. " ucap Syifa saat melihat Dimas dengan mata tertutup dan kepala bersandar di kursi kebesarannya.


Karena Syifa memilih lembur di kantor, Dimas yang tak ingin mendapat amukan dari orangtua dan adiknya yang super-duper menyanyangi Syifa membuatnya harus menunggu Syifa.


Syifa mendekati tempat di mana Dimas berada, ia berdiri setengah duduk di meja yang berada di depan Dimas. Syifa melipat kedua tangannya di depan dada. Meskipun gayanya seperti itu tatapan Syifa berbeda, di tatapnya pria yang sedang tertidur dengan dengkuran halus dan nafas teratur dengan tatapan dalam.


Sepertinya perasaan wanita ini sekarang sudah tumbuh untuk pria menyebalkan.


" Dia masih terlihat tampan meskipun tidur. " gumam Syifa mengulum senyumnya.


" Dimas apa kebahagiaan itu benar ada padamu, kalau begitu kapan itu datang?" gumam Dimas membelai lembut wajah tampan yang sedang tertidur itu.

__ADS_1


" Emmhhgg... " Dimas mengeliat merasa tidurnya terganggu.


Syifa terkekeh kemudian menepuk pelan pipi pria yang mulai mewarnai hidupnya dengan tingkah dan kejahilannya yang hanya di tunjukkan padanya. Sadar? tentu saja Syifa sadar karena jika di depan oranglain makhluk tampan itu layaknya bongkahan es, bicara irit, tatapannya tajam dan sikapnya tegas tapi jika di depannnya kucing selucu apapun mungkin akan kalah.


" Pak Bangun... kita pulang. " ucap Syifa menguncang pelan tubuh Dimas.


" Emm 5 menit. " suara serak Dimas keluar dari bibir yang bawahnya sedikit tebal itu.


" Pak bangun!! "


Dimas diam rasa kantuknya membuatnya malas bangun. Syifa mengelengkan kepalanya membangunkan Dimas bukanlah hal mudah.


Ntah darimana ide muncul di kepalanya di bisikkan kata-kata di telinga Dimas, setelah membisikannya Syifa langsung pergi.


Dimas yang mendengar bisikan itu langsung tersadar saat membuka mata sepenuhnya Syifa sudah hilang dan terdengar langkah kaki di luar membuat Dimas segera menyambar jas berwarna navy itu dan menyusul Syifa dengan rasa tak biasa.


" Syifa tadi kamu ngomong apa. " tanya Dimas saat berhasil mengapai Syifa di lift.


" Kamu nggak bisik apa-apa ke aku tadi?" tanya Dimas memastikan dengan wajah serius, Syifa menggeleng dengan wajah khas bingungnya tapi tentu dalam hati menertawai Dimas yang berhasil di kerjai.


Dimas menghembuskan nafas kasar dengan wajah lesunya, tadinya yang bersemangat mendadak menjadi kusut. Bisikan itu Ternyata cuma angan-angan batin Dimas.


" Emang tadi kamu denger apaan? " tanya Syifa masih berpura-pura dengan wajah sok keponya.


" Nggak usah kepo! " ketus Dimas.


" Kok gitu sih. " ucap Syifa saat keduanya sudah berada dalam mobil.


Dimas masih memasang wajah kusutnya, dengan kecepatan sedang ia melajukan mobil menuju kediamannya.

__ADS_1


Dalam perjalanan Syifa terus saja bertanya, tentu dengan wajah yang masih sok kepo itu. Sampai di parkiran rumahpun Syifa masih bertanya.


" Pak Ayolah. "


" Jangan memanggilku Bapak, aku bukan bapakmu" ketus Dimas.


" Emang bukan Ayah Syifa kan udah meninggal, udah tenang di alam sana. " ucap Syifa tak kalah ketusnya.


" Selain itu Ayah itu jauhhhhhh.... lebih tampan dari pak Dimas. Makanya anaknya cantik perpaduan dari Ayah dan Ibu dengan hasil kerja kerasnya di atas ranjang dengan bermandikan keringat, dan rasa yang luar biasa seperti berada di surga dunia hingga akhirnya jadilah Syifa Olivia." cerocos Syifa.


Meski berbicara dengan cepat, Dimas dapat mendengarkan dengan baik setiap kata yang keluar dari bibir mungil Syifa.


Dimas bahkan membuka mulut dan matanya lebar kanget dengan ucapan Syifa yang berbau hal dewasa, itu adalah kalimat kotor pertama yang di dengar Dimas keluar langsung dari mulut Syifa.


Dimas melihat Syifa yang akan masuk ke dalam kamarnya langsung berlari mencengah Syifa.


" Apa?!"


" Hey kamu tu masih gadis Syifa, bisa-bisanya perkataan seperti itu keluar dari mulutmu. Ingat jangan pernah bicara seperti itu lagi termasuk di depan laki-laki lain. Masih untung hanya aku yang dengar, kalau orang lain gimana? nggak malu? Kalau cowok lain yang dengar bisa-bisa kamu di perawanin detik itu juga. " omel Dimas panjang lebar.


" Kalau Diana yang bicara seperti itu mungkin aku sudah menyewa 10 bodyguard untuk menjaganya dan melarangnya keluar seizinku, sayang itu kamu aku belum punya hak menghukummu. Ingat kamu bicara seperti itu lagi aku.... " sambung Dimas nampak berfikir setelah mengomel.


" Apa?"


" Aku akan mencium bibirmu karena hanya seperti itu yang membuatmu diam. " ketus Dimas melangkah pergi.


" Eh pak emang dari mana bapak tau kalau saya masih gadis. " ucap Syifa ingin mengerjai Dimas yang selama ini selalu menjahilinya. Pembalasan batin Syifa.


Mendengar hal itu lantas membuat Dimas berhenti dan berbalik mendekati Syifa, di berinya tatapan tajam kemudian melemah.

__ADS_1


" Memangnya kamu sudah tidak gadis? " tanya Dimas yang ntah kenapa mendadak bodoh bisa masuk dalam jebakan Syifa.


__ADS_2