
Syifa sibuk menatap layar di depannya, ia mengerjakan tugasnya dengan teliti. Sehingga tak menyadari sudah ada dua pria tampan yang melihatnya di ruangan sebelah.
" Dia cantik, ini kali yang namanya bidadari. " ucap Candra membuat Dimas kesal.
" Dasar loe, sono keluar mending loe keruangan loe. " bentak Dimas.
" Kok loe marah sih. " ucap Candra.
Karena mendengar mereka suara, membuat Syifa mengangkat wajahnya menatap siapa yang saat ini sedang ribut.
" Pak Dimas udah dateng ternyata. "
" Keliatannya mereka lagi debat. " ucap Syifa. "udahlah Syifa kerjaan loe tinggal dikit kerjain dulu baru nyamperin. " ucap Syifa kembali menatap laptopnya.
" Hay Syifa selamat pagi. " sapa Candra.
" Selamat pagi pak. " ucap Syifa tersenyum.
" Semangatnya kerjanya,aku cuma mau sapa. " ucap Candra tersenyum kemudian pergi.
" Candra gua bilang keluar!!! " teriak Dimas.
" loe kenapa sih marah. cemburu? "ketus Candra membuat Dimas salah tingkah sedangkan Syifa mengerutkan dahinya.
" Se-sembarangan loe. udah sana balik ke ruangan loe. " ucap Dimas.
" Hehe loe suka yah sama sekertaris loe. ahh tumben loe suka sama cewek. " goda Candra.
" Candra!!! keluar. " teriak Dimas membuat Candra segera keluar dengan kekehannya.
Sedangkan Syifa saat ini menatapnya dengan bingung, berbeda dengan Dimas dia salah tingkah dengan ulah Candra.
__ADS_1
" Sialan Candra gua jadi salah tingkah gini, mana dia responnya biasa aja lagi. " ucapnya sambil melirik sekilas Syifa.
Sementara itu Candra tengah tertawa terbahak bahak mengerjai sahabatnya itu.
" Kalau Dimas bener suka sama Syifa, gua harus ikhlas. kan gua juga cuma kagum dengan wajahnya yang natural. Tanpa polesan dia udah cantik. " Ucap Candra.
" Kalau Dimas hahaha mungkin dia bener cinta. Dasar Dimas. "
" Pak apa bapak nggak pa pa. " ucap Anita.
" Nggak, kamu kira aku gila karena ketawa-ketawa gitu. "
" Eh nggak kok pak. " ucap Anita agak gugup membuat Candra tersenyum.
" Sudah kembali ke ruanganmu. "
" Iya pak. "
" Akh sialan Candra. Gua juga kenapa gua jadi serba salah gini. "
Dimas memukul kepalanya pelan sampai tak sadar jika Syifa sudah berdiri di dekatnya.
" Pak.. Pak maaf pak. " uCap Syifa membuat Dimas membuyarkan lamunannya.
" Eh Sy-Syifa ada apa. "
" Ini saya mau menyerahkan laporan kemarin. "
" Oo baiklah. " ucap Dimas yang semakin tak tenang.
" Pak Dimas kenapa? "
__ADS_1
" Enggak kamu kembali ke ruanganmu. " ucap Dimas tegas berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
" Baik pak. " Syifa melangkah ke ruanganya.
" Huft... untung aja. " ucap Dimas memengang dadanya.
Baru saja Dimas merasa sedikit tenang sudah ada membuka pintu agak kasar dan langsung masuk berteriak memenuhi ruangan.
" Kakak ku tersayang, teganteng. Adikmu yang cantik tiada tara ini datang. " teriak Diana.
" Diana kamu kok di sini. nggak kuliah? jangan bilang kamu bolos. " ucap Dimas.
" Nggak kakak kelas aku di undur siang nanti. dari pada bosan di kampus, ngeladenin cewek yang selalunya ngebahas kakak gantengku dan cowok yang selalunya ngejar aku, mendingan ke sinikan. " ucap Diana panjang lebar.
" Oo yaa udah sana kamu duduk aja di sofa jangan ganggu kakak. "
" Hmm... " Diana mengedarkan pandangannya dan tertangkap sosok Syifa yang sedang tersenyum ke arahnya.
Diana mematung melihat Syifa yang sangat cantik dan manis.
" Kak... "
" hmm... "
" Ternyata ada cewek yang lebih cantik dari aku. Aku liat cewek cantiknya kebangetan, senyumnya manis. " ucap Diana.
" he kamu masih normalkan dek. "
" nggak tau, liat dia langsung gini gua kak. " ucap Diana masih melihat Syifa dengan tatapan kagum. " mana kelihatan wajahnya natural banget lagi. "
" Haha loe aja yang pake make up setebal tembok. "
__ADS_1