
Dimas ingin mengikuti permainan Syifa tapi Syifa tak memberinya kesempatan. Dimas mulai kehabisan nafas sehingga dia mendorong tubuh Syifa.
" Kau mau.... " Mulut Dimas kembali terbungkam dengan permainan Syifa, Syifa ingin sekali tertawa dan mengejek Dimas, wajah Dimas memerah karena nafas yang mulai kehabisan nafas, ingin mengimbangi ciuman Syifa pun dia sudah tak mampu.
Syifa yang melihat wajah Dimas semakin memerah akhirnya melepaskannya.
" Huh huh huh... " nafas keduanya tak beraturan tapi Syifa seketika tertawa mengejek Dimas.
" Kau mau membunuhku yah, aku sudah kehabisan nafas kau masih saja seliar itu, aku pikir kamu tidak bisa berciuman tapi kamu malah sehebat itu. " omel Dimas dengan nafas yang masih tersengal.
" Salah siapa coba. " ucap Syifa membersihkan bibirnya yang basah. Kemudian kembali tertawa.
" Belajar dari mana bisa sehebat itu. "
Syifa tertengun dengan pertanyaan Dimas, ia juga baru pertama kali seperti itu, dengan langkah polosnya Syifa mengelengkan kepala tanda tak tau.
" Dasar cewek memang aneh. Kalau udah nyaman jadi hebat banget. " ejek Dimas.
" Ckk Bapak yang payah, dan yah kenapa bapak nyium saya. "
" Biar kamu nggak bilang kayak gitu lagi, apapun yang terjadi di masa lalu semua adalah takdir, Syifa. Papa hanya ingin kamu merasa mempunyai sosok ayah dan menebus kesalahannya dia telah salah menyanyangi oranglain dan orang yang harusnya dia sayangi ada di luar sana. " ucap Dimas menatap Syifa.
"Syifa!! Aku mohon kabulin permintaan Papa." sambung Dimas mengenggam tangan Syifa.
" Tapi bagaimana dengan Diana, Jika perhatian Papanya beralih padaku apa dia juga akan membenciku seperti dia pada Gina. Diana sudah seperti adikku aku sangat menyanyanginya aku ingin menjaga perasaannya. " ucap Syifa.
" Diana nggak akan benci sama kamu, selagi kamu perhatian dengannya dan tidak membullynya berbagi Papa bukanlah hal yang berat untuknya. " ucap Dimas.
__ADS_1
" Selama ini Papa sering jatuh sakit memikirkan Gina, itu karena Papa bersikeras fokus pada Gina, tapi Gina terus merepotkan Papa dengan berlebihan tanpa memikirkan kesehatan Papa. Mungkin dengan menjagamu Papa akan merasa lebih sehat karena mungkin itu pesan Ayahmu jika putrinya masihbdi luar sana. " ucap Dimas menarik Syifa dalam pelukannya.
" Baiklah aku akan memikirkannya. " ucap Syifa membalas pelukan Dimas.
.....
Menjelang siang Syifa, dan Dimas sekeluarga baru saja sampai di tempat makam orangtua Syifa.
" Assalamualaikum Ayah Ibu, Maaf Via baru mengunjungi kalian lagi. " ucap Syifa saat berjongkok di samping makam orangtuanya.
Syifa meletakkan bunga Camelia pink di makam kedua orang tuanya, Bunga Camelia pink yang menandakan kerinduan pada seseorang yang telah lama meninggalkan dirinya.
" Ayah Ibu Terima kasih atas semuanya kalian berkorban untuk Via, Via rindu Ayah, Via mau di peluk ibu. Olivia sayang kalian. " ucap Syifa dengan buliran air mata yang menetes membasahi pipinya.
Jika kemakam Ayah dan Ibunya Syifa memang menyebut dirinya sebagai Olivia karena sebelum Ayahnya meninggal itu adalah nama panggilan dari sang Ayah.
" Maafkan aku, karena aku putrimu menderita, andai saat itu aku langsung membawanya pergi dan merawatnya pasti hidupnya tidak akan seberat ini. Andai aku mencari bukti terlebih dahulu pasti aku tertipu dan putrimu sudah lama aku merawatnya. " ucap Papa Farhan yang dapat terlihat di matanya penuh penyesalan.
" Sekarang aku minta ijin untuk merawatnya, menjaga putrimu seperti kau menjaganya. Istrimu sudah bersusah payah melahirkannya dan kau sudah bersusah payah menjaganya tapi aku malah membuatnya menderita aku minta maaf. Maafkan aku. " ucap Papa Farhan.
Tiba-tiba Syifa dan Papa Farhan merasakan hembusan angin dingin tapi hanya mereka berdua yang merasakannya.
Syifa merasa ada sesuatu yang memeluk tubuhnya dan dia merasa dingin dengan pelukan itu tapi perasaanya menghangat.
" Kamu ingin di peluk ibu, Ibu datang nak, maafkan ibu yang terlalu cepat meninggalkanmu tapi di alam lain Ibu akan selalu melihatmu tumbuh menjadi gadis dewasa yang mempunyai hati yang lembut. " ucapan Itu terasa jelas di telinga Syifa.
" Ayah juga datang nak, Ayah juga sangat merindukanmu, Ayah dan Ibu bangga dengan apa yang kamu lakukan, Kamu jangan pernah merasa bersalah lagi karena apa yang terjadi dulu itu adalah tugas kami sebagai orangtua yang harus melindungi anaknya. "
__ADS_1
" Dan kamu selalu merasa kebahagiaan sulit datang padamu tapi percayalah tinggal beberapa langkah kebahagiaan ada di depan matamu nak. " ucapan itu seketika membuat Syifa membuka matanya.
" Ayah Ibu. " lirih Syifa melihat orangtuanya yang tersenyum.
Ayah Syifa melepaskannya dan memengang pundak Papa Farhan.
" Aku percaya padamu untuk menjaga putriku, sayangilah dia seperti kau menyayangi anakmu. Tapi jangan lupa kamu juga mempunyai anak jangan fokus pada putriku karena kamu juga memiliki 2 anak. Pastikan Putriku akan bahagia begitu juga anak-anakmu. " ucap Ayah Syifa dan saat kata terakhir terucap mata Papa Farhan juga terbuka dan melihat sosok itu.
Tiba-tiba sebuah sosok anak kecil yang mungkin berusia 10 tahun datang ke arah mereka.
" Syifa jangan pernah merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku, ini adalah jalan hidupku. Tetaplah berjuang untuk hidup seperti yang ayahmu katakan kebahagiaan sudah ada di depan matamu. Jika kamu ingin aku bahagia maka jangan merasa bersalah lagi agar aku tenang alam sana. Kamu bahagia di dunia dan aku akan bahagia di alam lain. " ucapnya yang tidak lain adalah Olivia.
" Jangan pernah merasa bersalah, dan berbahagialah. " ucap ketiganya mulai memudar dan hilang dari pandangan Syifa dan Papa Farhan dan seketika itu keduanya sadar.
" Papa, Syifa kalian kenapa. " ucap Dimas yang sedari tadi memanghil keduanya yang terus terdiam.
" Hah Ayah Ibu Olivia. Mereka tadi ada di sini. " ucap Syifa gemetar.
" Syifa istigfar kamu yang tenang." ucap Dimas mengelus rambut Syifa lembut.
" Papa juga merasakan kedatangan mereka. " ucap Papa Farhan membuat ketiganya akhirnya mengangguk paham.
" Mungkin kedatangan mereka ingin menyampaikan sesuatu. " ucap Mama Hani yang berusaha menenangkan Suaminya dan Syifa.
Mereka mengangguk dan membaca Al-Fatihah untuk mendoakan mereka.
" Kalian tunggu di sini aku akan ke makam Olivia, itu hanya ada di depan. " ucap Syifa.
__ADS_1
Syifa melangkah mendekati makam Olivia dan meletakkan bunga Camelia di sana dan tak lupa membaca doa.