
Setelah menunggu hampir 40 menit, Rian telah berada di perusahaan.
Syifa menunggu di depan lift, dan saat melihat Rian dia langsung mengomeli Rian.
Rian yang di omeli hanya bisa menunduk tanpa mengeluarkan sekata patahpun.
" Sekarang kak Rian harus minta maaf." ucap Syifa berkacak pinggang, Rian hanya mengangguk.
" Masuk sana. "
Rian berjalan melewati Syifa, kemudian mengusap dadanya.
" Huft akhirnya!!, Syifa galak amat sih. " gumam Rian.
Rian mengetuk pintu, setelah mendapatkan ijin masuk, dengan segera ia memasuki ruangan yang di sana masih ada mereka semua.
Tatapan semuanya mengarah pada mereka, Dimas dan Diana tentu menapatnya sinis.
" Hmm Diana boleh ngomong bentar, berdua. " ucap Rian bingung mau memulai bagaimana.
Diana tak menjawab.
" Tuh Syifa, dianya yang nggak mau. " ucap Rian menoleh ke belakang, dimana Syifa berdiri dengan bersandar di pintu.
" Jangan jadi pengecut, kalau pak Rian mau minta dengan adik saya, silahkan lakukan di depan saya. Saya nggak mau bapak buat adik saya nangis lagi. " ucap Dimas dingin.
" Ya udah pak Dimas ikut aja, tapi liatnya dari jauh. "
" Memangnya kenapa nggak di sini aja? Malu banyak orang? Takut harga dirinya turun?." sinis Candra yang ikut kesal, bagaimanapun juga Candra sudah menganggap Diana sebagai adikknya.
" Setidaknya saya ngerasa bersalah, saya datang ke sini untuk minta maaf, karena awalnya pasti itu candaan, kita berdua sama-sama melontarkan ejekan bagi saya itu candaan tapi nggak tau bagi Diana, sampai-sampai perkataan saya membuat persaannya terluka sampai membuatnya menangis tapi dia juga mengejekku tapi aku menanggapi dengan biasa, dan saya sadar dia wanita dan pasti hatinya rapuh. Saya sangat menghargai wanita dan jika saya menyakitinya bahkan dia ada di bulan pun saya akan datang dan minta maaf hingga dia memafkan saya, tapi jika kedatangan saya tak di hargai terserah." ucap Rian kesal karena kedatangannya tak di hargai.
Rian berbalik badan ingin keluar tapi di halangin Syifa.
" Kamu mau ikutan juga."
Syifa tak menjawab dia melihat Rian kemudian beralih ke arah Diana, memberi kode.
Diana yang paham maksud Syifa segera melangkah keluar melewati Rian dan Syifa.
__ADS_1
Rian melihat Syifa yang memberinya kode untuk mengikuti Diana, Rian pun hanya menurut.
Dimas hendak ikut tapi Syifa menahannya dengan telunjuk di dada Dimas. Perlahan Syifa mendorongnya.
" Syifa aku mau ikut, aku nggak mau adikku di buat nangis lagi. "
" Apa kak Rian seburuk itu di mata kamu. Kamu tenang aja dia nggak bakal lakuin hal seperti pikiran kamu. " ucap Syifa.
" Tapi Syifa... "
" Pokoknya nggak boleh!! " ucap Syifa berkacak pinggang. " Kunci mobil. " Syifa mengulurkan tangannya.
" Untuk apa? " Dimas bingung.
" Kunci mobil!! "
" Ini. "
" Dompet. "
Dimas mengerutkan keningnya tapi tetap memberikan.
" Handphone. " Syifa kembali mengulurkan tangannya dan Dimas menurut.
" Mba Nita ambilin Kunci mobil, dompet dan Handphone Pak Candra. "
" Aku juga. " ucap Candra menunjuk dirinya.
" Untuk apa."
" Ambilin aja Mba takutnya ntar mereka malah nyusul atau hubungin Diana. "
" Astaga.. " kompak Dimas dan Candra tapi tanpa di minta Candra memberikan semuanya pada Anita.
" Syifa ayolah aku mau nyusul Diana. "
" Diana nggak bakal kenapa-napa kalau dia kenapa-napa pak Dimas boleh minta apa aja ke aku."
" Oke kalau gitu, kalau ada jaminannya kan enak. "
__ADS_1
" Ckk Syifa ntar dia malah modus loh. " Candra mendekat mereka.
" Nggak papa karena aku yakin Diana nggak akan kenapa-napa. " ucap Syifa.
" Hey girs kita turun ke bawah yuk, makan. Lapar... "
" Iya aku juga, eh ayo kita ke bawah. " ajak Anita pada dua gadis yang sedari tadi diam saja.
" Iya kak tapi kita nggak ikut makan, soalnya sejam lagi kita ada kuliah. " ucap Gea
" Oo terus Diana gimana dong. "
" Kita semua beda fakultas kak." ucap Yumi membuat Syifa mengangguk.
" Ya udah ayo. "
" Kita nggak di ajak. "
" Jadi cewek dulu kalau mau. " ketus Syifa menarik para wanita itu.
Dimas menghela nafasnya mendengar ucapan Syifa sedangkan Candra mengelengkan kepalanya bingung.
" Eh semenjak Syifa habis keracunan dia jadi galak yah. "
" Iya padahal sebelumnya dia lembut. "
" Kayaknya ini salah satu efek samping racunnya itu."
" Ckk ngomong di pikirin dulu, kalau pun dia seperti ini itu justru tampak menggemaskan melihatnya marah-marah. " ucap Dimas tersenyum menatap kepergian Syifa yang menjauh.
" Dih dasar. Mungkin Syifa jadi se galak singa itu tetap manis di matamu. "
Dimas memicingkan matanya melihat Candra kemudian pergi.
" He mau ke mana. "
" Makan nyusul Syifa,bodo amat kalau dia ngomel. "
Candra mengelengkan kepalanya dan hanya mengikuti langkah Dimas.
__ADS_1