
Orang yang di tunggu sudah datang, hampir seluruh keluarga Gina berada di sana.
Dimas maupun Diana risih dengan kedatangan mereka, setiap mereka ada pasti ujung-ujungnya minta uang.
Berbeda dengan Syifa dia menatap beberapa orang yang ada di sana. Syifa merasa tidak asing dengan pria yang di perkirakan usianya 40 tahun. Syifa kembali memutar ingatannya dan menatap Papi Gina yang baru di sadari kalau ia juga terlihat mengenalnya.
" Mereka semua siapa, kenapa rasanya nggak asing. " batin Syifa.
" Aku harus tenang dulu, mungkin nanti aku akan mengingatnya. " batin Syifa menghembuskan nafas berkali-kali.
" Ada apa lagi sih Pa, kenapa mereka ada lagi. Atau mereka butuh uang lagi kita bukan bank Pa. " ketus Dimas. " Jangan mengira perusahaan sedang melesat tinggi Papa bisa memberi mereka uang lagi. rasa bersalah dan terus saja itu yang Papa ucapkan, ckk mereka udah kelewatan kali ini Dimas nggak setuju ."
" Hey kami datang ke sini dengan baik-baik, bukannya di sambut baik. " sinis salah satu dari mereka.
" Ckk emang benerkan, datang sebagai tamu ujung-ujungnya bila perlu uangbuat usaha, padahal bukan usaha justru bersenang-senang. " ucap Diana tak kalah sinis.
" Sudah!! Jangan ribut lagi. " ucap Papa Farhan.
" Dimas kedatangan mereka kali ini untuk membahas acara lamaran kamu dan Gina. Hari ini kita akan menentukan tanggal pernikahan kalian. "
" APA!! " Kompak Dimas dan Diana terkejut.
" Kali ini jangan memaksaku Pa, aku nggak mau dan nggak akan pernah mau. " ucap Dimas mulai emosi tampak wajahnya memerah. " Apa ini permintaan gila perempuan iblis itu. " ucap Dimas menatap tajam Gina.
" Kamu kok gitu, kamu harusnya senang dong sayang... " ucap Gina dengan manja dengan tersenyum penuh kemenangan melihat Syifa.
" Gina kau benar-benar gila. " bentak Dimas yang hendak memukul Gina yang kebetulan tak jauh darinya.
" Pak aku ngomong bentar. " ucap Syifa memengang tangan Dimas yang sudah melayang ingin menampar Gina.
Dimas menatap wajah Syifa kemudian tatapan mata keduanya bertemu dan itu berhasil meredakan amarah Dimas.
__ADS_1
" Mau ngomong apa. " ucap Dimas dengan lembut.
" Ikut aku bentar yah. Aku mau ngomong bentar aku mohon. " ucap Syifa menahan tangisnya setelah mengingat keluarga Gina yang pernah di lihatnya.
Dimas menyadari Syifa menahan tangisannya, Dimas menatap mata Syifa tampak ada takut dan terluka di sana tapi bukan takut atau terluka karena cemburu melainkan ada hal yang lain di sana.
" He kamu nggak tau malu yah, Dimas itu calon suamiku benarinya mendekatinya dasar pelakor. " ucap Gina mendapat tatapan tajam Dimas.
" Kita ngobrol di kamarku. " ucap Dimas mendapat anggukan Syifa.
" Kak aku boleh ikut. "
" Dek kamu tunggu di sini aja yah. " ucap Syifa mengelus lembut rambut Diana. Diana mengangguk.
" He kalian nggak bisa berada di ruangan berdua saja, apalagi kamu Dimas mempunyai Gina. "
" Jika ada salah satu di antara kalian ikut termasuk kau Gina jangan salahkan aku jika aku patahkan kakimu. " ucap Dimas dingin dan tampak serius.
Dimas mengandeng tangan Syifa dan membawanya masuk ke kamarnya.
Setelah menutup pintu kamar Syifa tanpa basa basi berbicara.
" Siapa keluarga Gina sebenarnya?, Apa maksudnya rasa bersalah Papamu? "
" Kamu mau menanyakan itu ternyata, memangnya ada apa?"
" Katakan saja!! "
" Maaf Syifa hal ini hanya di ketahui Keluargaku dan keluarga Gina, dan ini adalah masalah Papaku." ucap Dimas.
" Pak aku mohon." Syifa mengenggam tangan Dimas dengan tatapan sendunya.
__ADS_1
" Jangan menatapku seperti itu Syifa, meskipun sifat Papa telah berubah padaku dan Diana tapi aku tetap menyanyanginya, dia tetap Papaku dan aku tidak ingin melihatnya terus merasa bersalah. Papa selama ini memanjakan Gina, apa yang Gina inginkan pasti di turuti tapi Papa selalu merasa apa yang di lakukannya belum seberapa, Bahkan Papa selalu merasa ia belum melakukan apapun untuk Gina. " ucap Dimas.
" Apa yang telah Papamu lakukan pada Gina. "
Dimas menatap Syifa, dan mengelengkan kepala.
" Aku nggak bisa mengatakannya. "
" Baiklah, kalau gitu aku ingin bicara, Tiga orang dari keluarga Gina termasuk Papinya telah membunuh teman panti asuhanku di saat umurku 10 tahun. " ucap Syifa membuat Dimas terkejut.
" Saat itu aku baru saja ada di panti asuhan itu, kehilangan ayahku membuatku tak bicara dengan siapapun, akibat dari aku tidak pernah bicara membuatku bisu. Dan saat temanku yang bernama Olivia di bunuh oleh keluarga Gina itu terjadi di depan mataku. Mereka tidak membunuhku karena mereka tau aku bisu jadi tak mungkin melaporkannya. " sambung Syifa.
" Sampai sekarang bayangan itu ada di mataku, dan sampai sekarang juga aku tidak tau apa alsannya. Mungkin ini ada hubungannya dengan itu jadi ku mohon ceritakan. "
" Tapi jika kamu kamu masih tidak ingin mengatakannya, aku ucapkan lagi terus kenapa Papamu tidak merasa bersalah padaku? Padahal Papamu telah membuatku kehilangan seseorang yang begitu berharga di hidupku tapi aku diam dan berusaha untuk ikhlas karena itu sudah bertahun-tahun, dan aku sadar Papamu tidak sengaja waktu itu. Apa kesalahan Papamu pada Gina sehingga Papamu terus merasa bersalah seperti ini?" ucap Syifa membuat Dimas semakin terkejut.
" Apa kesalahan Papa yang kamu maksud. " tanya Dimas penasaran.
Syifa memalingkan wajahnya dan mulai menjatuhkan air matanya.
Dimas menangkup pipi Syifa pandangan mereka kembali bertemu.
" Hey kenapa kamu nangis, katakan apa kesalahan Papa. "
" Ayah hiks hiks ayahku... " ucap Syifa terus saja menangis, dan mengulang kata Ayah tentu saja itu membuat Dinas bingung.
" Sekarang jangan tanyakan itu, aku nggak akan sanggup hiks hiks tolong katakan siapa Gina sebenarnya. Sekarang lebih baik kita bahas masalah temanku Olivia. " ucap Syifa.
Dimas menghela nafas, kemudian mengangguk.
" Jadi dulu itu Papa...
__ADS_1