
Syifa baru saja mendapat telfon dari Dimas dan terdengar jelas kalau Diana sedang menangis menyebut namanya. Mendengar itu Syifa segera beranjak dari apartementnya.
Di perusahaan Dimas, Candra, Anita, Yumi dan Gea berusaha menenangkan Diana yang terus saja menangis, dan ia terus mengatakan aku mau kak Syifa.
" Kak Syifa mana... hiks hiks Diana mau kak Syifa. " teriak Diana.
" Iya dek bentar lagi dia datang. " ucap Dimas menenangkan adiknya.
Meskipun masalah kecil, jika Diana sudah menangis akan sulit di tenangkan, Dimas bahkan heran waktu di rumah sakit dengan mudahnya Syifa bisa menenangkan Diana.
Syifa baru saja masuk di perusahaan, semua mata tertuju padanya baru kali ini di depan orang-orang Syifa tidak berpakaian formal, pakaiannya layaknya seorang remaja dengan kaos putih polos sesiku, rok pink tiga jari bawah lutut selutut dengan pita di depan perut dan sepatu putih dan rambut yang di biarkan terurai.
" Mbak saya mau bertemu dengan Diana adiknya pak Dimas, apa dia masih ada di atas. " tanya Syifa.
" Hmm iya, Pak Dimas sudah menunggu." ucap resepsionir.
" Kalau begitu saya permisi, makasih. " ucap Syifa segera masuk lift.
Tingg...
pintu lift sudah berada di lantai paling atas tanpa menunggu lagi Syifa berlari ke arah ruangan Dimas.
Tanpa mengetuk Syifa langsung membuka pintu.
" Diana. " ucap Syifa langsung menghampiri Diana, sementara semua orang melonggo melihat penampilan Syifa.
" Diana kamu kenapa menangis lagi? Siapa yang lakuin ini? " tanya Syifa dengan nafas yang masih di atur.
__ADS_1
" Ini kak Syifa.? "tanya Diana.
" Iya siapa lagi. "
" Kamu kembali ke remaja umur 17 Syifa? "
" Nggak lah umurku sudah 23 tahun. "
" Huaa cantik banget, kak Syifa itu kakak aku apa adek aku sih. " ucap Diana.
" Syifa dia cantik sekali, baru berpenampilan kayak gitu dia sudah seperti bidadari gimana kalau lebih dari itu hah sainganku akan lebih banyak ." batin Dimas memperhatikan Syifa
" Astaga Diana nggak usah lebay, udah kamu kenapa nangis. "
" Om tua Bangka yang jodohnya genderuwo itu ngejekin aku. " adu Diana membuat semuanya bingung kecuali Yumi dan Gea.
" Nggak tau kak, tapi orangnya ganteng pake banget, kita tadi ketemu di supermarket dia nggak sengaja nabrak dan mulailah pertengkaran mereka. " ucap Gea.
" Iya kak dan sepertinya seumuran kak Dimas."
" Oo kak Rian yah? " ucap Syifa membuat Diana mengangguk.
" Coba cerita ejekannya ada apa jangan ada yang di kurangi dan di tambah. "
" Jadi.... " Diana menceritakan semuanya dan sesuai perkataan Syifa tidak ada yang di kurangi atau di tambah.
Mendengar cerita Diana, Syifa Dimas Candra dan Anita tertawa terbahak-bahak memangi perut, dan Yumi Gea hanya tertawa kecil.
__ADS_1
" Hmm hiks hiks kenapa malah ketawa sih. "
" Dek dek kamu kayaknya udah punya teman yang sama-sama bawel, nggak ada yang mau ngalah jadi kalau di lihat pasti seru haha... " ucap Dimas tertawa.
" Hiks Kak Dimas jahat banget malah ketawa. "
" Diana kalau kamu berantem sama Kak Rian dan saling ngejek-ngejek gitu dan perkataan Rian jangan pernah di masukin di hati. karena itu bercanda dan karena kamu menangis lihat saja bagaimana dia akan minta maaf. " ucap Syifa.
" Dulu dia juga pernah seperti itu padaku dan sampai membuatku menangis tapi dia nggak akan pernah tenang kalau udah buat cewek nangis. "
" Dan satu hal kamu memang gendut tapi justru kelihatan manis itu tipe cewek yang Kak Rian suka. dia pernah mengatakan suka sama aku tapi dia mengataiku terlalu kurus dan menyuruhku jadi gendut itu membuatku menolaknya hahaha... " ucap Syifa tak tahan tawa mengingat bagaimana konyolnya Rian.
" Hi apaan sih kak, dia itu rese aku membencinya. " ucap Diana yang wajahnya memerah karena malu mendengar ucapan Syifa.
" Jadi apa aku harus mengomelinya. " ucap Syifa membuat Diana mengangguk.
" Baiklah aku akan menyuruhnya ke sini dan mengomelinya lalu minta maaf padamu. "
Syifa tanpa menunggu jawaban Diana sudah keluar ruangan menelfon Rian.
" Yah kak aku nggak mau ngomong sama dia. " Diana ingin mengejar Syifa tapi di halangi Dimas.
" Sudah biarkan saja aku ingin melihat bagaimana dia akan minta maaf dan bertanggung jawab, dan kamu jangan cepat memaafkannya. " ucap Dimas.
" Tapi kak... "
" Diam... "
__ADS_1
" Ikh nyebeliin gua benci si tua bangka itu, aku nggak mau ngomong sama dia. " batin Diana.