BERAWAL DARI MONAS

BERAWAL DARI MONAS
PANTI ASUHAN


__ADS_3

Setelah selesai mereka meninggalkan tempat itu. Mereka menuju panti asuhan di mana Syifa dulu di rawat dan di besarkan dulu.


Mobil mereka sudah berada di depan panti asuhan, tampak di luar sana anak-anak bermain, anak laki-laki yang mungkin berusia di atas 5 tahun bermain bola sedangkan anak perempuan terlihat asik bermain boneka di bawah pohon mangga.


Dan di teras rumah terdapat Bubda panti asuhan yang sedang menggendong bayi yang kira-kira berusia 4 bulan, dan di sekitarnya anak-anak yang mungkin berusia 2-3 tahun sedang bermain boneka dan mobil-mobilan.


Syifa tersenyum melihat mereka, Begitu juga saat melihat Bunda panti asuhan yang di kenalnya tak lelah merawat anak panti sendirian, meskipun suaminya telah meninggal 3 tahun dia terlihat tetap semangat.


" Ayo turun. " ucap Syifa turun dari mobil di ikuti yang lainnya.


Saat Syifa baru saja turun tiba-tiba sebuah teriakan membuat semua orang menoleh ke arahnya.


" Akh Kak Syifa datang. " pekik seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang tadinya bermain bola langsung berlari ke arah Syifa.


Semuanya pun ikut berlari ke arah Syifa kira-kira hampir 20 anak mengerumuni Syifa.


" Yeh Kak Syifa datang. " sorak mereka, Syifa tersenyum dan memeluk mereka rasa rindu tentu saja ada.


" Ya ampun kalian belum setahun kakak tinggalin udah pada gede aja. " ucap Syifa memberi kecupan manis pada mereka, tak peduli keringat dan baunya Syifa tetaplah menyayangi mereka.Mereka tertawa dan saling berpelukan.


" Bunda Syifa kangen. " ucap Syifa dengan nada manjanya dan memeluk Syifa.


" Hmm Bunda juga kangen. Kamu lama banget nggak berkunjung. "


" Hehe Syifa sibuk Bunda, Bos Syifa dulu nggak pernah ngasih ijin. " ketus Syifa melirik Dimas.


" Yah malah aku di salahin, kamu memangnya pernah minta. "


" Pernah tapi bapak bilang kalau kita berdua waktu itu harus ke Rusia untuk resmiin cabang perusahaan. "

__ADS_1


" Cuma waktu itu kan. "


" nggak kok, pernah juga yang lain, karena ada alasan mulu makanya udah nggak lagi. " ketus Syifa.


" He Syifa sudah, ayo masuk semuanya. "


" Bentar Bunda, Syifa bawa hadiah buat adik-adik Syifa yang lucu ini. Tapi harus ngantri yah yang namanya kakak sebut baru maju oke. "


" Oke. " kompak mereka.


Dimas membuka bagasi mobil dan membantu Syifa membagikan hadiahnya, senang itulah yang di rasakan anak-anak karena apa yang mereka dapat adalah hal kesukaan mereka. Syifa sangat hafal kesukaan adik-adiknya jadi dia membeli dan memberi nama setiap bungkusnya.


" Ini pasti Aska kan Bun. "


" Iya. "


" Halo Aska masih kecil kenapa kamu bisa seganteng ini. " ucap Syifa mengambil alih mengendong Aska dan memberinya ciuman pada wajah, perut dan leher. Aska tertawa geli mendapat ciuman Syifa.


" Aku nggak di ajak. "


" Bodo. " ucap Syifa menarik tangan Diana dan mengendong Aska di tangan lainnya.


" Uh sabar ya Kak." ejek Diana.


Dimas menatap adiknya kesal.


" Sudah Dimas ayo masuk. " tegur Papa Farhan.


" Iya Pa. "

__ADS_1


Di ruang tamu mereka banyak berbincang-bincang tak lupa bagaimana kehidupan Syifa baik dari Ibu panti maupun dari Dimas.


Bunda panti tersenyum saat mengetahui Syifa tak dendam pada Papa Farhan dan justru nenolongnya dari penipuan.


Syifa dan Diana tidak ada di sana mereka ikut bermain dengan anak panti.


" Itulah salah satu keistimewaan Syifa, meskipun orang-orang jahat padanya tapi dia selalu memaafkan orang itu. Bahkan setelah orang itu meminta maaf yang dia berikan adalah senyuman manisnya. " ucap Bunda panti.


" Oiya Bu, kata Syifa dia pernah bisu waktu ayahnya meninggal terus gimana dia dapat suaranya lagi. " Tanya Dimas tiba-tiba


" Oo itu dulu saat Ayahnya meninggal dan di bawa ke panti ini suaranya memang sudah tidak ada, kata dokter karena ada trauma dan dia tidak mau bicara dengan siapapun akhirnya suaranya hilang saat dia udah mau ngomong."


" Saat kematian Olivia dia berusaha menjelaskannya tapi kita nggak paham dan saat itu dia selalu syook dan bahkan sampai pingsan itu membuat rasa traumanya semakin menjadi-jadi. Beberapa bulan berikutnya dua anak panti sedang bermain di bawa pohon mangga itu dan Syifa sadar kalau dahannya akan rubuh dia memanggilku dan menunjuk ke arah sana tapi saya nggak paham. Saat suara terdengar akan rubuh Syifa dengan cepat berlari ke sana dan berteriak ' Awas' dan kata itu dia berhasil menarik kedua temannya dan saat itu aku baru paham dan menenangkan ketiganya. Ada rasa senang akhirnya Syifa mendapat suaranya kembali." jelas Bunda panti sambil menatap Syifa haru yang sedang bermain bersama anak panti.


" Rasa trauma akan kehilangan seseorang yang membuat suaranya menghilang tapi rasa trauma itu juga yang membuat suaranya kembali. " sambung Bunda panti.


Dimas, Papa dan Mama tersenyum mendengar cerita Bunda panti, duka dan kesedihan Syifa selalu tertutupi dengan senyuman manisnya.


" Huh astaga capek banget. " ucap Syifa dan Diana bersamaan.


" Makanya ingat umur, kalian udah bukan anak kecil yang energinya masih banyak. " ejek Dimas.


" Kakak pikir kita setua apa, sampai bilang ingat umur. "


" Pak Dimas lebih tua dari kita, enak aja bilangin kita kayak gitu. "


" Salah mulu kalau aku yang ngomong. " gumam Dimas yang di dengar Papanya.


" Cewek memang selalu benar. " bisik Papa Farhan terkekeh membuat Dimas ikut tertawa.

__ADS_1


" Ekhm Pa kita denger loh. " kompak Mama dan Diana dengan menatap tajam dan sontak Papa dan Dimas terdiam dan sukses membuat Syifa tertawa.


Tawa Syifa terhenti saat mendengar suara isakan Aska dari kamar, belum sempat Bunda berdiri dari duduknya Syifa sudah berlari masuk ke kamar Aska.


__ADS_2