BERAWAL DARI MONAS

BERAWAL DARI MONAS
DIMAS MENYEBALKAN


__ADS_3

Bunda panti mengelengkan kepalanya, kelakuan Syifa yang satu ini tak berubah.


" Bu, Apa Syifa udah biasa ngurusin bayi? "


" Udah biasa bahkan baru tamat sekolah dasar aja dia udah pinter ganti popok adik-adiknya." ucap Bunda panti.


" Ikh kalau aku udah jijik apalagi masih kecil gitu. " ucap Diana.


" Itu Syifa bukan kamu dek, kalau kamu gendong bayi aja nggak pernah. Palingan cuma anak kecil itupun usianya udah 3 tahunan. " ucap Dimas.


" Emang kakak udah pernah gendong bayi. Kakak juga nggak pernah kan. " sinis Diana.


" Huh kalian bisa nggak, di depan orang lain jangan berantem. " tegur Mama Hani pusing dengan kelakuan anaknya. Keduanya terdiam tapi saling melempar tatapan tajamnya.


Papa Farhan mengelengkan kepalanya anak-anaknya selalu bertengkar bahkan Dimas sangat sering membuat Diana kesal sampai menangis tapi pada akhirnya dia juga membujuknya. Bahkan jika ada yang melukai Diana apalagi membuatnya sampai menangis barulah sosok kakaknya muncul.


Itulah yang membuat Papa Farhan lucu sendiri dengan tingkah anak-anaknya, mereka saling meledek tapi jika salahsatunya terpojok keduanya menjadi sangat kompak dan membela satu sama lain.


Sore menjelang malam harinya Syifa terbangun dan sadar kalau dia masih berada di panti asuhan. Dengan langkah cepat dia keluar dan melihat Dimas yang tertidur di sofa ruang tamu.


" Om Tante Diana, mereka kemana. Cuma pak Dimas di sini. " ucap Syifa.


" Mereka tadi sore udah pulang duluan, kamu ketiduran tadi jadi nggak tega bangunin. Dimas tuh nungguin katanya nanti ada yang jemput, bilangnya kalau udah magrib mereka udah sampai di sini. " ucap Bunda dari belakang.


" Eh Aduh Bunda bikin kaget aja. Kenapa Syifa nggak di bangunin aja sih Bund. " ucap Syifa.


" Hmm jadi Bunda nih yang salah. " Bunda berkacak pinggang.


" Hehe nggak Bunda. " Syifa cengegesan.


Syifa melangkah mendekati Dimas yang tertidur.


" Pak bangun, pak Dimas ini bentar lagi mau magrib bangun dulu. " Syifa menepuk pipi Dimas


" Emm... " Dimas mengucek-ngucek matanya.


" Eh Syifa udah bangun, Ini udah mau magrib Candra udah dateng?" suara serak khas bangun tidur.


" Astaga suaranya jantan banget. " ba tu in Syifa mendengar suara serak Dimas.


" Emm belum bapak baru bangun udah banyak ngomong aja. " ucap Syifa duduk di samping Dimas


" Hmm bangunin kalau mereka udah dateng. " ucap Dimas kembali tidur di pangkuan Syifa dan melingkarkan tangannya di pinggang Syifa, dan Dimas menghadap ke arah perut Syifa.


" Eh Pak ikh nggak sopan banget sih main tidur aja. " omel Syifa mendorong tubuh Dimas tapi Dimas semakin menguatkan pelukannya.


" Hmm dasar anak muda jaman sekarang. " Bunda mengelengkan kepalanya dan meninggalkan keduanya.


" Jangan berisik, aku ngantuk. " ucap Dimas Syifa pun akhirnya pasrah.


Beberapa menit suara klakson mobil terdengar di depan panti asuhan. Syifa ingin bangun dan mengeceknya tapi Dimas justru mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


" Pak mungkin itu jemputan kita. " ucap Syifa berusaha melepaskan pelukan Dimas.


Tok tok tok...


" Nah tu kan Pak lepasin. " ucap Syifa tapi tak mendapat respon apapun dari Dimas.


" Pak Dimas... " Syifa menarik telinga Dimas karena kesal.


" Aw... sakit. " ucap Dimas bangun dan memengangi telinganya yang di jewer Syifa. Syifa menatapnya tajam kemudian bangun dan membuka pintu.


" Eh Pak Candra Mbak Nita, silahkan masuk. "


" Kalian ngapain sih, lama banget buka pintunya. " Ketus Candra masuk dan duduk begitu saja di samping Dimas.


" Sopanlah sedikit. " ucap Anita menengur Candra.


" Mereka ngeropotin kita, malah nyuruh jemput ke sini kayak nggak ada yang lain aja. " ucap Candra kesal.


" Hey Candra, Aku kan cuma nyuruh kamu, kenapa Anita di bawa-bawa. "


" Masa iya aku pergi sendiri, dan jemput kalian berdua yang ada jadi obat nyamuk dong. " ucap Candra. Syifa menatap kesal ke arah Candra, sedangkan Dimas dan Anita tersenyum.


" Kita langsung pulang aja. " ucap Dimas.


" Yah baru aja kita sampai. " keluh Candra


" Nggak usah bawel. " ucap Dimas.


" Aku ijin sama Bunda dulu. " ucap Syifa mendapat anggukan Dimas.


" Loh kok udah pulang aja. "


" Nggak tau tuh Pak Dimas udah mau pulang. "


" Hmm Ya sudah. hati-hati di jalan. "


" Iya Bunda. "


" Oh iya tunggu bentar, Tadi Bunda ngobrol dengan nak Dimas dan orangtuanya awalnya Bunda nanya sih, mereka punya tujuan apa dan saat mereka ucapin Bunda salah tingkah soalnya salah paham. " ucap Bunda panti terkekeh.


" Memangnya Bunda kira mereka mau ngapain."


" Bunda kira kamu mau nikah dan mereka datang ke sini buat izin sama Bunda. Soalnya orangtuanya juga datang jadi Bunda salah paham hehe. " ucap Bunda panti.


" Apaan sih Bunda. Syifa belum kepikiran nikah, umur Syifa masih terbilang mudah. " ucap Syifa dengan wajah memeras merona.


" Hehe waktu Bunda bilang kek gitu, Dimas langsung bilang doain aja dalam waktu dekat kita kembali dengan tujuan yang ibu maksud. terus kami semua ketawa, orangtuanya juga setuju. " ucap Bunda panti menggoda Syifa.


" Ha?! Dimas kampret itu ngomong gitu. " ucap Syifa.


" Kalau menurut Bunda kalian cocok, Dimas juga orangnya baik dia bahkan sangat baikndengan adik-adikmu. " ucap Bunda.

__ADS_1


" Bunda... "rengek Syifa.


" Kayaknya Dimas juga tulus sayang sama kamu, kalau kamu gimana? Gimana perasaan kamu sama nak Dimas. "


" Ikh Bunda. Syifa mau pergi Assalamualaikum. " ucap Syifa mencium punggung tangan Bunda panti kemudian pipinya lalu beranjak pergi dengan wajah kesal dan wajah merona malunya.


Bunda Panti terkekeh melihat respon Syifa.


" Syifa, nak semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaan dan Bunda liat kebahagiaan itu ada pada diri Nak Dimas." ucap Bunda panti menatap punggung Syifa yang menjauh.


Syifa, Dimas, Candra dan Anita sudah berada di dalam mobil, Syifa tak berbicara sepakatah pun meski di ajak bicara dan jika Dimas yang mengajaknya bicara bahkan menyentuhnya Dimas mendapat tatapan horor dari Syifa.


" Syifa kamu kenapa sih, kayak kesel gitu." ucap Anita.


" Ekhmm Pak Dimas nyebellin." ucap Syifa mendorong tubuh Dimas yang berada di sampingnya.


" Lah kok aku sih, aku salah apa lagi. "


Syifa diam dia menatap horor pada Dimas, rasanya ingin sekali Syifa mencakar wajah tampan Dimas saking kesalnya.


" Hey aku tau aku tampan, tapi kamu nggak perlu menatapku terus-terusan. " ucap Dimas dengan gaya coolnya membuat Syifa semakin kesal.


" Ikh pak Dimas... " Syifa geram dan mengigit punggung tangan Dimas.


" Akhh sakit sakit Syifa... " ucap Dimas.


Candra dan Anita tertawa melihat interaksi kedua orang yang duduk di belakangnya.


" Kamu kenapa sih. "


" Pak Dimas kenapa ngomong kayak gitu sama Bunda. "


" Ngomong apaan? "ucap Dimas bingung.


" Doain aja dalam waktu dekat kita kembali dengan tujuan yang ibu maksud. " ucap Syifa dengan tatapan horornya,Dimas pun langsung paham dan justru memberi senyuman sombongnya.


" Kenapa ada yang salah. "


" Jelas salah pak. "


" He lagian Bunda panti yang berfikir seperti itu. " ucap Dimas santai.


" Tapi maksud bapak respon gitu kenapa. " geram Syifa.


" Ya kan aku udah bilang kayak gitu dan aku pastiin akan ku tepati. oke. " ucap Dimas sombong.


Syifa bertambah kesal dan memukuli Dimas, Dimas terus berusaha menghindar dan ingin menangkap tangan Syifa tapi gerakan pukulan Syifa cukup lincah untuk Dimas tangkap.


Candra yang risih karena mobil terguncang menghentikan mobil di pinggir jalan.


" Diam!!! stop!! ." ucap Candra dan Anita bersamaan dan memberi keduanya tatapan tajam.

__ADS_1


Syifa dan Dimas diam dan saling menatap keluar jendela.


" Dimas kau sangat menyebalkan. " batin Syifa.


__ADS_2