BERAWAL DARI MONAS

BERAWAL DARI MONAS
DIANA #2


__ADS_3

Diana mengambil botol racunnya dengan menggunakan tisu.


" Ikut denganku sekarang." ucap Diana pergi di ikuti pelayan yang menunduk malu mendapatkan tatapan sinis dari rekan kerjanya.


" Nona jika anda ingin membawa saya ke kantor polisi saya akan ikhlas tapi biarkan saya melihat anak saya selesai operasi. Saya mohon... "


" Aku tidak akan membawamu ke penjara tapi tidak tau kak Syifa ataupun kak Dimas lihat saja nanti. Aku hanya ingin kamu kembalikan uang orang itu untuk biaya pengobatan anakmu biar saya yang urus kasian kalau di obati dengan uang tak jelas. " ucap Diana ketus.


Pelayan itu hanya bisa pasrah.


" dan ingat kembalikan uangnya didepan semua orang, anak buahku akan membawamu nanti dan saat itu lakukan sesuai peritahku. " ucap Diana pelayan itu hanya mengangguk.


" Harusnya kamu berfikir, jika dia di laporkan polisi hanya hitungan jam saja dia berada di penjara sedangkan kau akan tinggal di sana. Ckk berfikirlah sebelum melakukan. " ketus Diana.


Sampai di rumah sakit Diana langsung menuju laboratorium dan menyerahkan botol racun itu, setelah itu ia langsung menuju ruang rawat Syifa.


" Diana kenapa kamu minta kami semua ke sini. " ucap Dimas saat melihat sang adik masuk ruangan.


" Ya aku sudah tau siapa dalang yang membuat kak Syifa seperti ini dan racunnya sedang di periksa di laboratorium . "


" Apa!!!"


" Hmm aku tau kamu pasti bisa pecahin masalah ini. " ucap Syifa.


" Iya dong kak. Kan aku udah janji bakal temuin orang itu dan kakak tau nggak pelakunya itu pelayan yang di bayar mak lampir. " sinis Diana. " kak Syifa taukan mak lampirnya siapa. "


" Hmm aku tidak menyangka dia bakal lakuin hal murahan seperti itu untuk menyingkirkannku. " ucap Syifa.


" Siapa sih mak lampir itu. " tanya Anita yang penasaran.


" Nanti kalian bakal tau. "


" Jangan-jangan kamu sendiri lagi dan nuduh oranglain. " ucap Rian. " kan kita udah cari bukti tapi nggak dapat kenapa kamu bisa dapat. "


Mendengar tuduhan Rian, Diana membuka mulut dan mata lebar.


" Ehh pak Rian jangan asal nuduh adek saya. "


" Saya hanya curiga dan itu pantas. "

__ADS_1


" Ikh nyesel gua kemarin bilangin ganteng sampai-sampai bilang Suami masa depan. Bukannya gua di puji malah di tuduh. " ketus Diana " ehh Om Rian denger yah, Om aja yang bodoh hal semudah ini nggak bisa di pecahin. Saya sebenarnya nggak mau ngejek Om tapi karena Om nuduh ya udah kata-kata saya harus lebih pedas. " sinis Diana.


" Eh anak kecil aku dan kakakmu itu seumuran berani sekali kamu panggil saya Om. "


" Salah sendiri asal nuduh orang, dan Om itu kelihatan udah tua jadi cocok kalau di panggil Om aja. " ejek Diana membuat Rian geram.


" Kak Rian kalau sampai nyentuh apalagi nyakitin Diana aku nggak bakal maafin kakak. " ucap Syifa saat melihat Rian mendekati Diana.


Rian mengurungkan niatnya setelah mendengar ancaman Syifa, sedangkan Diana menjulurkan lidahnya mengejek Rian.


Mata Diana tertuju saat melihat Gina gugup dan menuju pintu keluar.


Blamm....


Dengan cepat Diana menutup pintu itu kembali.


" Tidak ada yang boleh keluar!! " ucap Diana.


" He gua mau ke toilet. "


" Ada toilet kan di ruangan ini. "


" Ya gua...gua mau pake toilet di luar. "


" Dasar anak kecil, apa dia benar sudah tahu. " batin Gina


Tok tok tok...


Diana membuka pintu dan menampilkan seorang dokter.


" Hasil laboratoriumnya sudah keluar dan kami sudah mengetahui jenis racunnya jadi kami akan langsung menindak lanjuti pengobatan pasien. "


" Baik dokter lakukan sekarang saja. "


" Baiklah kalian bisa keluar sementara kami merawat pasien."


Semuanya menurut untuk keluar. Lagi -lagi Gina ingin pergi tapi di tahan Diana.


" Sebelum pergi ada yang ingin menemuimu. "

__ADS_1


" Sekarang kalian ke sini. " Diana sedikit berteriak.


Gina semakin gugup saat melihat pelayan yang di bayarnya kemarin muncul di depannya.


" Apa orang yang menyuruhmu menaruh racun di makanan kak Syifa ada di sini. "


" Iya nona. "


" Kalau begitu kembalikan uangnya. "


Gina menatap pelayan itu dengan tajam tapi tetap saja pelayan itu mendekatinya dan menyodorkan amplop coklat tebal.


" Gina!! " kompak mereka bersamaan.


" Gua nggak nyangka loe bakal lakuin hal seperti ini. " ucap Anita sinis.


" It-itu bukan gua, bisa aja dia membayar pelayan untuk menuduhku. "


" Hmm gitu yah. Botol racunnya juga udah aku selidiki sidik jari siapa saja yang ada di sana. Dan itu hanya ada 2 sidik jari kau dan pelayan ini. " ucap Diana. " dan seberapa pun usahamu menghapus rekaman CCTVnya hanya dengan sekali petikan jari aku sudah mendapat rekaman itu kembali. " ucap Diana tersenyum penuh kemenangan.


Diana memutar video CCTVnya dan membuat Gina tak bisa berkutik.


Plakkk....


Sebuah tamparan melayang pada Pipi Gina. " Loe emang nggak punya otak yah, kenapa loe bisa sekejam ini. " ucap Dimas emosi.


" Kamu... kamu menamparku. "


" Kenapa, apa kau menginginkannya lagi. !!!!"


" Ckk dasar menjijikan, bagaimana mungkin ada wanita sepertimu hidup di dunia ini. " ucap Rian.


" Candra telfon polisi. "


" Si... " ucapan Candra terpotong karena Diana.


" Polisinya udah ada kok. "


Dan muncullah dua polisi pria.

__ADS_1


" Hmm kau gila yah, kau pasti taukan Papamu sendiri yang akan membebaskanku. " ucap Gina sinis.


" Ya aku tau Papa akan membantumu bebas tapi aku mempunyai banyak followers dan aku bisa membuatmu malu dengan memposting fotomu di tangkap polisi. " ucap Diana mengambil foto Gina.


__ADS_2