
" Kenapa kalian diam saja. " gertak Dimas.
" Kami minta maaf pak. " ucap mereka mulai ketakutan.
" Sepertinya bukan itu yang saya denfar kemarin. "
" Kami minta maaf pak. Kami juga minta maaf kepada Bu Syifa dan Bu Anita. " ucap salah seorang.
Dimas dan Candra menoleh ke arah Anita dan Syifa yang saat ini tengah berbisik di landa kebingungan.
Wajah bingung itu terlihat menggemaskan pada keduanya. Seulas senyum muncul di wajah Dimas dan Candra.
Tapi mereka sadar berada di depan banyak karyawan.
" Ekhmm... " deheman Candra membuat Syifa dan Anita menoleh dengan senyum canggungnya.
" Kalian berbisik kenapa? " tanya Candra.
" Bapak tadi marah baru pertama kali saya liatnya saya bilang ke Anita kalau bapak itu ternyata kalau marah serem. " ucap Syifa cepat tanpa sadar.
" Astaga Syifa. " gumam Anita
" Ehh salah ngomong yah. Aish nih mulut." Syifa memukul pelan bibirnya.
Sementara itu Candra hanya melotot tak percaya dengan ucapan Syifa yang asal ceplas ceplos sangat berbeda jika sedang meeting dia seperti bos yang sangat tegas.
Sedangkan Dimas hanya tersenyum tipis selain ucapan Syifa wajahnya yang tampak bersalah karena ucapannya terlihat begitu manis.
" Syifa, Nita kalian urus mereka. " ucap Dimas.
__ADS_1
" Dan satu hal untuk kalian, jangan pikir Syifa ataupun Anita mengadu pada kami, kami mendengar ucapan kalian. Kalau kalian tidak mengikutsertakan nama kami itu tidak masalah selagi mereka berdua tidak mengadu. " ucap Dimas pergi meninggalkan mereka.
Mereka hanya menunduk mendengar penuturan Dimas.
" Lah kalau gua langsung suruh masuk aja, kalau kamu Nita mau apain mereka. " tanya Syifa.
" Terserah kamu aja, toh yang paliang mereka hina kemarin kamu. "
" Baiklah.!! Pak Candra.!!" Pqnggil Syifa membuat Candra menoleh.
" Nggak pa pa kalau kita suruh mereka masuk saja, kasian udah panas perawatan mereka pasti mahal hihi... " bisik Syifa membuat Candra dan Anita yang mendengarnya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
" Terserah kalian toh mereka udah minta maaf. " ucap Candra masuk.
Dan tinggalah Anita, Syifa dan kerumunan karyawan wanita itu.
" Kalian sekarang bisa masuk soal kemarin lupakan saja. " ucap Syifa tersenyum.
" Ayo kalian silahkan masuk. " ucap Anita masuk terlebih dahulu sambil menggandeng Syifa.
Mereka pun hanya menurut langsung memasuki kantor dan segera ke tempat masing-masing.
Syifa dan Anita sudah berada di lantai paling atas, keduanya masuk ke ruangan masing-masing.
Syifa menoleh ke arah tempat Dimas dan terlihat di sana ia sedang sibuk dengan beberapa berkas, Syifa tersenyum melihat Dimas.
" Dia bener bos terbaik, dia menegakkan keadilan di kantornya. " gumam Syifa.
Dimas yang mengetahui keberadaan Syifa mendonggakan kepalanya dan tersenyum.
__ADS_1
Syifa membalas senyumannya dan sedikit membungkuk lalu duduk di kursinya.
" Syifa kemarilah. " panggil Dimas membuat Syifa segera mendekat.
" Iya pak. "
" Duduk. "
" Ada apa yak pak. "
" Nggak cuma mau tanya kenapa kamu suruh mereka masuk gitu aja. " tanya Dimas.
" Nggak boleh yah pak. "
" Bukan itu kan sudah ku serahkan padamu jadi terserah kamu, tapi aku cuma mau tau alasanya kenapa. "
" Yak saya nggak tau mau apain mereka, lagian juga udah minta maaf terus matahari udah mulai panas kan kasian mereka keringatan kan ntar mereka bau keringa parfum yang mereka pakai. kan jadi aneh ntar baunya. " ucap Syifa polos membuat Dimas tertawa dan kemudian mencubit pipi Syifa karena gemas.
" Augh pak kenapa saya di cubit, apa yang saya omongin itu salah yah. maaf. " memengang kedua telinganya.
Dimas kembali tertawa terbahak -bahak melihat kepolosan Syifa.
" Syifa udah cukup jangan gitu lagi. " Dimas menarik kedua tangan Syifa kemudian mengelus kepala Syifa lembut.
" Kamu nggak salah hanya saja aku gemas melihatmu. " ucap Dimas masih mengelus kepala Syifa. " Sudah kembali ke tempatmu. "
" Iya pak saya permisi. " ucap Syifa segera pergi.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA MEMBERI DUKUNGAN DENGAN CARA LIKE, COMENT, VOTE.