
"Tidak pak makasih, ponsel saya juga udah lama udah butut dan bapak menggantinya dengan ponsel mahal jadi saya tidak mau menerimanya. " ucap Syifa memberikan ponselnya kembali kemudian pergi.
" Syifa aku mohon maafin aku. Syif... " Dimas terus memohon dan mengikuti langkah Syifa kali ini dia berusaha bersabar .
" Syifa kamu mau ke mana. " ucap Anita ikut mengejar.
" Aku mengundurkan diri mbak. "
" Loh Syif pikirin dulu bukannya kamu baru saja perpanjang kontrak. "
" Iya mbak aku akan tunggu surat pengadilannya aku akan siap harus di hukum bagaimana. "
" Syifa aku minta maaf jangan kayak gini. "
" Maaf yah aku pergi. " ucap Syifa masuk lift.
Tapi Dimas maupun Anita ikut masuk.
" Syifa jangan keras kepala, kamu udah kayak adik aku tolong jangan kayk gini. "
" Iya mbak maaf dan makasih udah anggap aku ade mbak. " ucap Syifa tersenyum di paksakan.
" Syifa aku mohon aku mohon jangan kayak gini. " Dimas terus saja memohon.
Sampai keluar lift Dimas terus-terusan memohon supaya Syifa tidak pergi tapi Syifa terus saja mengabaikannya.
" Syifa kalau kamu keluar dari sini, otomatis kamu nggak bisa tinggal di apartemen mewah lagi. "
" Iya mbak aku tau. Aku udah beres-beres."
" Syifa kamu jangan keluar dari sana. "
" Tadi saya nggak bisa bayar sewa apartement pak."
" Syifa aku mohon jangan kayak gini. "
" Aku permisi pamit untuk semuanya." ucap Syifa sudah berada di luar perusahaan.
__ADS_1
" Syifa!!! " teriak Dimas.
Syifa terus berjalan menjauh.
" SYIFA OLIVIA AKU MENCINTAIMU, AKU MELAKUKAN ITU SEMUA KEMARIN KARENA AKU CEMBURU MELIHATMU AKRAB DENGAN RIAN!!! Aku cemburu Syif, Aku sayang sama kamu. aku cinta kamu. maaf karena aku berani mencintaimu maaf.... " ucap Dimas yang awalnya berteriak dan akhirnya bersuara lemah.
" Hiks hiks maafin aku Syif, aku salah, maafin aku aku bodoh. Kamu boleh memukuliku tapi jangan menghukumku seperti ini Maaf.... hiks hiks. " ucap Dimas lirih dan meneteskan air matanya ia sudah bingung harus bagaimana.
Syifa yang mendengar teriakan dan segala ucapan Dimas terkejut, ia tidak tau Dimas memiliki perasaan lebih padanya.
Syifa menoleh dan melihat bagaimna Dimas menatapnya, tatapan sendu air mata mengalir deras dengan penampilan berantakan.
Tapi entah Syifa tetap memilih mengikuti egonya dari pada kata hatinya.
" Bapak kalau mau kirim surat pengadilannya tanya saja kepada orang yang bapak suruh untuk membuntuti saya, karena saya belum tau saya akan tinggal di mana. " ucap Syifa berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya pergi.
" Syifa hiks hiks maafin aku Syif... " lirih Dimas menatap kepergian Syifa.
" Setidaknya loe bisa ngungkapin perasaan loe Dim... Meskipun tanggapan Syifa kayak gitu. " ucap Candra dari kejahuan.
Candra berjalan mendekat dan membantu Dimas untuk berdiri. Dengan linglung Dimas berjalan ke ruangannya kembali.
Di sana ternyata ada Diana yang menunggunya.
" Diana kamu di sini. "
" Hmm kak Syifa udah dateng. " ucap Diana.
" Ada apa. "
" Kakak nggak ngajak aku masuk dulu gitu. "
" Oh ehh iya ayo masuk tapi maaf yah berantakan."
" Kak Syifa mau pergi? "
" Iya."
__ADS_1
" Kemana. "
" Kakak juga belum tau. "
" Kakak ada apa sih sama kak Dimas, sampai-sampai kakak kayak gini. "
" Nggak ada papa. "
" Kak... aku kemarin telfon kak Candra dan minta CCTV dan kelihatan kak berantem sama kak Dimas. Itu masalah apa kak. "
" Kamu tanya aja pak Dimas. "
" Kak... kalau kakak pergi, kakak bakal ninggalin aku gitu. Kak Syifa itu udah aku anggap kakak sendiri, kakak jangan pergi yah. " ucap Diana.
" Diana kamu juga udah kayak adek buatku tapi..."
" Kak aku mohon kakak cerita ada apa sebenarnya...aku nggak mau kehilangan kak Syifa. "
" Diana... "
" Aku mohon kak, biar semuanya beres aku nggak mau kehilangan sosok orang seperti kakak. "
" Huft jadi Pak Dimas itu ntah kenapa tiba-tiba marah padaku bahkan sampai membentakku, dia...di-dia juga menciumku dengan kasar yah aku terkejut bahkan sampai ketakutan. Aku keluar bukan hanya masalah itu aku takut kebaikannya selama ini justru membuatku percaya padanya dan kejadian seperti itu terjadi bagaimana kalau terjadi lebih dari itu... " ucap Syifa.
" Selain itu aku punya trauma dulu sepulang sekolah beberapa preman menyeretku masuk ke sebuah gudang kosong, mereka belum sempat menyentuhku karena kak Rian dan teman-temannya datang menyelamatkanku sebelum terjadi apa-apa. Saat kakakmu menciumku hal itu terlintas caranya benar-benar kasar, selain itu dialah orang pertama setelah ayah yang menciumku..."
" Aku takut menerima cinta seseorang, menikah dan memiliki anak aku takut untuk semua itu. Terutama memiliki anak, aku takut apa anakku nanti akan bernasib sepertiku. " ucap Syifa dengan air mata yang terjatuh.
" Kak Syifa... " Diana memeluk Syifa.
" Kak Syifa selama ini terlihat kuat ternyata menyimpan begitu banyak luka. Kak Syifa nggak marah dia hanya takut ketakutan yang begitu besar dan menghantui dirinya. " batin Diana terus memeluk Syifa.
" Berarti kalau kak Dimas misalnya mencium kakak lembut dengan perasaan kasih sayang kakak mau bagaimana. "
" Mungkin aku tidak akan seperti ini aku hanya teringat kejadian dulu karena saat itu aku juga mendapat perlakuan kasar. "
" Hehehe berarti butuh yang lembut gitu. " ucap Diana mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
" He bukan berarti aku mau di cium. " Syifa manyun.