BERAWAL DARI MONAS

BERAWAL DARI MONAS
DIANA


__ADS_3

" Syifa ingat yah kamu harus banyak istirahat, racun di tubuhmu belum di ketahui jadi untuk sementara kita hanya bisa menghambatnya agar tidak merusak organ tubuh kamu. " ucap Rian memperingatkan, Syifa hanya mengangguk lemah.


" Kamu tenang aja aku akan berusaha cari pelakunya supaya kita bisa mengetahui secepatnya. "


" Iya makasih kak, tapi nggak perlu repot-repot sulit menemukan bukti apalagi semuanya sudah di hapus bukan. "


" Pasti ada cara. " Rian mengelus rambut Syifa lembut. " Aku pergi dulu yah, ada urusan di kantor. Aku udah sewa 2 orang buat jaga diluar siapa tau ada yang bermaksud jahat nanti. "


" Iya."


Rian tersenyum kemudian keluar dari ruangan Syifa.


" Kalian berdua ingat jaga dengan baik, siapapun yang masuk di sini harus kalian awasi baik itu dokter, suster ataupun Dimas dan teman-temannya. "


" Baik bos. "


Rian pergi meninggalkan rumah sakit itu.


Di sisi lain Diana sedang fokus pada sebuah layar datar di depannya.


" Sudah ku duga, ini kerjaannya mak lampir. Ehh dasar beraninya dia membuat kak Syifa keracunan. Sekarang aku harus menemui pelayan itu dan mencari tau racun itu. " ucap Diana menutup layar datar di depannya.


" Untung gua jago soal kompoter jadi kalau ada masalah seperti ini kemampuan hacker ku berguna." ucap Diana. " Haha tapi dengan kemampuanku ini aku jauh lebih dulu mendapatkan informasi dari kak Dimas ataupun kak Rian hahaha kamu memang hebat Diana. " ucap Diana membanggakan dirinya.


Diana segera meninggalkan tempatnya dan menuju restoran itu.


" Kak Dimas dan Kak Rian tidak menutup atau menuntut restoran ini karena ingin melihat siapa yang akan mengundurkan diri dan itu akan jadi tersangka, tetapi mak lampir itu telah menyiapkan dengan matang, ehhmm mereka payah lihat saja dalam sekejap aku akan mengungkapnya. " ucap Diana saat telah berada di depan resto.


Diana melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran itu, restoran yang ramai karena memang waktu menunjukkan makan siang.


" Aku ingin bertemu manejer, panggil dia. " ucap Diana pada penjaga kasir.


" Anda siapa yah? "

__ADS_1


" Bilang saja Diana adik Dimas Fardian Anggara. "


" Baik Nona silahkan di tunggu. " penjaga kasir itu pergi meninggalkan Diana.


Tak butuh waktu lama seorang wanita kisaran 40 tahun datang mendekati Diana.


" Apa kau manengernya? "


" Iya Nona. "


" Kosongkan restoran ini, untuk makanan mereka biar saya yang tanggung. Dan bawa semua pelayan resto di depanku tanpa terkecuali. " ucap Diana tegas.


" Baik Nona. "


Dengan sigap manenger itu melakukan perintah Diana, hanya beberapa menit semua pelayan sudah berada di depan Diana.


" Semuanya sudah berkumpul Nona. "


" Hmm." Diana mengedarkan pandangannya.


" Aku Diana Putri Farhan, adik Dimas Fardian Anggara, aku mengatakan ini pasti kalian sudah tau tujuanku mengumpulkan kalian. " ucap Diana dengan nada dingin.


Suasana tiba -tiba tegang..


" Kalian pasti masih ingat kejadian 2 hari yang lalu. "


" Dan kalian pasti juga tau bagaimana usaha kakakku dan Pak Rian mencari informasi tentang keracunan kak Syifa. "


" Ya mereka belum dapat karena bukti cctv yang sudah di hapus. "


" Tapi aku sudah mengetahuinya, dan dari pada aku yang menyeretmu lebih baik mengakulah. "


Semuanya terdiam tak ada respon sama sekali.

__ADS_1


" Kalian pikir aku bohong yah. Hmm bahkan aku baru saja melihat pesan anak buahku tentang informasi pelayan itu. " ucap Diana melihat ponselnya dan membacanya.


Masih sama semuanya masih diam. Diana kembali menatap pelayan itu berlangsung lama hanya untuk agar pelayan itu sadar kalau Diana sudah mengetahuinya.


Braaakkk...


Diana membanting sebuah gelas karena kesal membuat semuanya menunduk takut.


" Kenapa kau diam saja, aku punya bukti rekaman CCTV . Jika ancaman itu tak membuatmu mengakuinya anakmu sedang sakit bukan? Dan akan melakukan operasi, aku bisa saja membuat dokter untuk menghentikan pengobatannya dan uang harammu itu akan di kembalikan. Kasian juga anakmu di obati dengan uang hasil menyakiti orang lain."


Mendengar ucapan Diana tampak pelayan menjadi pucat keringat dingin membasahi dahinya.


" Aku hitung 1-3 jika kau belum maju dan mengatakan racun itu aku menelfon dokter. "


" Satu. "


" Dua. " Pelayan itu gugup


" Ti... "


Pelayan itu langdung maju dan berlutut didepan Diana.


" Maaf nona saya akui saya pelakunya saya mohon jangan hentikan pengobatan anak saya. Saya mohon... " ucap Pelayan itu memohon, semuanya tampak terkejut karena yang mereka tau pelayan itu adalah senior dan di kenal akan kejujurannya.


" Akhirnya kau mengakuinya juga." ucap Diana menatap dingin. " Katakan racun apa itu. "


" Saya tidak tau nona karena tempat racun itu botol kecil dan tidak ada label di sana, tapi saya tidak menuang semua racunnya jadi masih ada sisanya. Apa nona ingin saya mengambilnya. "


" Ambil sekarang. "


Pelayan itu mengangguk dan segera pergi meninggalkan tempat itu. Tak butuh waktu lama pelayan itu kembali.


" Ini nona. "

__ADS_1


Diana mengambil botol racunnya dengan menggunakan tisu.


" Ikut denganku sekarang." ucap Diana pergi di ikuti pelayan yang menunduk malu mendapatkan tatapan sinis dari rekan kerjanya.


__ADS_2