BERAWAL DARI MONAS

BERAWAL DARI MONAS
PESAN NENEK


__ADS_3

Selama perjalanan pulang setelah mendapat teguran Candra dan Anita, Dimas maupun Syifa saling terdiam.


Tapi beberapa waktu Syifa menatap ketiganya sebal karena merasa lapar, jam makan malam sudah lewat 30 menitan yang lalu dan mobil terus berlalu maju melewati restoran dan warung makan.


" Pak Candra ini sudah lewat jam makan malam, tapi pak Candra nggak berhenti di resto atau tempat makan gitu, aku sudah kelaparan. " ucap Syifa mengomel tak tahan dengan cacing di perutnya minta makan.


Spontan Candra, Dimas dan Anita melihat jam tangan mereka.


" Eh iya ya ini udah lewat. " ucap Candra. " Kenapa nggak bilang dari tadi. "


" Udah kita makan di rumah aja. " ucap Dimas mendapat pelototan dari Syifa.


" Pak Dimas aku sudah kelaparan. "


" Tahan bentar bisa kan. "


" Nggak bisa, aku sudah lapar dan aku mau makan." ucap Syifa memengang perutnya karena berbunyi dan itu terdengar cukup keras.


Dimas, Candra dan Anita tertawa mendengar suara perut Syifa yang minta di isi.


" Ayolah kita makan dulu. " ucap Syifa melemah.


" Aku nggak mau mati kelaparan. Aku nggak mau mati dulu, ntar jodohku sendiri kalau aku mati sebelum menikah dengannya. Dan kalaupun takdir memang memintaku mati di sini aku hanya minta dua hal, pertama makamkan aku dekat Ayah Ibu."


" kedua, saat aku masuk kedalam tanah simpan makanan di dekatku dan itu harus dari kalian bertiga biar aku nggak gentayangin kalian karena nggak ngasih aku makan hingga akhirnya mati kelaparan. " ucap Syifa dengan cerewetnya.


" Astaga Syifa kau bahkan lebih menyebalkan dari Diana saat kelaparan. Malah udah mikir ke sana lagi. " ucap Dimas mengelengkan kepala mendengar setiap kata dari Syifa.


" Candra kalau nemu restoran berhenti di sana, Jangan sampai orang ini mati kelaparan di depan mataku. " sambung Dimas membuat Syifa tersenyum kemenangan.


" Oke. "


Mobil berhenti di sebuah restoran, mereka keluar mobil dan segera masuk ke dalam restoran.


" Mau pesan apa Pak, Bu. " ucap seorang pelayan setelah mereka duduk.


" Saya pesan dan makanan Gulai ayam, sate, soto ayam, siomay, Ayam kremes paha dan nasi kuning untuk minumannya air biasa, dan jus lemon tea. Emm dan nasi kuning 10 porsi tapi di bungkus dan taruh dua tusuk sate di setiap bungkusan nasinya. " ucap Syifa tersenyum menaik turunkan alisnya.


Dimas Candra dan Anita membuka mulut lebar mendengar pesanan Syifa yang sangat banyak.


" Kalian mau pesan apa. " ucap Syifa membuat mereka lebih terkejut.


" Memangnya tadi kamu pesan semuanya buat kamu. " tanya Anita membuat Syifa mengangguk dengan senyuman di wajahnya.


" Dasar Berandalan." gumam Dimas. " Kalu gitu saya pesan Mi ayam, udang goreng dan minumannya Lemon tea. " ucap Dimas.


" Kalian emang cocok, pecinta Indonesia banget, terus makanan barat pada nggak kalian suka, emang sih lidah Indonesia banget. " batin Candra.


" Saya pesan steak keju, keripik kentang dan minumannya kopi mocca. " ucap Anita. " Pak Candra mau pesan apa. "


" Capucino makanannya kita makan berdua aja. " ucap Candra mendapat anggukan Anita.


" Baiklah mohon di tunggu. " pelayan itu meninggalkan tempat mereka.

__ADS_1


Dimas menatap Candra dan Anita bergantian, aneh itulah yang di pikirkan Dimas kali ini tapi berbeda dengan Syifa dia tampak biasa saja.


" Ada apa dengan mereka berdua? " batin Dimas.


" Akh masa bodoh, hubungan mereka apaan yang penting kerjaanya masih profersional. " batin Dimas.


" Syifa. "


" Hmm... "


" Itu makanan yang tadi kamu pesan buat apaan, perut sekecil itu nggak bakal muat buat semuanya, dan aku nggak mau tau kamu harus habisin semua makanan yang kamu pesan. " ucap Dimas.


" Iya pak bos, tenang aja itu bakal habis. "


" Kalau nggak habis harus bayar sendiri. Dan makanan yang kamu bungkus untuk apaan?"


" Ada deh. nanti bapak juga tau. " ucap Syifa.


" Eh Dim, ntar aku dan Anita nginap di rumahmu yah? "


" Hmm terserah. " ucap Dimas memainkan ponselnya.


Beberapa menit pesanan mereka telah terhidang di meja makan. Sedangkan pesanan Syifa yang di bungkus masih harus di tunggu.


Syifa makan dengan lahapnya, rasa lapar benar-benar membuatnya ingin makan banyak. Dimas mengelengkan kepala melihat bagaimana lahapnya Syifa mulutnya penuh dengan makanan tak peduli tatapan orang lain padanya.


" Malu-maluin aja nih anak. " gumam Candra tak habis pikir dengan kelakuan Syifa kali ini.


Anita malah tersenyum melihat Syifa makan seperti itu, Ini bukan pertama kalinya Anita melihat Syifa makan seperti itu. Dulu mereka berdua juga pernah keluar malam berjalan bersama, makan malam terlewat beberapa menit dan hal sama terjadi Syifa memesan banyak makanan dan juga makan dengan lahap.


Mendapat teguran Dimas, semuanya tak berani menjawab apalagi melirik ke arahnya lagi, Siapa yang tak mengenal Dimas pengusaha muda yang sukses bahkan perusahannya kini berada di peringkat nomor 1 di Indonesia tahun ini.


Syifa tak peduli dengan sikap Dimas dia terus menyantap makanannya. Dimas, Candra dan Anita telah selesai makan mereka menunggu Syifa menghabiskan makanannya apalagi terlihat dia masih setia dengan menyuapkan mulutnya.


" Akh kenyang..." ucap Syifa mengusap perutnya.


" Hebat beneran habis. " ucap Candra.


" Syifa emang kamu nggak takut gendut gitu. " ucap Dimas mendapat gelengan dari Syifa.


" Semua cewek normal pada akhirnya pasti akan gendut kalau hamil, jad Uh ngapain takut gendut. Kalaupun aku gendut berarti aku bakal semanis Diana di peluk bakal nyaman dan empuk. " ucap Syifa cengengesan. Dimas tersenyum mendengar ucapan Syifa.


" Terus ini yang kamu bungkus buat apaan. "


" Oiya pak Dimas dan Pak Candra tolong angkatin keluar aku mau beli air botol dulu. " ucap Syifa menarik tangan Anita.


" Dia mau ngapain sih. "


" Udah turutin aja, angkat tuh. "


Semua makanan yang di bungkus sudah berada dekat mobil, Syifa dan Anita juga sudah datang dengan botol mineral di tangan mereka.


Meski bingung dengan apa yang di minta Syifa tapi ketiganya menuruti setiap kata Syifa.

__ADS_1


" Permisi bu, dek ini saya ada makanan buat ibu dan adek di makan yah. " ucap Syifa tersenyum memberikan pada mereka.


" Makasih Bu. semoga ibu dan bapak semua di berikan kesehatan dan rezekinya bertambah. " ucap Ibu itu yang memang sudah sedari tadi berada di pojok resto bersama anaknya yang kelaparan.


" Aamiin bu. " ucap Syifa dan tak lupa memberi sebotol minum pada mereka.


" Oo mau di bagiin ternyata. " gumam Dimas Candra dan Anita kompak.


Mereka berempat membagi bungkusan makanan itu, dan pada akhirnya tersisa satu bungkus nasi.


" Sisa satu nih, tapi kita mau kasi ke siapa. " tanya Dimas.


" Hmm... mereka gimana, tapi sisa sebungkus padahal mereka berdua. " ucap Syifa menunjuk seorang nenek yang mungkin sudah berusia lebih dari 70 tahun dengan tongkat di pengangnya untuk membantunya berjalan dan anak laki-laki yang mungkin berusia 8 tahun di sampingnya. Anak kecil itu berjalan ke arahnya.


" Kak tadi aku liat kakak bagi-bagi makanan apa masih ada, Aku dan Nenek belum makan dari kemarin. " ucap anak kecil itu sambil memengang perutnya.


" Ini dek masih ada tapi sisa satu, apa perlu beli buat nenek kamu?"


" Nggak usah kak, ini sudah cukup. " ucap anak kecil itu tersenyum saat menerima bungkusan makanan pemberian Syifa.


" Makasih ya kak. " Anak kecil itu menghampiri neneknya yang sedang duduk di pojokan jalan.


" Udah selesaikan, sekarang kita pulang. "


" Eh bentar, sebentar doang aku mau nyamperin mereka dulu. " ucap Syifa mendapat anggukan Dimas,Candra dan Anita.


Syifa menghampiri nenek dan anak kecil tadi.


" Permisi Nek, Dek. " ucap Syifa tersenyum.


Nenek dan anak kecil itu tersenyum saat Syifa menghampiri mereka. " Nek ini saya punya sedikit uang buat Nenek dan adek di terima yah semoga bermanfaat. " ucap Syifa menjelurkan beberapa lembaran uang merah.


" Nggak perlu nak, kamu sudah memberi kami makan itu sudah cukup. " ucap nenek itu.


Baru saja Syifa ingin mengeluarkan kata lagi, jemari nenek itu mengusap rambut turun ke wajahnya.


" Kamu begitu cantik nak, bukan hanya wajahmu tapi juga hatimu. Matamu memancarkan sebuah ketulusan meski di dalam sana juga terlihat penderitaan yang begitu melukaimu tapi kamu melakukan hal yang sangat jarang orang lakukan. " ucap Nenek itu, tanpa di duga buliran air mata membasahi wajah cantik Syifa.


" Apa kamu sudah menikah. " tanya nenek itu mendapat gelengan dari Syifa.


" Nenek bisa lihat, dulu ada banyak penderitaan yang kamu lalui nak dan nenek yakin kebahagianmu sebentar lagi akan tiba bersama laki-laki yang akan menjadi imanmu.Pesan nenek Jika kamu sudah menikah patuhi suamimu, hargai setiap usahanya karena dia akan sangat menyanyangi dan menjagamu. Dia yang akan membuatmu merasa kebahagian yang kamu inginkan. " ucap Nenek itu measih mengusap wajah cantik Syifa dengan tangan keriputnya.


" Iya nek." ucap Syifa tersenyum tulus.


" Ya sudah kalau begitu Nenek dan cucu nenek pulang dulu. "


" Eh Syifa anterin yah nek. " ucap Syifa tapi nenek itu menolak dengan mengelengkan kepala kemudian pergi meninggalkan Syifa, Syifa memperhatikan punggung nenek dan anak itu yang menjauh.


" Syifa cepatlah... " ucap Dimas membuat Syifa menoleh ke arahnya.


" Iya pak. " teriak Syifa kembali menoleh ke arah jalan nenek tadi tapi dia sudah tak terlihat.


" Syifa... " teriak Dimas kembali.

__ADS_1


" Iya iya sabar kenapa sih. " Syifa berlari ke arah mobil dalam keadaan bingung melihat nenek itu telah menghilang.


Setelah Syifa masuk, mobil yang di tumpanginya melaju segera ke rumah Dimas.


__ADS_2