
Syifa menatap Diana yang memang seperti ketakutan, Syifa yang mengepal tangannya berharap emosinya reda.
" Kalung. Kalung yang di pake Diana adalah kalung peninggalan Ibuku. Kalung dengan bentuk hati di dalam sana ada foto ayahku yang sedang menggendongku dan di bentuk hati di sebelahnya ada foto ibuku. Dan fotonya seperti ini. " ucap Syifa memperlihatkan foto di handphonenya.
" Diana pernah bilang kalau kalung itu dia temukan di bagian plat mobil Papamu saat itu. Dan Papamu tidak memberikan pada Gina karena Diana menyukainya. Dan Gina maupun keluarganya tidak pernah menceritakan soal kalung itu. " ucap Syifa.
" Itu hanya kalung, bagaimana mungkin itu sebagai bukti. Dan kalian berdua dekat mungkin saja kalian yang menyimpan fotonya dan bersekongkol. " ucapnya.
" Oh iya, Kurasa dia sangat mengenal wajah Ayahku, jadi pasti dia bisa melihatnya dan kalaupun iya kalau korban benar saudaramu kau pasti punya fotonya atau mengenali wajahnya bukan. " ucap Syifa sinis.
" K-kau. " gugup mereka.
" Benar di dalam foto ini seperti yang di ucapkan Syifa, dan ada anak kecil yang di gendong dan jelas itu bukan Gina. Dan wanita ini bukan istri atau ibu Gina yang ada di depan kita. " ucap Papa Farhan.
" Apa benar kalian selama ini menipuku. " sambung Papa Farhan dengan hawa dingin dengan sorotan mata tajamnya.
" Ba-bagaimana mungkin, itu tidak benar. " gugup Papi Gina.
" Terus kenapa kalian semua terlihat takut!!" teriak Papa Farhan dengan suara mengelenggar.
" Kalian pasti tau wajah ayahku kan, kalau dia benar saudaramu kau akan mengenalinya. " ucap Syifa kemudian memperlihatkan 4 foto pria yang terlihat masih muda.
" ke empatnya merupakan sahabat di mana di antara mereka adalah Korban itu. " ucap Syifa mulai menguji mereka.
Keluarga Gina semakin bungkam, tidak ada yang keluar sepakatah pun dari mulut mereka.
" Ckk sangat terlihat jika kalian menipu. " ketus Dimas.
Dimas,Syifa dan Papa Farhan semakin menyudutkan Gina dan keluarganya untuk jujur.
" Yah kami menipu kalian, Gina adalah putri kandungku dan dia adalah istriku kalian terlalu bodoh sehingga mudah udah tipu hahaha... " ucap Papi Gina kehilangan kendali.
" Papi. "
" Diam ini semua salahmu anak bodoh, dasar tidak berguna. " Papi Gina menampar dan memukul anaknya yang tidak lain adalah Gina.
" Dia anakmu berhenti memukulinya. " ucap Mami Gina tapi justru mendapat pukulan dari suaminya juga.
" Anak tidak berguna tidak perlu kau bela. " ketus Papi Gina.
" Hiks hiks Papi Maafin Gina. " Gina menangis tapi tetap mendapat pukulan dari Papinya.
Bugh...
__ADS_1
" Akhh.. " pekik Papi Gina.
" Sepertinya Gina di sini hanya mengikuti keegoisan mu, kau pasti sangat kasar padanya saat kecil sehingga dia menuruti perbuatan kotormu ini. " ucap Syifa menyembunyikan Gina dan Ibunya di belakangnya.
" Kau!! Seharusnya kau mati pada saat itu juga. " ucapnya mencekik leher Syifa.
Bugh...
" Dasar tidak tau diri. Kau fikir aku akan diam kau membunuh Syifa di depanku. " ucap Dimas memukuli Papi Gina yang mulai menggila.
Papi Gina di pukuli malah tertawa tidak jelas, sementara keluarganya hanya diam menyaksikannya dengan rasa takut apalagi perbuatannya sudah terbongkar.
" Orangtua Olivia adalah pejabat negara penting, dan sampai sekarang dia mencari pelaku anaknya dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Ayahnya seorang inspektur polisi dan Ibunya ketua polisi tindak kriminal dan kalian akan berurusan dengan mereka. " ucap Syifa dingin semuanya hanya terdiam menunduk tapi Papi Gina terlihat semakin menggila tertawa dan menangis bersamaan.
Semuanya hanya mendiaminya, dan tidak butuh waktu lama sekelompok polisi telah memasuki rumah mereka.
" Syifa. "
" Om Tante. " Syifa menatap mereka dengan mata berkaca-kaca.
" Siapa pembunuh Olivia nak. " tanya mereka.
Syifa menunjuk orang-orang yang dulu berada di sana.
" Jadi kalian yang membunuh putriku. " geramnya.
" Bawa mereka semua. Dan dia sepertinya harus di bawa ke rumah sakit jiwa. Sepertinya kejiwaanya terganggu. " ucap inspektur polisi yang berusaha tenang meski ingin rasanya meluapkan emosinya atas kehilangan putrinya.
" Hmm jangan percaya dengan aktingnya. " ucap Syifa membuat semuanya mengerutkan dahi.
Bughh...
Syifa menendang bagian vital Papi Gina yang sedang meracau, dan tentu itu membuatnya merintih kesakitan dan menatap tajam Syifa.
" Kau!! "
" Berhenti berakting, kau fikir kau bisa membodohi semua orang. "
" Ckk sepertinya kau sangat pintar, mati saja kau. " ucap Papi Gina hendak menusuk pisau yang berada di pinggangnya tapi kalah cepat dengan gerakan Syifa yang menendang pergelangan tangannya sehingga pisau itu terjatuh.
" Sudah bawa mereka semua. " ucap Inspektur polisi, semua polisi yang di berada di sana membawa semuanya.
" Tunggu!! " ucap Gina.
__ADS_1
Gina mendekati Syifa dan langsung berlutut di depannya.
" Aku tau suatu saat ini akan terjadi, maafin aku Syifa, dan atas nama keluargaku aku minta maaf pada kalian semuanya. Syifa selama ini aku telah jahat padamu tapi kamu malah menolongku maafkan aku, Diana maafkan aku selama ini kasar padamu. Maaf... " ucap Gina menunduk.
" Dasar anak berguna, malah merendahkan diri. " ketus Papi Gina.
" Aku memaafkanmu Gina, di matamu ada ketulusan untuk mengatakan hal itu. Kau hanya korban keegoisan keluargamu. " ucap Syifa memeluk Gina, Gina tidak percaya apa yang dilakukan Syifa tapi ia juga menyambutnya.
Diana juga ikut memeluk keduanya, membuat tangisan Gina semakin pecah.
" Maafin aku Diana, Syifa, Om Tante Dimas maaf."
" Baik kita maafin tapi kamu tetap harus di hukum Gina." ucap Dimas, Gina tersenyum dan mengangguk kecil.
Jari manisnya yang terdapat cincin dengan di atasnya terdapat mutiara yang membuatnya terlihat indah.
Gina memberikan cincin itu pada Syifa.
" Ini cincin pertunangan ku dengan Dimas yang merupakan pilihan langsung Tante Hani tapi ini tidak pantas untukku. " ucap Gina tersenyum kemudian pergi dengan di bawa polisi.
Syufa tertengun dan saat Orangtua Olivia memanggilnya barlah ia tersadar.
" Om Tante Maafin Syifa. " ucap Syifa menunduk.
" Kenapa nak. "
" Seharusnya Syifalah yang mereka bunuh, bukan Olivia. Mereka salah orang, Om Tante tau nama panggilanku di ubah karena namaku dan Olivia sama jadi teman-teman memanggilku Syifa. Maafin Syifa harusnya Olivia masih hidup. " ucap Syifa dan menceritakan kenapa dia bisa mengetahui semuanya.
" Nak ini bukan salahmu, ini adalah takdir. Andaikan Om dan Tante tidak sibuk waktu itu dan menitipkan Olivia beberapa bulan di sana mungkin ini juga tidak akan terjadi jadi jangan menyalahkan dirimu. " ucap ibu Olivia memeluk Syifa dan berusaha menenangkannya.
" Kamu juga sudah kami anggap anak kami jadi jangan menyalahkan dirimu, kamu juga anak kami kan. " ucap Ayah Olivia membuat Syifa mengangguk dan memeluk Ayah Olivia.
" Syifa... Om minta maaf sudah mengghilangkan nyawa Ayahmu, dan Pak Polisi kematian anakmu juga salahku saya juga minta maaf, kalian bisa menghukumku apapun." ucap Papa Farhan berlutut di depan mereka.
" Pak, saya dan istri saya sudah mengiklaskan putri kami, kami ingin dia tenang di alam sana jadi Syifa dan Pak Farhan jangan merasa bersalah seperti ini. "
" Om selama ini aku diam dan berusaha bersikap baik-baik saja tapi menginggat Ayahku yang mengajarkan ku untuk tidak balas dendam atau membenci seseorang membuatku diam dan memaafkan Om. Selama ini dengan perlakuan Om pada Gina itu menunjukkan Om sangat merasa bersalah dan juga itu juga berarti Om mencariku selama ini untuk bertanggungjawab. Aku maafin Om. " ucap Syifa ikut berlutut.
" Syifa kamu benar-benar seperti malaikat nak, pantas kedua anakku menyukaimu. Om mohon kamu mau tinggal di sini, Om ingin menjagamu seperti Ayahmu menjagamu nak. " ucap Papa Farhan.
" Tapi... "
" Syifa-kak Syifa. " kompak Dimas dan Diana.
__ADS_1
Syifa menatap keduanya yang tampak mengangguk meminta untuk Syifa setuju.
" Baiklah Om ." ucap Syifa membuat semuanya tersenyum.