
Nanda memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wajahnya tampak kesal. Mira ternyata sudah banyak berubah. Dia sekarang lebih berani berdebat dengannya. Nanda tidak tahu harus bagaimana menghadapi Rosa. Haruskah dia mengatakan bahwa Mira tidak setuju dia menikahi Rosa? Sedangkan Nanda tahu Rosa ingin diakui dihadapan orang-orang, sebagai istrinya.
Lamunannya terhenti ketika kakinya tiba-tiba mendadak menginjak rem. Untunglah dibelakangnya tidak ada mobil lain karena sudah larut malam. Setelah menghela nafas panjang, Nanda melanjutkan perjalanan kerumah kontrakan Rosa.
Nanda mengetuk pintu beberapa kali, tapi Rosa belum juga ada tanda-tanda membukakan pintu untuknya. Nanda mulai cemas, tidak biasanya Rosa begitu . Sekali ketuk pasti dia sudah membukakan pintu untuknya.
Nanda tidak sabar lagi menunggu.
Dengan kekuatan penuh, Nanda mendobrak pintu rumah kontrakan Rosa. Setelah terbuka dipanggilnya Rosa berkali-kali, namun tetap tak ada jawaban. " Sayang, Rosa...."
" Dimana dia sudah larut begini."
Saat tiba dikamar Rosa, Nanda berteriak ketakutan ketika melihat tubuh Rosa tergeletak dilantai tidak sadarkan diri. Dan dari balik roknya terlihat ada darah.
" Rosa..."
Segera tanpa pikir panjang lagi diangkatnya tubuh Rosa lalu dibawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Rosa langsung ditangani tim dokter. Sangat lama. Nanda mondar-mandir didepan ruang UGD dengan penuh kecemasan." Rosa , apa yang kamu lakukan." Gumam Nanda pelan.
Setelah menunggu lama, seorang dokter keluar dan segera disambut Nanda dengan pertanyaan.
" Dok, bagaimana keadaan istri saya dok?"
" Tenang pak, istri anda baik-baik saja."
" Lalu, bagaimana anak yang ada dalam kandungannya dok?"
" Begini pak, istri anda mengkonsumsi obat penggugur kandungan. Dosisnya cukup bisa membahayakan ibu dan anak. Tapi syukurlah ibu dan bayinya masih bisa kami selamatkan. Sebentar lagi istri anda akan dibawa ke ruang rawat inap. Tolong dijaga kondisi mentalnya agar tetap stabil, beri perhatian yang lebih. Mungkin istri anda banyak tekanan."
" Baik dok, Terimakasih."
" Sama-sama." Dokter itupun pergi meninggalkan Nanda yang masih tak mengerti dengan tindakan Rosa.
Rosa telah dipindahkan keruang rawat inap. Nanda duduk disamping Rosa yang masih belum sadarkan diri. Dipandanginya tubuh Rosa yang tergolek lemah dan wajahnya yang tampak pucat.
__ADS_1
"Apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu hingga nekat berbuat seperti itu." Nanda bicara sambil menggenggam tangan Rosa.
Tangan Rosa perlahan bergerak, dan dia mulai membuka mata. Nanda segera memanggil dokter untuk memastikan kondisi Rosa.
" Keadaan pasien, baik-baik saja. Besok juga sudah boleh pulang. Istirahat dirumah saja."
" Terimakasih dok." Kata Nanda gembira.
Rosa bingung melihat sekeliling.
" Mas, aku dimana?"
" Jangan banyak bergerak dulu. Kamu ada di rumah sakit."
Rosa ingat tadi dia minum obat penggugur kandungan, kenapa malah bisa sampai di rumah sakit.
" Rumah sakit?"
" Sayang, sudah tidak apa-apa. Istirahatlah, besok setelah pulang baru kita bicarakan."
Sepulang dari rumah sakit, Nanda meminta penjelasan atas apa yang dilakukan Rosa semalam. Sementara Rosa berharap apa yang dia lakukan, akan membuat Nanda secepatnya segera menikahinya.
" Mas, aku merasa putus asa. Kehadiran anak ini membuatku tertekan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk memberikan penjelasan pada orangtuaku. Mas Nanda juga pasti merasa terpaksa untuk menikahi aku."
" Dia anakku, jangan pernah berpikir untuk menyakitinya. Sekalipun aku br*ngs*k dan baj*ngan, tapi soal anak aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti anak-anakku."
" Maafkan Rosa mas."
" Aku juga minta maaf, telah membuat dirimu tertekan. Aku akan membuat Istriku setuju parnikahan ini. Tentang orangtuamu, aku akan menemanimu menemui mereka dan menjelaskan keadaan ini. Jangan pernah berpikir melakukan hal bodoh ini lagi."
Nanda memeluk Rosa erat, Rosa hanya mengangguk dan senang Nanda akan lebih ingin menikahinya. Rosa sama sekali tidak merasa berdosa telah menyakiti bayi dalam kandungannya. Dia hanya ingin tujuannya tercapai dengan segera. Menjadi istri Nanda.
Sementara, Mira masih sedih dengan kejadian malam itu. Sejak malam itu suaminya tidak pulang lagi kerumah. Dia pasti bersama wanita itu. Hati Mira kacau, setelah Desy kini Rosa bahkan mereka berdua sama-sama memiliki anak dari suaminya.
Jika tidak salah, saat ini seharusnya Desy sudah melahirkan. Tapi suaminya sama sekali tidak pernah menyinggung soal kelahiran bayi Desy. Malah Nanda menghamili wanita lain dan ingin menikahinya.
__ADS_1
Tanpa Mira sadari, Nanda sudah berdiri dihadapannya dengan tatapan tajam memandangnya. Mira agak takut dengan sikap Nanda hari ini.
" Ma, hari ini papa ingin mengatakan satu hal. Rosa malam itu masuk rumah sakit, karena meminum obat untuk menggugurkan kandungannya. Papa tidak mau ini terjadi lagi. Mama juga ikut menjadi penyebab kejadian ini."
" Apa, papa menyalahkan mama?"
" Ya, jika mama tidak menyetujui papa menikahinya, maka jika terjadi sesuatu dengan Rosa dan bayinya, mama yang akan bertanggungjawab."
" Pa, bukankah itu keterlaluan. Dia yang melakukannya sendiri, menyakiti bayinya sendiri, kenapa aku yang salah?"
" Ma, ini surat persetujuan pernikahan." Nanda menyodorkan selembar kertas pada Mira.
" Bahkan papa sudah mempersiapkan semuanya."
" Tentu. Karena ini syarat yang dia minta."
" Sebegitu cintakah papa kepadanya, hingga membuat papa tidak peduli pandangan orang lain terhadap papa."
" Terserah mereka mau mengatakan apa. Bukan urusanku. Ini hidupku, tidak ada hubungannya dengan mereka."
" Jika begitu menurut papa, mama sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa. Mama hanya sekedar mengingatkan."
" Tidak perlu. Cukup mama tanda tangan saja."
Mira tertunduk membaca lembaran kertas itu. Mira bingung, apa yang harus dia lakukan.
Jika dia setuju, maka dia harus rela berbagi suami dan berbagi cinta dengan wanita lain dan tidak boleh mengeluh. Jika dia tidak setuju, suaminya akan tetap menikahi wanita itu. Jadi sebenarnya Mira tidak ada pilihan selain menerima.
Wanita seperti apa dia yang tega menyakiti anaknya untuk mencapai tujuannya. Anak yang belum melihat dunia, anak yang tidak berdosa itu harus ikut merasakan penderitaan dari perselisihan orangtuanya.
Mira memegang pena dengan tangan gemetar dan dengan airmata yang tiba-tiba mengalir deras diujung matanya. Sebuah tanda tangan yang harus dia bayar mahal.
Cinta itu memang buta. Tapi Nanda adalah orang yang buta karena cinta. Mira sadar, dia tak akan bisa membawa suaminya kembali kepelukannya secara utuh.
Dia akan belajar mengerti kalau dirinya ternyata sudah tidak bisa memberikan kebahagiaan pada suaminya, hingga suaminya mencari kebahagiaan diluar sana. Mungkin dia banyak kekurangan yang bisa ditemukanya pada wanita lain. Besarnya cinta yang Mira miliki untuk Nanda tidak mampu membuat Nanda berhenti melirik wanita lain yang lebih sempurna darinya.
__ADS_1