Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Mira melahirkan


__ADS_3

Kandungan Mira sudah memasuki usia 9 bulan. Mira berusaha menenangkan diri meski beberapa hari yang lalu Rosa datang memberitahukan tentang anaknya. Ada sedikit kekhawatiran dan penasaran, bukti apa yang dimiliki Rosa sehingga mampu membuat suaminya meragukan dirinya dan calon anaknya.


Namun Mira selalu berharap keajaiban akan datang padanya. Kebenaran bahwa anak dalam kandungannya adalah benar-benar anak Nanda.


Saat sedang santai bersama Kasih, Mira merasakan perutnya terasa sakit dan banyak kontraksi. " Mungkin bayiku akan lahir." Pikirnya, lalu dia menyuruh Kasih memanggil bibi Mei dan meminta bibi Mei mengantarnya ke rumah sakit.


Bibi Mei memanggil taksi dan mengantar Mira ke rumah sakit bersama Kasih. Selama perjalanan Kasih menangis karena takut terjadi sesuatu pada mamanya. Bibi Mei menjelaskan bahwa mamanya akan segera melahirkan. Kasih akan segera mempunyai adik. Jadi bibi meminta Kasih agar tidak menangis lagi.


Sesampainya di rumah sakit, tim dokter segera memeriksa Mira. Ternyata baru buka 3, jadi masih harus menunggu lagi beberapa waktu.


Fara yang datang bersama suaminya bergegas menemani Mira. Mira meminta Fara untuk menghubungi Nanda.


Farhan menyuruh Fara menemani kakaknya, biar dia yang menghubungi Nanda. Farhan berusaha menghubungi Nanda. Namun Nanda tidak menjawabnya. Hal itu tidak membuatnya putus asa bahkan Farhan sengaja terus menghubunginya. Akhirnya Nanda menjawab panggilan Farhan.


" Hallo, Farhan ada apa.Aku sedang terburu-buru."


" Mas Nanda, mbak Mira akan melahirkan."


" Apa, aku tidak dengar. Disini sangat ramai."


" Mas Nanda, cepatlah. Sebentar lagi pesawatnya akan berangkat." Terdengar suara Rosa memanggil Nanda.


" Iya, baiklah.Aku segera kesana."


" Mas Nanda ada dimana, kenapa naik pesawat?" Tanya Farhan penasaran.


" Maaf Farhan. Aku tidak bisa mendengar suaramu dengan jelas."


Nanda menutup panggilan Farhan. Rupanya, Nanda dan Rosa sedang dalam perjalanan berlibur ke Bali bersama keluarga Rosa.


Farhan tidak ingin membuat kakak iparnya sedih jika tahu suaminya tidak akan datang menemaninya saat melahirkan. Dia hanya mengatakan pada Mira kalau suaminya sedang dinas keluar kota. Mira percaya dengan perkataan Farhan tanpa banyak bertanya.


Mira akhirnya melahirkan secara normal seorang anak laki-laki. Karena ayahnya tidak ada, maka Farhan yang maju untuk mengumandangkan azdan dan iqomah ditelinga bayinya Mira.


Biarpun Mira tahu bahwa suaminya sedang dinas keluar kota, namun dia ingin secara langsung ingin memberitahukan kelahiran anaknya. Dan juga ingin agar suaminya memberi nama pada putranya. Saat Mira sedang sendirian, dia mnghubungi ponsel suaminya.

__ADS_1


" Hallo, ada apa mbak Mira?" Terdengar suara Rosa yang menjawab panggilannya.


" Rosa, mana mas Nanda. Bukannya mas Nanda lagi dinas keluar kota? Kenapa kamu yang menjawab? Apa dia lupa bawa ponselnya?" Tanya Mira dengan perasaan bingung dan penasaran. Dinas keluar kota mengajak Rosa.


" Dinas keluar kota, siapa yang bilang? Aku dan mas Nanda sedang berlibur dengan keluargaku ke Bali. Emangnya ada urusan apa mbak Mira mencari mas Nanda."


Berlibur ke Bali? Mendengar perkataan Rosa, Mira jadi sangat sedih. Nanda lebih memilih pergi berlibur dengan Rosa daripada menemaninya bertaruh nyawa melahirkan anaknya.


" Katakan saja pada mas Nanda, anak laki-lakinya telah lahir dengan selamat. Aku ingin dia yang memberi nama untuk anaknya."


" Baiklah nanti aku beritahu mas Nanda, tapi kalau urusan nama, kenapa tidak kamu sendiri saja yang beri nama?"


Mira langsung menutup teleponnya tanpa menjawab pertanyaan Rosa.


Kekecewaan tampak jelas diwajahnya. Farhan pasti sudah tahu kalau Nanda bukan dinas krja tapi sedang pergi berlibur. Mungkin dia takut memberitahu dirinya yang akan mengganggu proses melahirkan.


Sementara, Nanda dan Rosa yang sedang berlibur ke Bali menginap di hotel di dekat pantai Kute. Secara tidak sengaja, Nanda bertemu pengacara Ziko yang duduk sendirian.


" Hei, pak pengacara, apa kabar? Nggak nyangka kita akan bertemu disini." Sapa Nanda.


" Silahkan duduk pak Nanda."


" Terimakasih. Mau pesen apa?"


" Kopi aja."


Pengacara Ziko memesan 2 kopi kepada pelayan dan agar diantarkan segera.


" Pak Nanda, sedang liburan atau madu?"


" Sedang liburan sama Rosa dan anak-anak. Kamu sendiri sedang liburan juga?"


" Sedang bulan madu." Jawab pengacara sambil tersenyum malu.


" Bulan madu? Pengacara Ziko sudah menikah?" Nanda kaget. Jika pengacara Ziko berselingkuh dengan Mira bahkan saat ini Mira sedang hamil anaknya, kenapa dia menikah dengan orang lain.

__ADS_1


" Kenapa, saya tidak boleh menikah? Haruskah saya melajang seumur hidup? Pak Nanda ini ada-ada saja."


" Bukan begitu. Bukankah kamu berhubungan dengan istriku, Mira."


" Apa, saya berhubungan dengan mbak Mira? Pak Nanda, jangan sembarangan menuduh orang. Terutama menuduh istri sebaik bu Mira. Saya berani jamin kesucian hati bu Mira, bahkan dia tidak membiarkan hal sekecil apapun yang bisa membuat anda salah faham."


" Tapi ada bukti foto saat kamu bersama Mira, bahkan itu terlihat mesra." Nanda memperlihatkan foto itu pada pengacara Ziko.


" Ini saat bu Mira hampir jatuh karena sedang hamil dan saat itu saya mengantarnya ke rumah sakit." Pengacara Ziko memandang Nanda dengan tatapan kecewa." Apakah selama ini pak Nanda meragukan anak dalam kandungan bu Mira?"


" Begitulah." Jawab Nanda sambil menunduk merasa bersalah. Seharusnya dari awal, dia memperjelas persoalan ini.


Saat itu istri pengacara Ziko datang. Namanya Rani, wanita cantik dan lemah lembut seperti Mira. Pengacara Ziko mengenalkan istrinya pada Nanda.


Rani yang sudah banyak mendengar cerita tentang Mira dan Nanda menjadi agak sensi ketika bertemu langsung dengan Nanda.


" Ini orangnya yang bernama Nanda. Laki-laki yang mempunyai banyak istri. Kenapa? Apa karena anda banyak uang, bisa berbuat seenaknya. Ingat jika suatu saat anda jatuh miskin, wanita mana yang akan tertarik pada anda. Pasti hanya istri pertama yang mau merawat anda." Kata Rani dengan nada kesal.


" Rani sudah, jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Pak Nanda maafkan istri saya, dia hanya sedikit emosi saja. Mohon dimaafkan."


" Tidak apa-apa."


" Kita pergi dulu, silahkan lanjutkan berliburnya di sini. Ayo kita pergi, bukannya kita lagi bulan madu. Jangan merusak suasana hati." Kata pengacara Ziko pada Rani yang masih agak kesal.


Pengacara Ziko meninggalkan Nanda yang masih duduk termenung memikirnya Mira dan calon anaknya. Apakah Mira sudah melahirkan?


" Mas, kamu disini. Tadi aku cari-cari mas tak ada, aku jadi bingung." Rosa berkata dengan nada kecewa, karena sudah sedari tadi mencari Nanda tapi tidak bisa ketemu.


" Ada apa mencariku?"


" Mas, tadi ...tidak ada apa-apa hanya pingin pergi jalan-jalan saja sama mas Nanda."


Rosa sebenarnya ingin mengatakan bahwa Mira sudah melahirkan. Tetapi jika dia mengatakan itu maka liburannya kali ini pasti tidak akan berjalan seperti yang dia inginkan. Pikiran Nanda pasti sedikit banyak akan terpengaruh dan terbagi.


Jadi biarlah Nanda menikmati liburan bersamanya tanpa diganggu yang namanya Mira. Rosa tidak tahu jika Nanda bertemu dengan pengacara Ziko dan membicarakan tentang Mira dan bayinya.

__ADS_1


__ADS_2