Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Cemburu


__ADS_3

Bagus tidak hanya datang sendiri, dia diantar oleh seorang lelaki yang usianya sekitar 35 tahun. Mira mempersilahkan lelaki itu masuk kedalam rumah.


" Terimakasih tuan atas bantuan anda. Anak kami bisa kembali pulang dengan selamat," kata Mira.


" Sama-sama. Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai sesama manusia. Mungkin ini balasan anda karena anda juga sering membantu orang lain," jawab orang itu.


" Oh...bagaimana kalau besok siang anda datang untuk makan siang sebagai ucapan terimakasih saya pada anda," kata Mira lagi.


" Baiklah, saya pasti akan datang. Saya permisi dulu."


Orang itu melangkah pergi. Sementara Mira terus memeluk Bagus.


" Bagus, maafkan bunda. Bunda tidak akan pernah lagi membiarkan Bagus jauh dari bunda," kata Mira.


" Bunda, Bagus takut jika tidak ada bunda. Bagus menunggu bunda sangat lama tapi bunda tidak pernah kembali lagi," kata Bagus sedih.


" Iya, bunda salah."


Saat itu Kasih dan Awan datang dan memeluk Bagus. Mereka sangat senang bisa berkumpul kembali dengan Bagus.


Mira juga tidak lupa meminta Raka untuk mencabut laporan karena Bagus sudah ditemukan. Mira bercerita pada Raka tentang penolong Bagus yang sudah diundangnya untuk datang makan siang dirumahnya besok.


***


Besok siangnya, Raka izin pulang lebih awal untuk menyambut penolong Bagus. Mereka sudah menyiapkan menu makan siang yang enak.


Orang itu tidak datang sendiri. Dia datang bersama istrinya. Mereka secara resmi memperkenalkan diri.


" Namaku Hendrawan biasa dipanggil Hendra. Dan ini istriku namanya Santy," kata Hendra.


" Namaku Raka dan ini Mira istriku," sambung Raka kemudian.


Mereka mulai akrab dan berharap bisa menjadi saudara. Hendra dan Santy sudah menikah selama 10 tahun. Tapi sampai saat ini mereka belum dikaruniai keturunan. Karena itu mereka sangat senang dengan anak-anak.


Selama mereka mengobrol, Raka menangkap hal yang mencurigakan pada Hendra. Matanya tidak berhenti melihat Mira. Namun Raka pura-pura tidak tahu. Sedangkan Mira tidak menyadarinya sama sekali karena asyik menobrol dengan Santy.


Malamnya Raka mencoba bertanya pada Mira. Mungkinkah Mira dan Hendra saling kenal sebelumnya atau tidak.


" Sayang, apa sebelumnya kamu mengenal Hendra?" tanya Raka.

__ADS_1


" Tidak. Ini kali kedua bertemu dia. Ada apa?" tanya Mira kemudian.


" Sepertinya dia menyukaimu..."


" Apa, menyukaiku? jangan bilang kamu cemburu sama orang yang sudah menyelamatkan anak kita," kata Mira sambil tertawa.


" Mungkin. Sebagai laki-laki, aku tahu tatapan matanya seperti saat aku jatuh cinta padamu," katanya serius.


" Sudahlah pak dokter... Aku ini milik pak dokter seorang. Tidak akan ada orang lain lain yang bisa mengambilku darimu. Aku janji..."


" Benar. Kamu adalah milikku. Maka aku bisa melakukan apapun padamu," kata Raka meraih pinggang Mira dan mendekatkan ketubuhnya.


Merekapun berakhir di ranjang.


***


Namun Raka tidak bisa menghilangkan rasa penasaran dan perasaan cemburunya. Terlebih setelah mereka mengikat persaudaraan, Hendra banyak mengirimkan hadiah tidak hanya untuk ketiga anaknya tapi juga untuk istrinya, Mira. Walaupun dia menutupinya dengan mengatasnamakan istrinya Santy.


Raka akhirnya ingin bertanya langsung pada Hendra. Mungkin ini adalah pilihan terbaik daripada dirinya terus didera kecemburuan. Walaupun Raka sangat percaya pada Mira, tetapi sebagai suami dia tidak ingin ada laki-laki lain yang mendambakan istrinya terlebih terlihat olehnya.


" Ada apa dokter Raka ingin bertemu denganku? Apakah begitu penting?" tanya Hendra.


" Apa yang dokter katakan, aku sungguh tidak mengerti," jawab Hendra agak bodoh.


" Hendra, kita bicara sebagai sesama laki-laki. Dari cara pandangmu dan sikapmu pada istriku sangat berbeda. Bukankah kita sudah sepakat menjadi saudara. Aku ingin kamu jujur padaku. Apakah kamu menyukai istriku?"


" Pak dokter salah paham. Aku hanya mengagumi istri pak dokter," kata Herdra.


" Mengagumi istriku?" Raka semakin kesal.


" Begini, istrimu adalah dewi penolongku. Dia menyelamatkan nyawaku disaat yang tepat. Saparuh darah ditubuhku adalah darahnya," cerita Hendra.


" Mira...?" kata Raka hampir tak percaya.


" Dia membayar biaya operasiku meski dia tidak tahu siapa aku dan apakah uangnya akan kembali. Kami tidak saling mengenal. Tapi dia sangat peduli dengan nyawaku. Siapapun yang menyakitinya aku akan membalaskan untuknya. Dan apa yang membuat dia bahagia aku akan ikut menjaganya."


" Jadi uang 50 juta yang seharusnya untuk tambahan modal butik untuk membayar biaya rumah sakitmu?" kata Raka.


" Apakah dia tidak bilang padamu?" tanya Hendra.

__ADS_1


" Dia hanya bilang untuk menyelamatkan nyawa orang. Aku kira dia butuh uang itu dirinya sendiri dan dia malu memintanya dariku. Makanya aku tidak bertanya lebih jauh."


" Istrimu adalah wanita yang jujur."


" Dan aku yang malah meragukannya," sambung Raka.


" Maafkan aku jika aku membuatmu cemburu," kata Hendra.


" Aku juga minta maaf karena aku sudah mencurigaimu," balas Raka.


Akhirnya kesalahpahaman itu berakhir sudah. Raka akhirnya bisa bernafas lega setelah bicara dengan Hendra.


***


Raka semakin mengagumi Mira. Dia sangat mencintainya dan dia memilih wanita yang tepat sebagai ibu dari anak-anaknya kelak.


Raka rebahan diatas ranjang sambil mamandangi istrinya yang sejak tadi sibuk menggambar. Mira memang sering menggambar desain dikamar jika sudah agak larut malam.


" Pak dokter, jangan terus menatapku, aku jadi tidak fokus menggambar. Jika seperti ini bagaimana aku bisa menyelesaikannya tepat waktu. Toko online-ku akan segera merilis desain baru. Belum lagi butik juga butuh yang fresh untuk menarik pelanggan," kata Mira.


Raka berdiri dan berjalan mendekati Mira yang mulai kehabisan ide. Dia lalu memijit pundak Mira dengan lembut.


" Bagaimana, sudah santaikah? Jangan menyalahkan perhatianku jika kehabisan ide. Santailah sebentar, pasti nanti idenya akan muncul lagi," kata Raka lembut.


Mira hanya mengangguk dan menikmati pijitan suaminya sambil memejamkan matanya.


Raka tiba-tiba mengangkat tubuh istrinya dan diletakan diatas ranjang. Mira kaget dan hampir saja berteriak.


" Pak dokter...." teriak Mira agak lemah.


" Kamu rebahan saja. Biar enak pijitnya," kata Raka.


Raka mulai memijit kaki Mira yang halus, putih dan mulus. Pijitannya berubah menjadi sentuhan halus. Dia meyingkap gaun Mira hingga ke pangkal pahanya. Raka menelan ludahnya melihat bagian tubuh istrinya yang elok. Dia menciumi paha istrinya dengan lembut dan membuat Mira menggeliat kegelian. Raka mulai beraksi sambil mematikan lampu kamarnya.


***


Kebahagiaan rumahtangga yang mereka jalani ternyata juga diikuti dengan ujian dan cobaan hidup.


Mungkin juga cinta perlu ujian.

__ADS_1


Dokter Raka menerima tugas untuk membantu korban bencana alam di daerah papua. Sebagai seorang dokter tidak ada alasan untuk menolak tugas kemanusiaan itu. Mira sebenarnya tidak ingin suaminya pergi tapi tugas tetaplah tugas. Mira hanya bisa berdoa demi keselamatan suaminya yang baru dinikahinya 6 bulan lalu.


__ADS_2