Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Impian Mira


__ADS_3

Mira pindah kerumah lama. Dia berdiri di depan rumah yang tampak begitu bersih dan rapi menunjukan bahwa rumah ini dirawat dengan baik oleh adiknya. Semua masih sama seperti dulu sebelum dia tinggalkan.


" Rumahku, aku datang kembali seperti janjiku."


Mira menarik nafas panjang. Mencoba merasakan udara yang dihirupnya yang memang tidak sejernih di kampung. Perlahan Mira membuka pintu diikuti ketiga anaknya masuk.


Ketiga anaknya berlarian menuju kekamarnya yang dulu mereka tempati. Mira berkeliling disetiap sudut rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan pahit dalam hidupnya.


Kenangan yang pernah dia tinggalkan, bermunculan kembali di ingatannya. Bagai pemutaran sebuah film di bioskop. Sangat jelas dan ini seperti sebuah peringatan bagi Mira untuk lebih menghargai hidupnya yang sekarang dia jalani.


Semua sudah menjadi masa lalu. Walaupun tidak mudah untuk melupakannya, Mira akan menjadikan masa lalunya menjadi cambuk untuknya menjadi orang yang lebih baik dan lebih kuat dalam meraih kebahagiaannya.


Mira kini fokus mengurus ketiga anaknya dan mengurus butik yang mulai dirintisnya dengan bantuan adiknya, Fara. Meski merasa kesulitan mengatur waktu, tapi Mira menjalaninya dengan sabar.


Mira dan Fara membicarakan tentang perkembangan pembukaan butik barunya.


" Bagaimana persiapan pembukaan butik, apakah ada masalah?" tanya Mira.


" Tidak ada masalah mbak. Semua sesuai rencana. Bagaimana mbak Mira bisa mendapatkan tempat yang bagus itu, pasti sewanya mahal," jawab Fara balik bertanya.


" Itu...dokter Raka yang kasih. Katanya tempat itu investasi dia, untuk masa depan kami," jawab Mila agak malu.


" Wah, kakak iparku memang is the best. Mbak Mira beruntung memiliki dokter Raka. Selamat ya mbak..." ledek Fara.


" Hmmm...iya sih. Aku beruntung banget memiliki dia. Tapi ..." jawab Mira agak sedih.


" Mbak, seharusnya mbak Mira berterus terang pada mas Raka. Jadi kalian bisa cari solusinya bersama-sama. Jangan sampai kalian menunda terlalu lama," kata Fara menasehati kakaknya.


" Kamu benar Fara. Nanti setelah acara pembukaan ini selesai, aku akan cari waktu untuk berbicara dengan pak dokter," jawab Mira.


Dari luar terdengar suara bel berbunyi nyaring.


" Biar aku yang buka," ucap Fara.

__ADS_1


Fara melangkah keluar untuk membuka pintu. Fara terkejut melihat Nanda yang datang dengan membawa boneka dan mainan untuk anak-anak.


" Mas Nanda, bagaimana mas Nanda tahu kalau mbak Mira sudah kembali kerumah ini?!" tanya Fara.


Nanda hanya tersenyum penuh misteri.


" Untuk apa mas Nanda datang kesini. Seharusnya mas Nanda sudah tidak ada urusan lagi dengan mbak Mira. Sebaiknya mas Nanda pergi saja, jangan ganggu mbak Mira lagi?!" kata Fara kesal.


" Fara, adik iparku. Aku datang bukan untuk mengganggu kakakmu tapi kamu lihat ini. Ini mainan untuk Kasih, Bagus dan Awan. Aku kangen mereka bertiga," jawab Nanda sambil menunjukan barang-barang yang ada ditangannya.


" Fara, siapa yang datang?" tanya Mira dari dalam ruang kerjanya.


" Bukan siapa-siapa mbak," jawab Fara sambil mendorong tubuh Nanda keluar.


Tapi Nanda membalas dengan mendorong masuk Fara hingga Fara hampir jatuh.


" Mira, ini aku Nanda..." teriak Nanda sambil berlari masuk kedalam ruang kerja Mira.


Mira kaget dan dia terdiam sesaat ketika Nanda tiba-tiba ada di depannya.


" Mas Nanda, ada perlu apa kamu kemari?" tanya Mira.


" Mira, aku kangen sama anak-anakku. Izinkan aku menemui mereka. Aku hanya ingin memberikan mainan ini pada mereka. Tolonglah..." pinta Nanda.


" Jangan mbak Mira, jangan izinkan. Dia pasti punya tujuan tertentu pada mbak Mira," bisik Fara pelan tapi Nanda bisa mendengarnya.


" Fara, kamu terlalu curigaan. Aku sudah bilang kalau aku hanya pingin ketemu anak-anak saja," kata Nanda membela diri.


" Sudahlah Fara, apapun tujuan dia, hanya dia yang tahu. Bagaimanapun dia tetap ayah mereka. Silahkan mas Nanda menemui anak-anak. Aku akan memanggil mereka," kata Mira.


Mira melangkah pergi meninggalkan Fara dan Nanda yang saling mencibir. Tak berapa lama Mira datang dengan membawa ketiga anaknya. Mulanya mereka bertiga enggan bertemu ayah mereka. Ketiganya melihat ke arah bundanya sebelum mereka berani mendekati ayahnya. Setelah Mira memberi isyarat setuju, barulah Bagus dan Awan mendekati ayah mereka.


Sedangkan Kasih masih tetap berdiri disamping bundanya karena Kasih masih mengingat perlakuan ayahnya pada bundanya dulu.

__ADS_1


" Bagus, Awan. Ini ada mainan untuk kalian. Semoga kalian suka..." kata Nanda sambil menunjukkan beberapa mainan pada Bagus dan Awan.


" Telimakasih papa..." kata Bagus dan Awan hampir bersamaan.


" Dan ini tolong berikan sama kak Kasih ya..."


" Iya papa ..." jawab Bagus.


Bagus mengambil boneka dari tangan papanya lalu diberikannya pada kakaknya Kasih. Kasih tidak mau menerimanya, namun Mira berusaha membuat Kasih menerimanya dengan mengambil boneka itu dari tangan Bagus.


" Bunda, jangan paksa Kasih," kata Kasih pada bundanya.


Mira menyadari Kasih masih trauma dengan perlakuan Nanda pada bundanya setahun yang lalu. Mira tak ingin memaksa Kasih dan membuatnya sedih.


Nanda mengajak Bagus dan Awan bermain dengan mainan yang dia bawa di ruang tengah.


" Mbak Mira...," panggil Fara.


" Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak selemah itu. Ketika aku memutuskan kembali kerumah ini, aku sudah menyiapkan hati untuk menghadapi ini. Aku tidak akan pernah memberi kesempatan untuk masa lalu kembali lagi. Dan menghantuiku. Tapi kenyataan bahwa dia adalah ayah dari anak-anakku tidak bisa aku ubah," kata Mira pada Fara.


" Fara ngerti mbak. Fara hanya tidak suka mas Nanda mendekati anak-anak untuk tujuan lain," ucap Fara pelan.


" Sudahlah...Apapun tujuannya, asalkan dia tidak menyakiti anak-anak biarkan saja. Besok setelah aku antar anak-anak pindah sekolah, aku baru bisa ke butik. Jadi kamu uruslah sendiri persiapannya sampai aku datang."


" Beres mbak. Tenang saja, serahkan semua padaku," jawa Fara.


Mira tersenyum melihat semangat Fara. Semangat kerja keras dan semangat penuh tanggungjawab. Mira berharap butik miliknya kelak bisa berkembang dengan baik. Dia tidak berharap untung yang besar, hanya agar para istri yang ingin tampil modis walaupun dengan biaya terbatas bisa terwujud. Harga terjangkau tapi kualitas tetap terjaga.


Mira ingin semua istri-istri bisa menjaga penampilan agar bisa bersaing dengan para pelakor yang berkeliaran di antara para suami mereka. Wanita yang mempunyai rasa percaya diri dan bisa tampil modis meski hanya sebagai seorang ibu rumahtangga.


Setiap hari mengurus rumah dan megurus anak-anak tidak harus membuat kita tampil kucel. Meskipun suami hanya memberikan uang bulanan yang hanya cukup kebutuhan sehari-hari. Mira ingin istri-istri yang seperti itu juga punya kesempatan merawat diri biarpun hanya sekali untuk datang ketempatnya, dan akan mendapatkan diskon.


Impian Mira untuk melihat semua istri bisa maju selangkah ingin segera diwujudkan.

__ADS_1


__ADS_2