Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Keputusan terakhir


__ADS_3

KDRT yang dilakukan Nanda pada Mira, telah mengubah segalanya. Mira mulai memikirkan kembali semua yang telah dialaminya selama ini. Dari awal menikah hingga hal terakhir yang dialaminya kemarin.


Ternyata selama ini banyak hal yang sudah dialaminya yang membuat dirinya terlihat menjadi wanita yang terlalu lemah yang hanya bisa menerima nasib dan tidak berani melangkah kedepan.


Beberapa kali tamparan dari suaminya sepertinya telah menyadarkannya dari mimpi buruknya. Bayangan perlakuan suaminya terhadapnya, yang tidak akan pernah bisa diterima wanita manapun di dunia ini.


Tubuh Mira terasa lemah dan dia tak dapat menahan matanya yang tiba-tiba ingin terpejam. Ketika terbangun dia ternyata sudah ada di rumah sakit. Di sampingnya ada Fara yang terlihat sangat sedih.


" Fara, apa yang terjadi. Kenapa aku bisa berada di rumah sakit."


" Mbak Mira sudah sadar? Syukurlah mbak. Fara sangat khawatir karena sudah hampir 3 jam mbak Mira tidak sadarkan diri." Fara sangat senang melihat kakaknya sudah sadar.


" Benarkah, seingatku tadi aku melamun di rumah."


" Apa yang kakak pikirkan sampai kakak tiba-tiba pingsan? Apakah karena mas Nanda berani memukul kakak?" Pertanyaan Fara membuat Mira enggan menjawab.


" Darimana kamu tahu?" Tanya Mira.


" Kasih yang memberitahuku. Mas Nanda memang sudah keterlaluan. Menganiaya istri di hadapan anak-anaknya, sungguh tak berperasaan." Kata Fara marah.


" Jika dia berperasaan, dari awal dia tidak akan menghianatiku dan menikahi wanita lain." Ucap Mira pelan.


" Kata dokter, mbak terlalu banyak pikiran dan tidak ada obatnya. Obatnya adalah hati mbak Mira sendiri. Makanya mbak Mira jangan terlalu banyak pimiran. Jika mbak Mira terus menerus seperti ini menerima perlakuan mas Nanda, mbak Mira bisa mati menahan sakit hati. Lalu bagaimana hidup ketiga anak mbak yang masih membutuhkanmu. Pikirkanlah, mereka bertiga sangat mencintai mbak Mira dan mereka tidak akan bahagia jika mbak Mira menderita." Fara diam sesaat. " Ayah dan ibu almarhum akan mengerti keadaan mbak Mira. Mereka akan lebih senang jika melihat kakak bahagia daripada mbak bertahan tapi menderita."


Fara mencoba membuka hati Mira yang terikat janji pada ayah dan ibunya yang sudah tiada.


Mira termenung dan menarik nafas panjang.

__ADS_1


" Mbak, diluar ada mas Nanda bersama Nela. Kami tadi bertengkar."


" Kenapa?"


" Mas Nanda tidak punya niat baik. Katanya mau minta maaf atas perlakuannya kemarin, tapi datang bersama selingkuhannya itu. Bikin emosi saja. Mbak Mira harus cepat sembuh dan segera membuat keputusan untuk berpisah saja dengan mas Nanda demi anak-anak dan juga diri mbak Mira sendiri."


" Iya, Fara. Semua harus aku akhiri. Karena kesabaran ada juga batasnya. Ternyata, sampai disinilah akhir dari batas kesabaranku."


Mira pulang dari rumahsakit bersama Fara dan ketiga anaknya. Bibi Mei menyambut Mira dengan membuat masakan kesukaan Mira, ayam krispy. Mereka menikmati hari ini dengan menghabiskan masakan bibi Mei.


Mira sudah mengambil keputusan yang seharusnya sejak awal dia lakukan. Pengacara Ziko menawarkan bantuan untuk membantu Mira dalam proses perceraiannya jika Nanda mempersulit Mira dalam mengambil hak asuh ketiga anaknya. Tapi Mira menolaknya, karena Mira ingin berpisah secara damai. Mungkin nanti jika Nanda benar-benar mempersulitnya atas hak asuh ketiga anaknya, baru Mira akan mempertimbangkan bantuan pengacara Ziko.


Mira datang ke perusahaan Nanda, membawa selembar surat cerai yang sudah dia tanda tangani. Dia berjalan menuju kantor Nanda dengan perasaan tenang. Dia mengetuk pintu dan terdengar suara suaminya mempersilakan dia masuk.


" Masuk."


" Mama, ada apa? Tumben mama datang ke kantor papa? Duduklah. Papa belum sempat minta maaf pada mama atas perlakuan papa. Maafkan papa, ma."


" Papa sudah bersedia meminta maaf, tentu tidak ada alasan mama untuk tidak memaafkan." Mira tersenyum getir lalu duduk didepan Nanda. " Mama datang kesini hanya ingin memberikan ini pada papa."


Mira memberikan lembaran surat cerai yang sudah ditandatangani Mira pada Nanda. Nanda kaget saat melihat isi kertas tersebut.


" Ma, apa-apaan ini. Jangan bercanda ma."


" Tidak, pa. Mama tidak bercanda. Mama harap papa bisa segera menandatanganinya."


" Apakah mama masih marah dengan papa? Bukankah mama sudah memaafkan papa? Katakan saja apa yang harus papa lakukan agar papa tidak perlu menandatangani surat cerai ini."

__ADS_1


" Selama ini, mama tidak pernah meminta apapun dari papa. Apakah papa tidak bisa mengabulkan keinginan mama kali ini saja? Dulu, papa juga melakukan hal yang sama, meminta tanda tangan mama untuk mengizinkan papa menikah lagi." Mira menghela nafas berat.


" Ma, Tidakkah mama pertimbangkan lagi, demi anak-anak." Nanda memohon pada Mira.


" Sudah bertahun-tahun mama bertahan hidup bersama papa. Menahan semua kepahitan dan penderitaan yang papa berikan, juga demi anak-anak. Tapi hal itu tidak pernah papa pedulikan. Pengorbanan yang tidak pernah papa hargai. Sudah cukup bagi mama dan juga bagi anak-anak merasakan ketidak adilan papa sebagai seorang ayah dan juga seorang suami." Mira mulai meneteskan airmata mengingatnya.


" Papa janji, papa akan bersikap adil pada mama dan anak-anak. Percayalah pada papa."


Ucap Nanda penuh keyakinan.


Tapi Mira hanya menggelengkan kepal tanda tidak yakin dengan janji suaminya. Nanda menjadi kesal sendiri dengan sikap Mira.


" Baik, aku ingin lihat, bagaimana mama bisa hidup tanpa dukungan papa. Menghidupi diri sendiri saja belum tentu mama bisa, apalagi dengan ketiga anak yang masih kecil." Kata Nanda sinis.


" Papa tidak perlu khawatir tentang hidup mama dan juga anak-anak. Tapi semua aset yang sudah atas nama mama, akan tetap menjadi hak mama untuk jaminan masa depan anak-anak."


" Tidak bisa ma, bukankah itu terlalu besar. Papa takut mama akan menghabiskannya dan menjual aset yang ada untuk kepentingan mama sendiri. Dan saat mereka dewasa semua sudah habis, papa tidak mau itu terjadi karena papa tidak akan memberikan tunjangan pada kalian." Nanda berusaha mempersulit Mira.


" Mama janji tidak akan menjual apapun aset milik anak-anak." Mira berusaha meyakinkan Nanda.


Dengan perasaan berat, akhirnya Nanda bersedia menandatangi surat cerai tersebut. Nanda menyerahkan surat cerai yang sudah mereka berdua tanda tangani, nanda berkata pelan pada Mira untuk mengingatkannya.


" Kembalilah padaku jika suatu saat mama merasa sudah tidak sanggup hidup susah."


" Setelah keluar dari penderitaan, tidak akan mungkin aku kembali untuk jatuh ke tempat yang sama untuk kedua kalinya." Ucap Mira penuh keyakinan." Mira, istrimu yang setia dan penurut telah mati. Yang dihadapanmu sekarang adalah Mira yang baru. Mulai hari ini aku bukan istrimu lagi."


Mira melangkah meninggalkan masa lalunya yang suram dan penuh derita. Dihadapannya sudah menunggu masa depan yang baru. Masa depan yang Mira sendiri tidak tahu, apakah dia sanggup meraih impiannya yang baru akan dia mulai. Namun yang pasti senyumnya terlihat manis diwajahnya yang penuh harapan.

__ADS_1


__ADS_2