
Nanda mulai membuka mata. Kepalanya terasa berat dan masih terasa pusing. Tubuhnya terasa mulai hangat terkena pancaran sinar matahari yang sudah mulai tinggi. Rupanya semalam dia tidur diluar rumahnya.
Nanda mencoba mengingat kejadian semalam. Dia semalam mabuk dan pergi kerumah Mira. Lalu ada beberapa orang yang memaksa membawanya pergi naik mobil dan membawanya pulang. Orang-orang itu sangat kasar pada Nanda dan mereka melempar Nanda kehalaman rumahnya. Tanpa alas hingga pagi datang.
Meski Nanda penasaran dengan mereka, namun Nanda tidak bisa menebak siapa mereka. Suruhan lawan bisnis Nanda atau mereka ada hubungan dengan Mira. Nanda hanya bisa menduga-duga saja.
Nanda tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Pergi bekerja.
Hari ini investor barunya tiba-tiba datang berkunjung perusahaan tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Pasti ada hal penting yang terjadi. Nanda dengan ramah menyambut kedatangan pak Bram.
" Mari, silahkan duduk pak Bram," sambut Nanda." Apa ada hal yang penting, seharusnya pak Bram cukup menelepon saya saja. Pasti saya yang akan datang menemui pak Bram."
" Tidak perlu. Hal penting ini memang harus segera saya sampaikan sendiri pada pak Nanda. Begini, saya ingin menarik semua investasi yang sudah masuk keperusahaan pak Nanda," kata pak Bram.
Nanda sangat kaget dengan perkataan pak Bram.
" Menarik investasi, apa alasannya?" tanya Nanda.
" Ini adalah perintah bos besar. Saya hanya menjalankan perintah saja," jawab pak Bram.
" Bos besar. Bisakah saya bertemu dengannya untuk menanyakannya sendiri alasan dia mencabut investasi di perusahaanku," Nanda memohon pada pak Bram.
" Saya akan melapor dulu pada bos, baru setelah itu saya akan memberi kabar pada pak Nanda," jawab pak Bram.
Pikiran Nanda mulai kacau. Jika benar investasi pak Bram dibatalkan, maka perusahaan Nanda benar-benar akan bangkrut.
Pak Bram menemui bosnya yang ternyata adalah seseorang yang sangat misterius.
" Bos, dia ingin menemui dan bicara dengan bos secara langsung. Bagaimana saya harus menjawabnya?" tanya pak Bram.
" Katakan saja, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Terutama aku tidak ingin melihat wajah lelaki bejat itu. Aku pasti akan menjadi pembunuh jika bertemu dia," jawab laki-laki itu.
__ADS_1
" Baik bos. Saya akan sampaikan pesan bos pada Nanda," kata pak Bram.
" Apakah dia curiga bahwa kita memata-matai dia?" tanya si bos.
" Kelihatannya tidak bos. Semalam dia juga sudah kita atasi. Dia mabuk dan mengganggu di rumah bu Mira. Tapi kelihatannya dia juga tidak akan menyadari bahwa kita yang sudah membawanya pergi dan melemparnya kehalaman rumahnya semalaman," lapor pak Bram.
" Bagus. Tetap awasi dia jangan sampai dia ada kesempatan mendekati bu Mira lagi," perintah pak bos.
" Sampai kapan kita harus mengawasi Nanda?"
" Sampai Bu Mira menikah dengan dokter Raka. Sehingga dokter Raka bisa menjaganya. Pastikan Nanda tidak bertingkah dan melakukan hal yang buruk pada pernikahan bu Mira," jawab pak bos.
" Baik. Saya akan laksanakan semua perintah pak bos."
Pak Bram beranjak pergi meninggalkan bosnya yang tersenyum sinis penuh dendam.
***
Nanda terpuruk sangat dalam setelah semua investasi ditarik kembali oleh pak Bram. Perusahaannya akhirnya benar-benar bangkrut dan sudah tidak bisa tertolong lagi. Tak ada lagi yang bisa dia sesali. Menangis, tentu dia malu.
Sampai pada suatu hari, beberapa orang datang dan menyuruhnya mengosongkan rumah yang dia tempati. Ternyata Rosa sudah menjual rumah ini tanpa memberitahunya. Maka dia kini bagai sebuah pepatah" sudah jatuh tertimpa tangga".
Perusahaan hancur dan rumah tempatnya berteduh juga hilang.
Seperti seorang gelandangan, Nanda berjalan kaki menyusuri jalan yang sepi. Tak terasa sebutir airmata jatuh dipipinya yang kusam.
Pemandangan yang sungguh sangat miris.
Nanda sekarang bingung, dia tidak tahu kemana dia harus pergi. Dia sangat lelah. Lelah hati, lelah pikiran, dan lelah badan.
Dia berhenti di sebuah taman yang sepi. Pikirannya menerawang jauh kebelakang. Masa kejayaan seorang Nanda yang arogan dan sombong. Hidup bergelimang harta, istri yang setia, bahkan dia bisa mencari wanita-wanita yang dia sukai tanpa ada rasa takut dosa.
__ADS_1
Saat itu tidak pernah terbayangkan bahwa akhirnya dia akan terpuruk sendirian. Dia hanya bisa melarikan diri tidak berani pulang kerumah orangtuanya karena malu.
***
Setelah menerima surat cerai dari Nanda, Rosa menikah dengan selingkuhannya yang ternyata juga sudah memiliki istri. Dia kembali menjadi istri kedua untuk kedua kalinya.
Kali ini dia tidak bisa bertingkah seperti dulu karena istri pertamanya tidak menerima keberadaannya. Rosa juga tidak bisa menggantungkan hidup pada suami barunya karena ternyata suaminya tidak punya apa-apa.
Dia menjalankan usaha milik keluarga istrinya dan semua pengeluaran harus lewat istrinya.
Meskipun istri pertamanya tidak meminta untuk menceraikan Rosa tapi ini lebih seperti menyiksa secara tidak langsung. Wanita itu hanya ingin menggantung status Rosa. Bersuami tetapi seperti tak bersuami.
Rosa harus menghidupi dan mencukupi kebutuhan anak-anaknya. karena itulah akhirnya dia memutuskan menjual rumah pemberian mantan suaminya, Nanda.
***
Nanda akhirnya teringat pada Nela. Dia pergi kerumah Nela. Istri siri yang seharusnya sudah dia talak sesuai permintaan Rosa. Namun kata talak belum dia ucapkan hingga kini, sampai dia mentalak Rosa lebih dulu.
Nela menerima Nanda dengan baik walau Nanda datang tanpa uang sepeserpun. Nela mulai mencari pekerjaan untuk hidup mereka selanjutnya. Dia harus menghidupi anak, ibu dan Nanda.
Sebenarnya dia sangat berharap Nanda bisa mencari pekerjaan baru. Karena jika hanya mengandalkan gaji Nela, tidak akan bisa mencukupi kebutuhan mereka berempat.
Namun Nanda merasa malu dan gengsi kalau harus bekerja dibawah perintah orang lain. Dia yang sudah terbiasa memerintah orang, kini berbanding terbalik.
Roda memang berputar. Kadang diatas kadang dibawah. Saat dia berada diatas seharusnya dia banyak bersyukur dan banyak beramal pada mereka yang lebih membutuhkan.
Anak-anak yatim piatu dan orang-orang yang menderita penyakit mematikan yang tidak mampu berobat dan masih banyak orang yang membutuhkan lainnya.
Bukan beramal pada janda-janda cantik lalu menikahinya dan membuat istrinya menderita tekanan batin.
Kini setelah jatuh miskin dan tidak punya apa-apa lagi semua terasa bagai sebuah karma pembalasan.
__ADS_1
Meskipun Mira dari awal hingga akhir tidak pernah berniat membalas dendam pada mantan suaminya yang sudah memberinya luka yang dalam.
Keyakinannya bahwa akan ada balasan dari Tuhan untuk orang yang berbuat dosa membuatnya tidak pernah menyimpan dendam. Bahwa akan ada orang lain yang membalas sakit hatinya tapi bukan dia.