Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Kabar buruk


__ADS_3

Sebelum berangkat tugas, Raka begitu banyak memberi pesan pada Mira.


" Do'akan aku agar bisa segera kembali dengan selamat. Tetaplah bahagia walau tanpa aku di sampingmu. Jaga anak-anak dengan baik. Jangan terlalu capek bekerja, jaga kesehatan dan makanlah tepat waktu. Jika ada waktu, ajaklah anak-anak main kerumah ibu. Dia pasti sangat senang dengan kehadiran mereka,"kata Raka." Selalu ingatlah aku. Aku pasti akan kembali untukmu. Jika kangen pandanglah bulan, dan dimanapun aku berada kita akan tetap memandang bulan yang sama."


Mira hanya mampu meneteskan airmata. Berat rasanya melepas kepergian suaminya. Raka mengusap airmata Mira dan memintanya untuk tidak menangis. Karena Raka tidak akan tahan melihatnya. Bagaimana dia bisa pergi jika melihat istrinya menangis.


" Tersenyumlah untukku," pinta Raka. " Anak-anak, tolong jaga bunda kalian untuk ayah."


" Baik ayah," jawab mereka bersamaan.


Mira mengantar kepergian suaminya dengan senyum yang dipaksakannya.


Hari demi berlalu. Mira dan anak-anaknya tetap beraktivitas seperti biasa. Hendra dan Santy semakin dekat dengan keluarga Mira. Raka setiap hari menyempatkan diri untuk menghubungi Mira disela-sela kesibukan pekerjaannya.


Namun setelah satu minggu, Raka tidak lagi menghubunginya. Mira sangat khawatir. Namun dia tidak bisa menunjukkannya dihadapan anak-anaknya.


Sampai ada pihak rumahsakit tempat kerja Raka menyatakan kabar buruk tentang kecelakaan saat Raka bertugas. Mira sangat syok mendengar bahwa suaminya terjatuh kejurang saat bertugas.


Pihak kepolisian dan rekan-rekannya sudah melakukan pencarian, namun dia tidak ditemukan. Hingga Raka dinyatakan sudah meninggal dan jasadnya tidak ditemukan.


Mendengar penjelasan dari pihak kepolisian, Mira tak dapat menahan kesedihannya atas apa yang terjadi pada suaminya. Tatap matanya kosong dan tubuhnya lemas akhirnya dia jatuh pingsan. Mira dibawa kerumah sakit dan dia harus menjalani perawatan. Tubuhnya lemah dan kekurangan cairan.


Rupanya sejak pertama kali mendengar kabar buruk tentang suaminya, dia tidak nafsu makan dan tidak bisa tidur. Dia hanya bisa menangis secara diam-diam takut ketiga anaknya tahu dan ikut sedih.


Saat dirumah sakit itulah, diketahui bahwa Mira sedang hamil 2 bulan. Kabar baik ini seharusnya menjadi kabar baik untuk Mira dan Raka. Tapi kehamilan ini membuat Mira bertambah sedih tanpa suaminya. Hal yang paling diharapkan Raka, tapi Raka tidak bisa mendengar lagi kabar baik ini.


Setelah keluar rumahsakit, Mira mengadakan acara doa bersama untuk mendoakan jiwa suaminya. Walaupun Mira masih belum yakin bahwa suaminya meninggal. Namun ibu mertuanya meminta Mira harus menerima kenyataan tentang kematian Raka. Maka selama 7 hari, ibu mertuanya yang mengurus doa bersama di rumah Mira.


Hari-hari yang dilalui Mira adalah hari yang panjang. Dia sampai harus masuk rumahsakit terkait kesehatan kandungannya. Semua orang prihatin melihat kondisi Mira. Namun mereka tidak bisa membantu meringankan beban hatinya. Semua nasehat dan saran dari orang-orang dekatnya tak ada satupun yang didengarnya. Untung saja ketiga anaknya selalu menemani Mira agar tetap bertahan.

__ADS_1


Setiap malam duduk diluar setidaknya satu hingga dua jam hanya untuk melihat bulan. Dia sangat merindukan suaminya. Dengan melihat bulan dia membayangkan, dimanapun suaminya berada, saat ini pasti dia juga melihat bulan yang sama seperti yang dia lihat. Harapan semunya ini menjadi bagian kehidupannya saat ini dan tetap percaya akan ada keajaiban untuknya.


Malam itu dia menatap bulan yang terlihat bulat bersinar. Mira bersandar dikursi santainya yang biasa dia gunakan. Tiba-tiba terdengar suara suaminya yang berdiri disampingnya.


" Sayang, apa yang kamu lakukan disini? Ini sudah malam. Masuk dan istirahatlah," kata Raka.


Mira tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


" Pak dokter...Benarkah ini kamu? Kamu kembali...untukku dan calon anakmu?" kata Mira senang.


" Tentu saja," kata Raka sambil duduk disamping Mira.


Mira memeluk erat suaminya dan melepas kerinduan yang terpendam selama ini dalam hatinya. Raka membalas pelukan istrinya yang tampak lemah.


" Sayang, mengapa tubuhmu lemah sekali. Kenapa kamu tidak menjaga tubuhmu dengan baik."


" Pak dokter, aku sangat sedih. Semua orang menganggap kamu sudah meninggal. Tapi aku yakin bahwa kamu masih hidup dan sekarang nyatanya kamu ada disampingku."


" Baik, mulai sekarang aku janji aku akan menjaga diri dan anak kita dan melakukan yang terbaik untuknya."


" Nah begitu lebih baik. Aku pasti akan selalu bersamamu dihatimu."


Mira membuka mata dan mencari suaminya disemua sudut kamarnya. Dia tak ada. Rupanya hanya mimpi. Mira menangis dan mengingat semua mimpinya. Pesan suaminya yang harus dia lakukan.


Dengan harapan dimanapun suaminya berada, Mira tidak akan membuat suaminya kecewa padanya.


***


Mira mulai bangkit dari keterpurukannya. Menjalani kehidupan yang normal kembali seperti biasa. Semua orang disampingnya mendukung perubahan sikapnya.

__ADS_1


Kehidupan Mira kini hanya untuk ketiga anaknya dan bayi yang ada dalam kandungannya yang mulai membesar. Semua pekerjaan sudah dia serahkan pada Fara. Dia datang hanya untuk memeriksa saja. Namun dia masih bisa mendesain pakaian jika kondisinya memungkinkan.


Mulanya semua berjalan sesuai harapan Mira, hingga Nanda mulai datang Lagi mengusik hidupnya.


Dia datang dengan alasan menemui ketiga anaknya. Meski Mira tidak suka tetap Mira tak bisa menolak kedatangannya.


Suatu hari dia datang di waktu yang tidak tepat. Anak-anak sudah pergi sekolah dan bibi pergi kepasar.


" Mas Nanda, anak-anak sudah berangkat sekolah. Datanglah nanti siang jika mencari mereka," kat Mira.


" Aku tahu. Tapi kali ini aku datang bukan mencari mereka. Aku ingin bicara denganmu," kata Nanda.


" Baiklah. Katakan yang ingin kamu katakan."


" Aku... berilah aku kesempatan menjaga kalian. Sekarang kamu sedang hamil dan butuh seseorang untuk menjagamu."


" Apa...? Dulu kamu juga pernah meminta hal yang sama. Dan sekarang juga sama. Jawabanku tetap sama. Semua sudah berlalu."


" Mira, dulu kamu menolakku karena Raka. Tapi sekarang Raka sudah tidak ada. Meski aku tidak sekaya dulu, aku pasti akan bekerja giat untukmu."


" Siapa bilang suamiku sudah tidak ada. Meski dia tidak ada, aku juga tidak akan kembali padamu."


" Mira, kamu butuh seseorang untuk melindungimu. Dan hanya aku yang akan mau menerimamu dengan keadaanmu saat ini. Tiga anak bahkan sekarang kamu dalam keadaan hamil."


Mira sangat marah dengan ucapan Nanda yang seolah memojokakannya. Namun sekuat tenaga dia menahannya. Dia sedang hamil dan tak boleh terlalu emosi. Nanda sudah sangat keterlaluan menghinanya.


Namun sebuah suara mengejutkan mereka berdua yang sedang bersitegang.


" Siapa bilang tidak ada yang akan menerima Mira dengan keadaannya sekarang."

__ADS_1


Mira dan Nanda mencari arah sumber suara yang tidak asing bagi mereka.


__ADS_2