Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Ibu Mira meninggal


__ADS_3

Sehabis makan siang, Mira membawa Kasih dan bibi Mei pergi kerumah ibunya Mira. Ada rasa kangen ingin memeluk ibunya. Entah karena beban berat yang ditanggungnya saat ini, ingin mencari seseorang yang bisa menjadi tumpuan tempatnya berbagi.


Kehamilan keduanya ini, membuatnya tertekan apalagi dengan sikap suaminya yang acuh tak acuh padanya. Tapi Mira bingung apakah harus mengatakan atau tidak. Bagaimana jika ibunya terlalu banyak pikiran lalu jatuh sakit, karena ibunya sudah tua.


Mira ingin membuat ibunya bahagia dan santai dihari tuanya.


Semua orang tua, pasti ingin melihat anak-anaknya hidup bahagia. Mempunyai kehidupan rumah tangga yang harmonis. Apalagi dengan kehadiran cucu-cucu yang manis.


Demikian juga dengan ibu Sri ibunya Mira. Ibunya sudah menjanda sejak Mira masih SMA. Ayahnya meninggal karena penyakit kanker yang terlambat diketahui.


Ayah Mira adalah sahabat dan partner kerja ayahnya Nanda. Ketika di vonis terkena kanker, ayah Mira berhenti bekerja dan fokus pada pengobatannya.


Semua harta habis untuk berobat, termasuk saham perusahaan juga sudah dijual. Ayahnya Nanda juga banyak membantu biaya berobat ayah Mira hingga sampai akhirnya ayah Mira tak bisa bertahan lagi.


Semua biaya pemakaman ditanggung ayah Nanda. Ayah Nanda juga berjanji pada ayah Mira untuk membantu membiayai sekolah Mira dan adiknya hingga sampai ke perguruan tinggi. Namun ini menjadi rahasia antar orangtua.


Hingga menjelang hari pernikahan Mira, ibunya baru memberitahukan hal itu pada Mira. Ayahnya berpesan pada ibunya untuk disampaikan kepada Mira.


" Jika suatu hari, Nanda dan Mira memutuskan untuk menikah. Sampaikan pada Mira untuk menjadi menantu dan istri yang baik bagi keluarga Nanda. Ada banyak hal yang tidak bisa dibalas dengan uang."


Tapi, Mira bertahan bukan hanya karena pesan terakhir ayahnya, tapi juga demi masa depan anaknya. Perceraian memang solusi yang baik, tapi yang akan menjadi korban adalah anak-anaknya yang tidak berdosa.


Masa sulit yang pernah dialaminya tanpa sosok seorang ayah. Apalagi bagi seorang anak yang masih kecil, masih membutuhkan kedua orangtuanya untuk masa pertumbuhannya.


Mira tidak sanggup melihat anaknya menangis dan menderita, karena itu biar tangis dan penderitaan ini dia yang tanggung.


Ibu Sri menyambut kedatangan Mira dengan senyum ramah dan tulus. Kasih segera berlari kearah neneknya.


" Nenek..." Teriak Kasih.


" Cucu nenek. Sudah semakin besar sekarang." Sambut ibu Sri dengan gembira.


Cucu dan nenek saling berpelukan.


" Ibu." Suara lemah Mira menyapa ibunya.


" Masuklah, ibu sudah buatkan kue kesukaan kamu Mira."


" Terimakasih bu."


Mira tersenyum lembut kepada ibunya.


" Bu Mira, bibi temani neng Kasih bermain." Kata bibi Mei memberi kesempatan pada Mira untuk berdua dengan ibunya.


" Ya bi, terimakasih."


Bibi Mei membawa Kasih bermain, sementara Mira dan ibu Sri berbincang di ruang tengah.

__ADS_1


" Bagaimana kabar ibu, apakah masih sering sakit?" Tanya Mira dengan nada khawatir. " Mira tidak bisa sering menjenguk ibu."


" Ibu baik-baik saja. Mira tidak perlu khawatir dengan kesehatan ibu. Adikmu menjaga ibu dengan baik." Kata ibu Sri sambil tersenyum.


" Fara kemana, kenapa tidak kelihatan?"


" Dia pergi belanja untuk keperluan sehari-hari. Kebetulan sudah pada habis." Ibu Sri menghela nafas. " Dia berhenti bekerja untuk merawat ibu."


" Tapi Farhan juga ingin dia berhenti bekerja kan."


" Iya, Farhan ingin Fara fokus mengurus dia dan ibu."


" Farhan laki-laki dan suami yang baik. Fara sangat beruntung bu." Kata Mira sedih.


Mira menyadari ibunya akan terbawa suasana hatinya, lalu Mira tersenyum walau terasa dibuat-buat agar tidak membuat ibunya ikut sedih.


" Ibu, Mira ada kabar baik."


" Kabar baik apa?"


" Mira hamil, ibu akan mempunyai cucu lagi."


" Hamil?"


Wajah ibu Sri berubah cemas. Entah apa yang ada dipikirannya. Mira jadi bingung. Dia mengatakannya bukan untuk membuat ibunya cemas, tapi untuk membuat ibunya senang.


" Mira, apa kamu bahagia dengan kehamilan kamu?"


" Tentu saja bu, Mira sangat senang Kasih akan mempunyai seorang adik."


" Dengan keadaan rumah tanggamu yang seperti itu?"


" Ibu..."


" Meskipun kamu tidak memberitahu ibu, ibu yakin kamu pasti tertekan hidup dengan Nanda. Apakah kamu menyalahkan ibu, karena memintamu bertahan demi pesan terakhir ayahmu."


" Tidak, Mira tidak pernah menyalahkan ibu ataupun ayah, aku bertahan juga demi Kasih dan sekarang demi anak yang ada dalam kandunganku. Jadi ibu tidak perlu khawatir. Mas Nanda sangat senang dengan kehamilanku ini."


" Syukurlah. Ibu tidak akan khawatir lagi."


Ternyata ibu Sri tidak tahu jika Nanda menikah lagi untuk yang ketiga. Mira juga tidak sanggup memberitahu ibunya. Apalagi pernikahan itu tidak hanya pernikahan siri tapi sudah sah secara hukum.


Mira memutuskan untuk menyembunyikan pernikahan Nanda demi kesehatan ibunya. Biarlah hari ini demi melihat ibunya bahagia Mira juga harus terlihat bahagia. Apapun yang terjadi, Mira harus tersenyum.


Beberapa hari kemudian.


Ada telepon dari Fara, ibunya terkena serangan jantung dan sekarang berada di rumah sakit. Mira sangat sedih dan kakinya terasa lemas. Diapun terduduk di sofa dengan penuh airmata.

__ADS_1


Mira meminta bibi mei memanggilkan taksi untuknya. Mira pergi ke rumah sakit bersama Kasih dan bibi Mei.


Sepanjang perjalanan Kasih memperhatikan mamanya yang sedang menangis. Mira tak bisa berkata apa-apa, akhirnya bibi Mei yang memberikan jawaban pada Kasih. Kasih juga ikut menangis sambil memeluk mamanya.


Sesampainya di rumah sakit, Mira langsung mencari Fara. Mira melihat Fara sedang menangis di depan ruang UGD.


" Fara, bagaimana keadaan ibu?" Mira bertanya pada Fara yang masih saja menangis.


" Ibu, dia..."


perkataan Fara yang berhenti membuat Mira memiliki firasat buruk.


" Mbak Mira, ibu tidak dapat diselamatkan, ibu sudah meninggal mbak."


" Apa..."


Mira kaget dan syok. Mira terjatuh tak sadarkan diri. Fara berteriak memanggil kakanya, tapi Mira masih tidak membuka matanya.


Setelah sadar, Mira sudah berada diruang rawat inap rumah sakit tempat ibunya meninggal. Disampingnya terlihat Kasih yang sedang menangis dan bibi Mei yang berusaha menenangkan Kasih.


" Bibi, Kasih, dimana Fara?"


" Ibu Mira sudah sadar? Mbak Fara dan mas Farhan sedang mengurus kepulangan jenazah Nyonya Sri."


" Bibi, ibu benar-benar sudah meninggal. Mira tidak ada disampingnya disaat terakhinya."


Mira menangis tiada henti membuat Kasih ikut menangis lagi.


" Bu Mira, ibu jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Ibu saat ini sedang hamil. Kasihan anak yang ada dalam kandungan ibu. Dan lihat neng Kasih juga ikut menangis terus. Maaf bila bibi lancang." Kata bibi Mei.


" Bibi benar, Mira tidak boleh memikirkan diri sendiri. Mira ingin melihat ibu sebelum dimakamkan. Jadi Mira harus tetap sadar. Benarkan bi ?"


Mira berusaha menahan rasa sedihnya.


Mira menghubungi Nanda hingga berkali-kali untuk memberitahukan bahwa ibunya sudah meninggal dan akan segera dimakamkan.


Namun tidak ada jawaban sama sekali.


Kini Mira hanya bisa meninggalkan pesan yang mengatakan bahwa ibunya sudah meninggal. Jika ada waktu datanglah segera.


Mira bersikeras melihat ibunya untuk yang terakhir kalinya. Fara berusaha melarang karena takut kakaknya akan pingsan lagi dan mempengaruhi anak dalam kandunganya. Namun Mira berjanji dia akan diri agar tidak pingsan lagi.


Ditatapnya wajah ibunya.


"Banyak yang ingin Mira katakan pada ibunya. Tapi ibu sudah lebih dulu pergi meninggalkan Mira. Maafkan Mira yang selalu membuat ibu sedih dan tertekan. Bawalah Mira bersama ibu. Mira tidak tahu bagaimana Mira bisa hidup tanps ibu." Mira mulai menangis dan tubuhnya mulai lemas.


Fara segera membawa Mira agak menjauh dari jenazah ibunya karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan Mira.

__ADS_1


__ADS_2