
Rosa menghubungi Nanda untuk memintanya segera kembali. Entah kenapa akhir-akhir ini Rosa selalu ingin bersama dan ditemani Nanda. Namun sudah beberapa kali ditelepon tidak juga ada jawaban. Rosa menjadi kesal lalu melempar telepon genggamnya keatas sofa.
Beberapa menit kemudian telepon genggamnya berdering. Dengan cepat dia meraihnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
" Hallo, mas. Kenapa tidak menjawab teleponku."
" Hallo, Rosa." Suara seorang wanita.
Wah, salah orang. Itu suara ibunya.
" Ibu, maaf. saya kira mas-mas pengantar paket. Kemaren salah kirim."
" Ibu kira mas siapa. Ibu sudah berpikir yang macem-macem."
" Ada apa ibu menghubungi Rosa?"
" Hanya ingin tahu saja kabar anak ibu. Apakah kamu baik-baik saja?"
" Rosa baik-baik saja bu. Jangan khawatir, Rosa bisa menjaga diri."
" Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja. Beberapa hari ini perasaan ibu tidak enak, ibu takut terjadi apa-apa dengan kamu."
" Itu hanya perasaan ibu saja. Ibu, bagaimana keadaan Luky?"
" Anakmu baik-baik saja. Kamu fokus saja dengan kuliah kamu."
" Iya bu. Rosa mengerti."
" Ya sudah, ibu tutup dulu. Ingat, jaga diri baik-baik."
Rosa tertegun, dia sudah membohongi ibunya.
Bagaimana selanjutnya, dia tidak mungkin menyembunyikan semua ini selamanya.
Sementara itu, Nanda masih sibuk menyapa tamu undangan dengan Mira. Rupanya telepon genggamnya tertinggal di kamar mandi sehingga dia tidak tahu Rosa beberapa kali menghubunginya. Hingga seseorang menemukan handphone Nanda di kamar mandi.
" Pak Nanda, ini handphone kamu bukan?"
" Benar, waduh tadi lupa taruhnya. Dimana kamu menemukannya?"
" Dikamar mandi. Lain kali hati-hati naruh benda sepenting itu."
" Ya udah. terimakasih."
Nanda kaget melihat 20 panggilan masuk dari Rosa. Apa yang terjadi?
__ADS_1
" Ma, aku kesana dulu. Aku harus menghubungi seseorang. Ada hal yang sangat penting."
" Baik pa."
Mira hanya bisa melihat Nanda pergi meninggalkannya sendirian. Ingin sekali rasanya Mira tahu siapa yang sedang dihubungi Nanda dan apa saja yang dibicarakan. Belum sempat sadar dengan lamunannya, Nanda sudah datang mengagetkannya.
" Ma, papa ada hal penting yang harus papa lakukan. Papa harus pergi sekarang. Maaf ya ma, papa tidak tidak bisa menemani mama lagi. Tolong sampaikan kata maaf papa untuk adikmu Fara. Papa pergi dulu."
Belum sempat Mira menjawab, Nanda sudah berlalu pergi. Hal penting apa yang membuat Nanda pergi meninggalkannya dihari pernikahan adiknya.
Nanda menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Nanda panik karena Rosa mengatakan kalau ada hal penting yang akan dikatakan Rosa. Jika Nanda tidak segera datang Nanda akan menyesal selamanya.
Sesampanya di rumah Rosa, Nanda segera mencarinya dan menemukan Rosa sedang menangis didalam kamarnya. Nanda semakin panik dan memeluk Rosa.
" Sayang, ada apa, kenapa kamu menangis. Lihat aku sudah ada disini?"
Rosa tidak menjawab pertanyaan Nanda. Dia hanya menyerahkan sebuah test pack. Nanda tertegun melihat test pack ditangannya bergaris dua.
" Sayang, kamu hamil? Seharusnya kamu bahagia kan, kenapa kamu malah menangis?"
" Mas, aku bahagia tapi juga sedih." Rosa menghapus air matanya dengan kedua tangannya. " Aku hamil tanpa suami, bagaimana jika orangtuaku tahu.Mereka bisa membunuhku. Setahu mereka aku kesini untuk kuliah."
" Sayang, itu anak aku."
" Aku pasti tanggungjawab. Tapi aku harus bicarakan dulu dengan istriku."
" Kapan, perut aku makin lama akan semakin membesar. Tidak bisa menunggu terlalu lama, mas."
" Oke, aku ngerti. Besok aku akan bicara pada istriku. Puas. Sudah jangan sedih lagi. Besok aku antar kamu periksa kedokter untuk memeriksakan kandungan kamu."
Rosa tersenyum sambil memeluk Nanda. Senyum kemenangan. "Ini baru awal" katanya dalam hati.
Nanda mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan Mira. Usai makan malam, Mira menidurkan Kasih yang sudah mulai mengantuk. Sementara Nanda menyuruh bibi mei istirahat setelah membereskan meja makan dan mencucu piring.
Nanda masuk kekamar putrinya. Nanda melihat Mira dengan sabar membacakan cerita sampai putrinya tertidur lelap. Mira yang menyadari keberadaan Nanda, tersenyum melihat suaminya.
" Papa, ada apa. Tumben melihat Kasih tidur."
" Papa cari mama. Ada yang harus papa bicarakan sama mama."
Mira menjadi was-was dan berprasangka buruk. Tapi Mira berusaha menghilangkannya dari hatinya.
Mira mengikuti langkah suaminya hingga sampai di ruang keluarga.
"Duduklah." Kata Nanda kemudian.
__ADS_1
Mira duduk dihadapan suaminya yang tengah tertegun sesaat memandangnya.
" Ma, Rosa hamil anak papa. Papa minta mama mengizinkan papa untuk menikahinya."
Mira tersentak tak percaya dengan perkataan Nanda.
" Rosa, siapa Rosa. Hamil, anak papa ?"
" Rosa, wanita yang papa cintai."
" Wanita yang papa cintai?"
" Benar ma, maafkan papa."
Dada Mira terasa sesak. Mira memukul dadanya berulang kali untuk menghilangkan sesaknya. Namun rasa sesak ini semakin mencekiknya.
" Boleh aku tanya, pa. Berapa banyak cinta yang papa punya, sehingga papa bisa membaginya dengan banyak wanita. Belum cukupkah ada Desy, sekarang Rosa dan besok entah Rosa mana lagi yang akan papa berikan cinta papa."
Suara Mira mulai parau dan airmatanya berderai membasahi wajahnya yang pucat.
"Mira, aku tahu kamu marah, tapi aku harus segera menikahinya. Rosa sudah hamil empat bulan. Tak lama lagi akan semakin membesar."
Nanda seolah tidak memperdulikan keadaan Mira saat ini. Yang ada dalam pikirannya hanya kehamilan Rosa.
" Tidak mas, aku tidak akan memberi izin kamu menikahi wanita itu." Kata Mira marah.
" Kenapa, apakah mama pikir kalau mama tidak memberi izin, papa akan melepasnya. Aku bisa saja menikah siri saat itu juga. Tapi aku meminta izin pada mama karena papa menghormati mama sebagai istri papa." Suara Nanda mulai meninggi.
" Menghormati apa. Apa begitu cara papa menghormati istri papa? Jika papa menghormati mama, papa tidak akan bermain-main dengan banyak wanita diluar sana."
" Ma, papa tidak ingin bertengkar dengan mama." Nanda menghela nafas berusaha agar tidak mengimbangi kemarahan Mira.
" Papa yang memulai. Soal izin, bukankah papa pernah melakukannya tanpa izin mama? Setelah meminta maaf, papa akan mengulanginya lagi. Papa keterlaluan." Mira semakin kesal.
" Sudahlah, papa akan pergi saja. Jika papa tetap disini, pertengkaran ini tidak akan berhenti."
Nanda beranjak pergi meninggalkan Mira yang masih kesal dan marah. Tangisnya tak terbendung lagi. Bibi Mei yang mendengar pertengkaran Mira dan Nanda tidak berani keluar. Setelah Nanda pergi, barulah bibi Mei mendekati Mira untuk menenangkannya.
" Ibu Mira, bibi mengerti perasaan ibu Mira. Ibu sudah sangat sabar menghadapi ulah bapak yang selalu membuat ibu Mira menangis."
" Bi, Mira tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi semua ini. Kenapa mas Nanda bisa sangat berubah kejam dan tidak berperasaan? Apa yang salah dengan Mira bibi?" Kata Mira mengeluh.
" Bu Mira tidak salah, bapak yang salah. Bapak tidak tahu, betapa berharganya istri seperti bu Mira. Bibi berharap suatu saat bapak akan menyadarinya."
" Semoga saja." Kata Mira penuh harap.
__ADS_1