
Cerita Raka membuat Mira kaget. Bukan hanya soal coklat dan perhatian Raka yang Mira kira dari Nanda, juga perbuatan Nanda pada Raka. Mira selama ini tidak tahu sisi lain dari mantan suaminya yang suka kekerasan. Dimatanya mantan suaminya dulu adalah pria yang sempurna.
Selama ini Nisa juga tidak pernah sedikitpun memberitahunya tentang Raka ataupun tentang perbuatan Nanda pada Raka. Mungkin karena Nisa menganggap hal itu dapat mempengaruhi hubungan persahabatan mereka.
Mira meneteskan airmata. Mira terharu.
" Kenapa menangis? Aku cerita bukan untuk membuat kamu menangis," tanya Raka sambil menghapus airmata Mira dengan jarinya.
" Aku tidak tahu apa-apa. Saat itu kamu pasti sangat menderita karena dianiaya olehnya," kata Mira.
" Tidak. Saat itu dia mungkin hanya takut kalau aku akan merebutmu darinya. Salahku juga mencintai wanita yang sudah memiliki kekasih. Dia hanya berusaha mempertahankanmu saja."
" Kenapa kamu malah membelanya? Apapun alasannya, dia tidak seharusnya melakukan kekerasan pada orang lain. Kamu juga tidak bersalah. Mencintai adalah hak semua orang. kita tidak tahu kapan dan kepada siapa kita akan jatuh cinta," kata Mira berapi-api. " Lagipula mencintai harus saling mempercayai."
" Sayangku, terimakasih sudah membelaku. Seharusnya dulu aku memberitahumu tentang perbuatannya padaku. Ada kemungkinan kalian akan putus lagi dan aku masih ada harapan. Tapi aku sadar, waktu itu kamu sangat bahagia bersamanya," kata Raka.
" Pertanyaan terakhir, kenapa kamu belum menikah setelah sekian lama," tanya Mira.
" Aku pernah mencoba menjalin hubungan, tapi aku menyadari bahwa aku belum bisa melupakan dirimu. Ini akan menyakiti dia dan juga aku sendiri, jadi aku memilih sendiri dan tenggelam dalam pekerjaanku. Saat kalian menikah, aku memilih bekerja ditempat yang asing. Sampai aku bertemu denganmu lagi," jawab Raka. " Sudah ...kenapa kita harus membicarakan masa lalu saat hari pernikahan kita."
" Maafkan aku...," kata Mira manja.
" Tidak. Kamu harus dapat hukuman," kata Raka tegas.
" Hukuman... ?!" kata Mira agak takut juga.
" Hemmm..."
Raka memegang kedua pipi istrinya dengan kedua telapak tangannya. Dipandanginya wajah istrinya yang terlihat bingung.
Raka mulai tidak bisa menahan diri, detak jantungnya mulai tak beraturan. Dia berpikir bahwa sekarang Mira, wanita dihadapannya ini sudah halal baginya.
Awalnya dia hanya mencium kening Mira, lalu kedua pipinya. Dan berakhir dibibirnya. Balasan Mira membuat Raka semakin tak bisa menahan hasratnya. Ciumannya semakin liar dan hampir tak terkendali.
" Bunda..." teriak Awan dari luar pintu.
Suara teriakan Awan membuat Raka dan Mira kaget. Mereka berusaha merapikan pakaian dan rambut mereka yang agak berantakan. Mereka akan malu jika anak-anak melihat keadaan mereka seperti barusan.
__ADS_1
" Kamu buka pintu, aku akan mandi lebih dulu," kata Raka yang segera melangkah pergi seperti menahan sesuatu.
Mira membuka pintu dan mendapati ketiga anaknya bersama Fara dan bibi Mei. Mira menyuruh mereka masuk.
" Mas Raka dimana?" tanya Fara.
" Dia sedang mandi. Sebentar juga keluar," jawab Mir.
" Karena tugasku sudah selesai mengantar anak-anak. Aku langsung pamit saja mbak. Mas Farhan pasti sudah menunggu dirumah," kata Fara.
" Baiklah, hati-hati dijalan. Jangan ngebut."
" Okey..."
Setelah Fara pergi, bibi Mei pamit untuk kebelakang membereskan dapur dan menyiapkan makanan untuk makan malam.
Sementara ketiga anak Mira tiduran di pangkuan Mira di kursi ruang tamu.
Tak berapa lama, Raka keluar hanya dengan memakai kaos oblong dan celana pendek. Mira agak kaget, mungkin karena ini pertama kali dia melihat suaminya berpakaian seperti itu.
Mereka sangat senang karena mereka masing-masing diberi satu kamar yang sudah didesain sesuai selera mereka. Terutama kamar Kasih yang didalamnya dibuatkan kamar mandi sendiri karena Kasih sudah beranjak remaja dan perlu privasi sendiri.
" Ayah Raka, terimakasih..." kata Kasih yang kemudian di ikuti oleh kedua adiknya.
Mereka memeluk ayah Raka bersamaan.
" Bau apa ini ya...semua pada belum mandi kan? Kalian mandi dulu. Apa mau dimandikan ayah...?" ledek Raka.
" Awan bisa mandi sendili..." kata Awan.
" Bagus juga..." kata Bagus.
"Ayah, kita sudah besar. Sudah bisa semua sendiri. Ayah istirahat saja," kata Kasih.
Mereka bertiga segera mandi dan berganti pakaian.
Semuanya menggunakan barang baru. Karena barang yang lama masih ada di rumah yang lama. Demikian juga dengan pakaian Mira. Mira menggunakan pakaian santai pilihan suaminya. Mira merasa seperti masih muda dengan pakaian itu.
__ADS_1
Malampun tiba.
Selesai makan malam, mereka menonton TV bersama di ruang tengah. Awan dan Bagus sudah mengantuk dan mereka minta ditemani Mira karena mereka belum terbiasa di rumah baru. Sedang Kasih sudah berani tidur sendiri.
" Aku temani anak-anak tidur dulu, pak dokter sendirian dulu ya..." kata Mira sambil tersenyum.
" Jangan lama-lama..." kata Raka.
" Diusahakan secepatnya."
Mira membawa kedua anaknya untuk beristirahat dikamar Bagus. Mira membacakan cerita untuk mereka berdua. Tapi mereka belum juga tertidur. Hingga akhirnya Mira ikut ketiduran dikamar Bagus.
Raka menunggu kedatangan Mira dengan harap-harap cemas. Ini sudah hampir 2 jam tapi Mira belum juga kembali kekamar.
Raka berjalan menuju kamar Bagus. Raka menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat Mira sudah terlelap bersama kedua anaknya. Raka menyelimuti mereka bertiga agar mereka tidak kedinginan. Raka lalu kembali kekamarnya. Walaupun dia agak kecewa karena rencana malam pertamanya akan berakhir sendirian.
Mira tersentak kaget dan bangun dari tidurnya. Mira tertegun, ini sudah lewat tengah malam. Pasti Raka sudah lama menunggunya. Dan selimut ini pasti dia yang memakaikan.
Mira berjalan dan membuka pintu kamar dengan dengan pelan dan hati-hati. Dia takut membangunkan suaminya yang pasti sudah tertidur karena kelamaan menunggunya. Mira mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang sudah disiapkan untuknya.
Perlahan dia naik ketempat tidur lalu merebahkan diri disamping suaminya yang terlihat sudah tidur. Saat Mira baru memejamkan mata, Mira merasa seseorang memeluknya dengan erat. Mira membuka mata dan melihat dirinya sudah ada dalam pelukan suaminya. Raka tersenyum kepadanya.
" Apa aku membangunkanmu?" tanya Mira pelan. Raka menggeleng.
" Jadi tadi kamu belum tidur?" tanyanya lagi.
..." Bagaimana aku bisa tidur kalau istriku berjanji segera datang tapi dia belum juga datang," jawab Raka....
..." Maaf, anak -anak lama tidurnya , jadi aku ketiduran disana." jawab Mira....
" Bagaimana kalau kita lanjutkan yang tadi siang?" goda Raka.
Mira hanya tersenyum malu.
Tangan Raka mulai liar menyentuh bagian-bagian tubuh Mira yang tersembunyi. Sementara bibirnya ******* bibir merah Mira yang gairahnya mulai naik dan membuat gairah Raka semakin memuncak.
Malam ini Mira sudah menjadi milik Raka seutuhnya.
__ADS_1