
Pagi pertama bagi Mira dan ketiga anaknya didesa. Udara pagi terasa sangat sejuk dan segar.
Mira berjalan keluar rumah, lalu berdiri ditengah halaman. Dipejamkan matanya dan ditariklah nafas panjang lalu dihembuskan perlahan dengan mulutnya. Lega, begitulah yang dia rasakan. Ternyata hidup itu indah bila hati juga damai dan tenang.
Anak-anak tiba-tiba datang menghampiri Mira dan mengikuti apa yang Mira lakukan. Mereka bertiga berbaris tepat di depan Mira yang terus mengulangi gerakannya hingga Mira mulai menyadari akan kehadiran mereka.
" Kalian lagi ngapain?" Tanya Mira kaget dan merasa agak malu juga.
" Ngikut bunda lah." Kata Kasih yang mulai mengubah panggilanya jadi bunda seperti kedua adiknya.
" Bagus juga bunda." Jawab Bagus sambil tersenyum.
" Awan juga, mau kayak bunda." Jawab Awan sambil mempraktekkan apa yang dilakukan Mira dengan gaya imutnya.
Mira dan ketiga anaknya tertawa bahagia bersama setelah hampir 7 tahun Mira tak pernah bisa tertawa sebahagia itu. Bibi Mei ikut senang melihat mantan majikannya bisa tertawa bebas lagi. Bibi Mei meninggalkan mereka untuk membuat sarapan pagi.
Setelah lelah tertawa, mereka duduk dilantai teras rumah.
" Bunda, bagaimana kalau kita jalan-jalan. Pasti lebih meyenangkan bunda." Pinta Kasih.
" Iya bunda. Bagus juga pingin jalan-jalan."
" Awan juga."
" Boleh juga. Sekalian kita bisa melihat suasana di desa ini kala pagi. Ayo anak-anak, kita berangkat." Mira memberi semangat pada anak-anaknya. " Tunggu, izin sama bibi Mei dulu. Nanti bibi bisa khawatir kalau kita tak ada."
" Biar Kasih aja yang bilang sama bibi."
Kasih masuk kedalam rumah untuk meminta izin pada bibi Mei. Tak lama, Kasih sudah keluar dengan senyum manisnya.
" Oke, bibi izinkan kita jalan-jalan."
Mira dan ketiga anaknya berjalan pelan sambil menikmati pemandangan alam sekitar beserta orang-orang yang sudah mulai beraktifitas. Ada yang membawa cangkul ke sawah, ada yang pergi berjualan ke pasar, ada juga yang menyapu halaman dan masih banyak lagi kegiatan lainnya.
Tapi mereka semua selalu tersenyum dan menganggukkan kepala ketika berpapasan dengan Mira dan ketiga anaknya. Mira membalas dengan melakukan hal yang sama. Tak perlu bicara, tapi hal itu lebih dari cukup sebagai suatu sapaan untuk orang yang baru didesa mereka ketika bertemu dijalan.
Ketika mereka mulai jauh berjalan, Mira tersadar kalau dia lupa mengingat jalan pulang. Mira takut jika anak-anaknya tahu kalau dia lupa jalan pulang mereka pasti akan panik. Mira mulai memikirkan cara untuk kembali. Orang bilang " malu bertanya sesat dijalan". Mungkin ini saatnya pepatah itu digunakan.
Kebetulan saat itu Mira melihat seorang laki-laki yang sedang duduk di sebuah pos kampling sambil minum air mineral. Mungkin dia sedang berolahraga dan istirahat disana karena lelah.
" Anak-anak, kita istirahat dulu dipos itu dulu ya. Bunda capek. Ayo..." Ajak Mira dengan segera, takut orang itu pergi.
Anak-anak berlari seolah sedang bertanding, siapa cepat dia yang menang. Mereka bertiga berselisih dan menganggap diri masing-masing yang sampai duluan. Hal itu membuat laki-laki itu mulai memperhatikan mereka.
" Maaf, apakah anak-anak saya mengganggu anda?" Tanya Mira sungkan.
Laki-laki itu melihat kearah Mira. Dia diam sesaat, lalu tersenyum.
__ADS_1
" Tidak. Ini anak-anak mbak? Mereka manis-manis sekali."
" Om ganteng, tolong bantu jawab. Siapa yang tadi sampai sini duluan." Tanya Kasih agak merayu.
Darimana Kasih belajar hal begituan. Mira hanya tersenyum geli mendengarnya.
" Oke, om akan bantu jawab. Hmm, tadi siapa ya...Adik yang agak gendut ini larinya cepet juga ya."
" Horee, aku menang." Teriak Awan kegirangan. Kasih dan Bagus terlihat kecewa.
" Om punya sesuatu. Anggap ini hadiah karena kalian sama-sama cepat larinya."
Dia mengeluarkan dari sakunya, 3 buah permen rasa jeruk dan diberikannya pada ketiga anak Mira. Mira tersenyum saja melihat ketiga anaknya sangat bahagia hanya dengan sebuah permen.
" Bilang apa sama om." Kata Mira pada ketiga anaknya.
" Terimakasih om." Ucap mereka hampir bersamaan.
" Terimakasih. Sebenarnya saya mau tanya, apakah anda tahu rumah bibi Mei?" Tanya Mira ragu.
" Bibi Mei. Tahu... kenapa?"
" Saya lupa jalan kembali kesana." Jawab Mira.
" Bunda..." Kata Kasih panik.
" Benar. Terimakasih sebelumnya."
" Anak-anak, mumpung kalian sudah di luar, bagaimana kalau om tunjukkan tempat yang indah pada kalian." Kata laki-laki itu." Jangan takut, om bukan orang jahat."
Mereka berempat saling berpandangan dan saling memberi isyarat.
" Bagaimana?"
" Oke." Jawab mereka bertiga bersamaan.
Mira setuju karena laki-laki itu terlihat baik dan sopan.
Mereka berjalan beriringan. Awan memegang tangan laki-laki itu. Kasih, Bagus dan Mira mengikutinya dibelakang.
" Pagi pak dokter?" Sapa seorang warga ketika berpapasan dengan dia.
" Pagi."
" Pagi-pagi sudah jalan-jalan sama keluarganya?"
" Tidak, mereka saudara saya."
__ADS_1
" Pak dokter ini."
" Mereka memang hanya saudara."
" Iya pak dokter, hanya bercanda. Maaf pak dokter jangan marah. Aku pergi dulu." Kata orang itu sambil berlalu pergi.
" Maaf, jangan dimasukkan kehati. Dia memang suka bercanda ." Pak dokter khawatir Mira marah dengan kata-kata orang tadi.
" Jangan khawatir, saya mengerti. Benarkah anda seorang dokter?" Tanya Mira kemudian.
" Benar."
" Pak dokter ya." Kata Kasih.
" Hore..pak doktel." Teriak Awan sambil menggoyang tangan dokter Raka.
" Sudah, ayo jalan nanti kesiangan." Ajak dokter Raka sambil tersenyum.
Sampailah mereka di sebuah sungai. Airnya terlihat sangat bersih dan jernih. Dengan bebatuan yang bisa digunakan untuk duduk. Mungkin zaman dulu ini tempat mandi dan mencuci pakaian seperti yang ada di film-film.
" Bagus boleh mandi disini?" Tanya Bagus pada dokter Raka.
" Boleh. Tapi minta izin dulu sama bunda." Jawab dokter Raka sambil melihat Mira.
" Bunda,..." Kata Bagus dan Awan.
" Boleh, tapi apa pak dokter tidak akan kerepotan dengan mereka. Soalnya saya..."
" Tidak masalah. Saya yang akan menemani mereka." Jawab dokter Raka memotong perkataan Mira.
" Terimakasih, dokter."
Dokter Raka, Bagus dan Awan membuka baju mereka lalu turun ke sungai. Kasih hanya duduk di dekat mereka sambil bermain air. Sementara Mira duduk agak jauh dari mereka agar tidak canggung dengan dokter Raka yang hanya mengenakan celana pendek saja.
Mira memainkan kakinya diantara riak air yang mengalir. Sesekali dia memejamkan mata dan menghirup udara bebas. Dia seperti menemukan hidup yang baru di desa ini.
Setelah puas bermain, mereka segera bergegas kembali karena matahari mulai meninggi. Dokter Raka mengantar Mira dan ketiga anaknya pulang kembali ke rumah bibi Mei. Saat sampai di rumah bibi Mei, mereka terlihat senang karena tidak jadi tersesat.
Sebelum masuk Mira tidak lupa mengucapkan terimakasih pada dokter Raka.
" Terimakasih banyak pak dokter. Hari ini sudah merepotkan pak dokter."
" Sama-sama. Saya tidak merasa direpotkan. Bahkan saya merasa senang. Bolehkah lain kali saya mengajak anak-anak bermain lagi?"
" Tentu jika tidak merepotkan pak dokter. Saya masuk dulu pak dokter."
Dokter Raka diam sejenak menatap Mira yang bergegas masuk menyusul anak-anaknya. Sebuah bayangan masa lalu terbersit dipikirannya. Bayangan seorang gadis muda yang sedang tersenyum. Ternyata dia adalah Mira.
__ADS_1