Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Pernikahan siri


__ADS_3

Nela menangis disamping Nanda yang masih tertidur karena kelelahan. Mendengar suara tangis seorang wanita, Nanda terbangun dan berusaha menenangkan Nela yang tubuhnya masih terbalut selimut.


" Nela, kamu tidak perlu khawatir. Aku pasti akan bertanggungjawab."


" Tanggungjawab seperti apa yang akan pak Nanda berikan padaku?" Tanya Nela dengan terbata-bata karena isak tangisannya.


Nanda berpikir sejenak.


" Kalau kamu tidak keberatan jadi istri ketiga, aku akan dengan senang hati menikahimu."


" Apa, istri ketiga?" Nela kaget saat mengetahui Nanda punya istri lebih dari satu.


" Kenapa? Istri kedua atau ketiga bukankah sama saja. Kamu pikirkanlah dulu. Setelah itu, baru pikirkan yang selanjutnya."


Nela masih terisak-isak, diapun tak bisa berpikir dengan jernih.


" Ayo ganti baju, aku antar kamu pulang. Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku jadi merasa sangat bersalah padamu. Tapi saat menangispun, kamu masih tampak cantik." Nanda mencoba tersenyum dan merayu Nela agar tidak menangis lagi.


Nanda mengantarkan Nela pulang. Sebelum kembali, Nanda memperingatkan Nela untuk segera memberikan jawaban sebelum dia kembali ke Semarang.


Nela tidak tahu bagaimana caranya untuk bicara dengan ibunya tentang masalahnya saat ini. Tapi dia harus secepatnya memberitahukan jawabannya pada Nanda.


Nela mencoba bicara dengan ibunya tentang Nanda. Lelaki yang dia cintai tapi dia sudah beristri. Mendengar Nanda sudah beristri, ibunya marah.


" Tidak boleh, kamu tidak boleh mencintai lelaki yang sudah beristri. Masih banyak laki-laki yang bisa kamu cintai."


" Tapi bu, kita tidak tahu pada siapa kita akan jatuh cinta. Mungkin aku telah jatuh cinta pada orang yang salah. Aku tidak bisa mengendalikan semua ini seperti yang aku mau." Nela sedih dengan penolakan ibunya.


" Nela, ini belum terlambat nak. Berhentilah mencintainya, carilah pekerjaan lain agar tidak selalu bertemu dengannya."


" Ibu, maafkan Nela. Tapi ini sudah terlambat."


" Apa maksudmu, Nela."


" Kali ini Nela minta izin sama ibu untuk menikah dengan pak Nanda."


Ibu Nela terperanjat mendengar ucapan Nela barusan.

__ADS_1


" Menikah, apa yang membuat kamu harus menikah dengannya? Kenapa?"


" Pak Nanda dan Nela, sudah tidur bersama." Nela memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya.


Ibu Nela tampak lemas mendengar pengakuan putrinya yang dirasanya tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang janda. Tapi semua sudah terjadi.


" Nela, sudahkah kamu memikirkan akibatnya. Kamu akan jadi istri kedua dan orang lain akan menyebutmu pelakor. Dan masih banyak hal buruk yang akan kamu hadapi. Akankah kamu siap dengan semua itu? Bagaimana dengan istri Nanda?"


Ibu Nela sangat khawatir dengan Nela. Dia tak dapat membayangkan apa yang akan dihadapi putrinya dimasa depan jika benar dia memilih menikah dengan Nanda.


" Ibu, aku akan menyerahkan semua pada pak Nanda termasuk segala urusan dengan istri pak Nanda. Ibu, Nela hanya butuh restu dari ibu." Nela memohon.


" Baiklah, asalkan kamu bahagia, ibu tak akan menghalangi pernikahanmu."


Nela, segera memberitahu keputusannya untuk bersedia menikah dengan Nanda. Dengan jaminan bahwa istri Nanda tidak akan menyulitkannya. Nanda berjanji pada Nela bahwa untuk urusan dengan Mira Nanda akan membuat Mira mengerti.


Tapi Nanda tidak ingin Rosa tahu bahwa dia menikah lagi dengan Nela. Dan Nela harus setuju untuk menyembunyikannya dari istri keduanya, Rosa. Nela setuju saja, yang penting dia bisa menikah dengan Nanda.


Nanda menunda kepulangannya, dan mengatakan pada Rosa bahwa urusannya di sini belum selesai. Sedangkan Mira tidak pernah menghubunginya jika tidak ada hal yang mendesak atau penting dan tidak pernah menanyakan dirinya sehingga Nanda tidak perlu membuat alasan.


Nanda dan Nela akhirnya menikah siri tanpa sepengetahuan Mira dan Rosa. Nanda meminta Nela untuk berhenti bekerja setelah menikah.


" Baiklah, Besok aku akan kembali ke Semarang. Kamu tunggu kabar dariku, kalau semua lancar dan sesuai rencana, aku akan membawamu. Dan bekerja denganku."


" Baik mas. Tapi anak dan ibuku akan ikut denganku juga kan?"


" Tentu apapun yang kamu mau, terserah."


Nela tersenyum bahagia karena Nanda menerima keberadaan anaknya tanpa mengeluh.


Nanda kembali dari Balikpapan. Pertama yang dituju adalah rumah Rosa. Rosa menyambut hangat kepulangan suaminya dengan senyum mesra. Rosa memperlakukan suaminya bagai seorang raja. Rosa berharap Nanda tidak akan tertarik dengan wanita lain karena sudah memiliki dirinya yang sempurna. Cantik, muda, baik hati, lemah lembut, pengertian dan masih banyak lagi kebaikannya. Ini menurutnya lho.


Beberapa hari kemudian Nanda pergi kerumah Mira. Kali ini dia ingin memberi pengakuan untuk yang ketiga kalinya tentang pernikahannya.


Di rumah, kedua anaknya sudah lebih dulu menyambut kedatangannya sebelum Mira. Seperti biasa, Nanda bermain dengan kedua anaknya untuk membuat Mira senang.


setelah kedua anaknya puas bermain, Nanda menemui Mira untuk diajaknya Bicara.

__ADS_1


" Ma, papa ingin memberitahukan seauatu pada mama. Aku harap mama tidak akan marah."


" Katakan saja pa. Tak perlu takut mama marah." Mira merasa ada yang aneh.


" Papa, menikah lagi saat bekerja di Balikpapan."


" O, begitu." Jawab Mira datar. Pengakuan itu bagaikan hal yang tak perlu lagi membuatnya kaget.


" Mama, tidak marah?" Tanya Nanda heran.


" Untuk apa. Marah karena ada cinta. Bila cinta sudah musnah, apa yang masih tersisa."


" Kalau begitu, kapan-kapan akan aku bawa Nela menemuimu. Dia sangat ingin bertemu denganmu." Ucap Nanda tersenyum.


" Terserah. Apa Rosa tahu kalau papa menikah lagi?"


" Tidak, dan tidak akan. Kalau dia tahu, dia akan meminta cerai seperti Desy."


" Apa? Jadi papa sudah bercerai dengan Desy? Kapan kenapa aku tidak tahu?" Mira kaget mendengar Nanda sudah bercerai dengan Desy.


" Setelah papa menikahi Rosa."


" Bagaimana dengan anak papa darinya?"


" Mama tidak usah khawatir, papa tetap memberi uang bulanan untuk anaknya."


" Untuk apa mama khawatir, dia bukan anakku." Kata Mira pelan.


" Baiklah, karena mama sudah setuju, mama atur anak-anak agar tidak menyulitkan Nela saat datang."


" Papa tenang saja, kami akan memperlakukan istri baru papa seperti ratu di rumah ini."


" Mama tidak perlu terlalu berlebihan, Nela orangnya sangat sederhana. Dia tidak terlalu suka dengan kemewahan. Dia berbeda dengan Rosa, dia lebih mirip dengan mama."


" Papa tidak perlu membanding-bandingkan Mama dengan istri-istri papa yang lain. Itu sangat tidak adil dan sangat menyakitkan hati, bagi mama dan juga bagi istri-istri papa jika mendengarnya. Jangan melakukan itu lagi." Kata Mira kesal.


" Baik ma."

__ADS_1


Mira menerima semua ini dengan ikhlas. Keikhlasannya kali ini akan diuji.


__ADS_2