
Hasil putusan pengadilan sudah keluar.
Bagi Rosa, putusan itu sangat berarti. Dia akan dengan bebas datang dan pergi karena dia mempunyai hak yang sama dengan Mira.
Rosa sangat berharap bahwa dia juga akan memiliki apa yang Mira miliki. Terutama rumah dan mobil sendiri. Namun saat ini Nanda masih belum ingin membelikannya untuk Rosa.
Uang simpanan Nanda yang ada, adalah untuk berjaga-jaga jika suatu saat Desy mengambil uang investasinya. Karena meskipun mereka sudah bercerai, Desy tidak mengambil uangnya. Sedangkan uang perusahaan akan habis jika Desy mengambilnya.
Sebenarnya Rosa sangat kecewa dengan sikap Nanda, tapi dia harus menjaga sikap agar terlihat pengertian dihadapan Nanda. Dia harus bersabar untuk mencapai tujuan yang selanjutnya.
Mira mengajak Kasih untuk pergi bermain disebuah pusat perbelanjaan. Hanya itu yang bisa Mira lakukan untuk menyenangkan hati putrinya yang selalu menanyakan ayahnya.
Secara tidak sengaja, seseorang berlari dan menabraknya belakang hingga Mira hampir terjatuh. Pria itu berhenti dan berbalik arah.
Mereka sama-sama terkejut.
" Kamu." Kata mereka bersamaan.
" Mbak Mira, maaf. Mbak tidak apa-apa kan?"
Ziko bertanya sambil memperhatikan Mira.
" Tidak apa-apa pengacara Ziko."
" Kalau begitu aku pergi dulu."
Belum sampai Mira menjawab, pengacara Ziko sudah berlari sangat cepat. Mira hanya tersenyum melihatnya.
Baru beberapa saat, pengacara Ziko sudah kembali menemui Mira yang sedang duduk menunggui Kasih bermain.
"Mbak Mira, hari ini saya mengundang mbak Mira dan Kasih untuk makan siang bersama. Sebagai permintaan maaf saya." Ziko bersikap memohon.
" Tunggu dulu, aku tanya sama Kasih dulu. Apakah dia mau atau tidak. Karena yang mengambil keputusan terakhir adalah tuan putri kecilku." Jawab Mira tersenyum seolah lupa kesedihannya selama ini.
Ziko memberi tanda setuju. Mira mendekati Kasih lalu bicara dengan pelan dan lembut.
Ziko semakin mengagumi Mira. Wanita yang lemah lembut dan berbudi pekerti baik. Semakin Mira bertahan dengan suaminya, semakin Ziko mengaguminya.
Ziko berpikir bahwa Nanda seharusnya beruntung menikah dengan Mira, bukannya selalu menyakitinya. Seandainya dia memiliki istri seperti Mira, dia akan menjaganya seumur hidupnya. Karena kesetiaan itu sulit didapatkan, jadi kalau sudah ditangan jangan dilepaskan.
" Paman pengacara..."
Ziko kaget, Kasih sudah berdiri dihadapannya dan berteriak padanya.
" Haei, Putri cantik, apa kabar? Lama tidak bertemu." Kata Ziko sambil jongkok dan mencubit pelan pipi Kasih.
__ADS_1
" Paman pengacara, Kasih mau makan ayam goreng."
" Oke, ayo kita beli sekarang."
Ziko menggandeng tangan Kasih dan berjalan ke restauran yang ada di mall itu. Mira dan bibi mei mengikuti mereka dari belakang.
Ziko memesan ayam goreng cukup banyak untuk Kasih. Kasih makan dengan sangat senang.
Selesai makan, Kasih melanjutkan bermain bermain ditemani bibi Mei. Sementara Ziko dan Mira berbincang-bincang.
" Mbak Mira, saya tidak mengira kalau mbak Mira akan memberikan pernyataan itu. Bukankah dari awal, mbak tidak setuju untuk berbohong?"
" Apa bedanya, semakin lama aku menolak maka semakin dalam sakitnya. Sekarang semua akan berjalan seperti biasa. Bukankah ini lebih baik." Kata Mira sambil menghela nafas.
" Ternyata begitu."
" Pengacara Ziko, Aku pergi dulu, takutnya Kasih mencari aku. Permisi dulu ya?"
Mira berdiri, tapi tiba-tiba Mira merasa pusing dan hampir terjatuh. Untuk Ziko dengan? sigap menahan tubuh Mira dan kembali menyuruhnya duduk.
" Ada apa mbak Mira?"
" Entahlah, tiba-tiba kepala aku pusing."
" Biar saya antar mbak Mira ke rumah sakit." Kata Ziko cemas. " Saya cari Kasih dan bibi Mei dulu. Mbak duduk disini dulu."
Mira sebenarnya ingin menolak diantar ke rumah sakit, tapi mungkin ini lebih baik agar cepat tahu jika Mira mempunyai penyakit.
Setelah diperiksa dokter, betapa terkejutnya mereka. Ternyata Mira bukan menderita suatu penyakit, tapi Mira sedang hamil. Usia kandungannya sudah 6 minggu.
Sepanjang perjalanan pulang, Mira terus berpikir. Apakah semua ini adalah jalan baginya untuk terus bertahan. Dulu Dia bertahan demi Kasih, kini ada calon bayinya.
Bagaimanpun juga, Nanda harus tahu tentang kehamilannya. Mungkin hal itu akan membuat suaminya lebih memperhatikannya dan Kasih.
Sampai dirumah, Ziko berniat membantu Mira masuk, tapi Mira menolak dan meminta bibi Mei yang membantunya. Mira tidak ingin ada kesalahfahaman jika ada orang yang melihatnya. Mira menyuruh Ziko pergi dengan halus agar Ziko tidak merasa diusir.
Mira menunggu kedatangan Nanda dengan sabar. Mira ingin sekali mengatakan soal kehamilannya pada Nanda.
Beberapa hari kemudian, Nanda pulang kerumah Mira. Mira berusaha mencari kesempatan untuk bisa mengatakannya.
Setelah selesai bermain dengan Kasih, Nanda duduk santai diruang keluarga. Mira mengantarkan teh untuk suaminya.
" Pa, mama ingin mengatakan sesuatu."
" Ya . Katakan saja."
__ADS_1
" Mama hamil."
" Apa, mama hamil. Benarkah?"
Nanda tampak bahagia mendengar kabar kehamilan Mira. Mira juga sangat senang melihat reaksi Nanda. Dia berharap anak akan menjadi jembatan baginya dan suaminya untuk memperbaiki hubungan yang renggang.
Nanda memberitahukan perihal kehamilan Mira pada Rosa. Rosa tampak tidak senang. Tapi dia tidak boleh memperlihatkannya pada Nanda. Rosa pura-pura senang agat Nanda tidak curiga.
Dalam Rosa mulai berpikir keras agar Mira tidak bisa merebut perhatian Nanda. Terlebih sebentar lagi dia akan melahirkan. Rosa tidak ingin perhatian Nanda terbagi.
" Mas, apa mas yakin itu anaknya mas Nanda?"
Rosa mulai beraksi.
" Apa maksudmu?"
" Begini mas. Selama ini mas Nanda sudah banyak menyakiti mbak Mira. Apakah tidak terpikir olehmu dia akan membalas perbuatanmu?"
..." Mana mungkin, Mira bukan wanita seperti itu. Dia sangat setia dan sangat mencintai aku."...
" Tapi kamu tidak setia dan bahkan banyak menyakitinya. Aku heran, mana ada wanita yang tahan diperlakukam seperti itu kalau dia tidak ada tujuan."
" Sayang, apa sebenarnya yang ingin kamu katakan."
" Tidakkah mas Nanda berpikir kalau anak mbak Mira hasil perselingkuhan? Mungkin dia ingin menganggap kamu bodoh mas."
" Sayang sudah aku bilang,ira bikan wanita seperti itu." Nanda mulai kesal.
" Tunggu aku punya sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu. Ini lihatlah."
Rosa menunjukkan foto-foto Mira sedang bersama pengacara Ziko. Rupanya secara diam-diam Rosa membayar seseorang untuk mengikuti semua kegiatan Mira dan melaporkanya pada Rosa beserta buktinya.
Nanda yang melihat itu, tampak tidak percaya. Mereka pasti hanya berteman biasa.
" Darimana kamu dapat foto-foto ini." Tanya Nanda curiga.
" Aku kemarin kebetulan melihatnya, aku pikir mana mungkin mbak Mira selingkuh. Tapi agar aku tidak dikira bohong, ya aku foto aja."
" Tidak, Mira tidak akan melakukan itu." Gumam Nanda pelan.
Rosa hanya diam melihat Nanda berada dalam kegalauan. Dibiarkanya Nanda, Rosa yakin kalu Nanda mulai terpengaruh dengan ucapannya. Baginya itu sudah cukup untuk membuat Nanda meragukan kehamilan Mira.
Tanpa disadari, Nanda mulai meragukan kehamilan Mira. Sikap keragu-raguannya itu membuat Mira bingung.
Nanda tidak pernah mengatakan apapun, tapi sikapnya berubah tidak seperti waktu pertama kali mengetahui kehamilannya. Nanda tampak begitu senang, tapi sekarang Nanda acuh tak acuh pada dirinya dan juga calon bayinya.
__ADS_1
Mira tampak sedih menjalani kehamilan tanpa perhatian suaminya. Ada pertanyaan yang tidak pernah bisa dia jawab.
" Apa yang membuat mas Nanda berubah secepat itu?"