Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Membuat Bagus sedih


__ADS_3

Suasana pagi yang cerah. Pagi ini adalah pagi pertama Mira sebagai istri dokter Raka.


Mira bangun pagi sekali dan membantu bibi Mei memasak. Setelah itu dia membawa secangkir kopi manis untuk sang suami. Dia sengaja meletakkan kopi di dekat ranjang dimana suaminya masih tidur.


Raka mencium aroma kopi yang harum dan membuatnya terbangun. Melihat Raka mulai membuka mata, Mira membuka tirai jendela kamarnya agar udara pagi bisa masuk. Mira berdiri didekat jendela yang sudah terbuka. Raka memeluk istrinya dari belakang dengan mesra.


" Selamat pagi istriku..." kata Raka.


" Selamat pagi...pak dokter," jawab Mira. "Cepatlah mandi dan segera turun untuk sarapan," kaga Mira lagi.


" Nanti dulu, aku ingin menikmati pagi bersamamu untuk pertama kalinya sebagai suamimu," kata Raka.


" Sebentar lagi aku harus mengurus anak-anak. Mereka masih membutuhkan aku," kata Mira.


" Oke...sebentar saja," kata Raka sambil mempererat pelukanya.


Raka melepaskan pelukannya dan bergegas mandi. Sementara Mira bergegas turun untuk mengurus ketiga anaknya. Tapi dia sangat terkejut melihat ketiga anaknya sudah selesai mandi dan berganti baju. Mereka kemudian duduk dimeja makan.


Mira tersenyum. Sekarang ketiga anaknya sudah bisa mengurus dirinya sendiri.


" Kalian sudah siap semua?!" tanya Mira.


" Bunda, kami bertiga sudah besar. Kami bisa bersiap sendiri. Bagaimana dengan seragam sekolah kami bunda?!" tanya Kasih.


" Nanti kita mampir dulu kerumah lama. Ambil seragam kalian. Yang lainnya biar ayah dan bunda yang urus," jawab Mira.


Hari ini pasti akan sibuk mengurus kepindahannya kerumah barunya.


" Selamat pagi anak-anak..." sapa Raka pada ketiga anaknya.


" Selamat pagi, ayah," jawab mereka bertiga hampir bersamaan.


Raka duduk sambil tersenyum merasakan momen kebersamaan keluarga besarnya ini. Kini sudah berlima, belum nanti ada anak-anak barunya lagi, pasti tambah ramai.

__ADS_1


Mereka tidak pernah membicarakan bulan madu karena Mira sudah terlebih dahulu berkata pada Raka untuk tidak berbulan madu karena Mira tidak bisa tenang tanpa anak-anak disisinya.


Dua minggu kemudian, Desy datang menemui Mira untuk menagih janji Mira. Mira tidak akan pernah lupa pada janjinya hanya saja, Mira ingin sedikit lebih lama bersama Bagus.


Mira menceritakan janjinya untuk memberi kesempatan Desy mengasuh Bagus pada Raka.


" Apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu?!"tanya Raka.


" Aku tidak bisa menarik janjiku padanya. Meski aku akan sedih tapi itu yang terbaik untuk semuanya, Bagus, Desy dan aku," jawab Mira.


" Aku akan mendukung apapun keputusanmu," kata Raka.


Hari itu Mira pergi mengajak Bagus kerumah Desy dengan membawa koper berisi pakaian Bagus yang sudah dia sembunyikan dibagasi mobil.


Sampai dirumah Desy, Desy menyambutnya dengan gembira. Bagus sama sekali tidak curiga kenapa bunda Mira membawa dia kerumah mamanya. Meskipun hati Bagus agak takut membayangkan kehidupan masa lalunya di rumah mamanya.


Ternyata Bagus sering dibully oleh kedua kakaknya dan diperlakukan tidak adil oleh Desy. Desy lebih membela kedua kakaknya dibanding dirinya. Apalagi Desy sering keluar rumah dan jarang bersama anak-anaknya. Mereka dibesarkan oleh pembantu rumahtangganya.


Karena itu Bagus lebih nyaman dan lebih menemukan tempat berlindung pada diri Mira.


" Bagus ikut bunda pulang saja. Bagus tidak mau disini," kata Bagus sambil memegang tangan Mira.


" Dengarkan bunda. Bagus harus nurut kata bunda. Bukankah Bagus ingin jadi anak baik?" kata Mira agak keras.


Bagus hanya diam mendengar perkataan bunda Mira. Ada sedikit rasa kecewa dihatinya.


" Baik-baiklah selama disini...," kata Mira lagi.


Sebelum pergi, Mira memeluk tubuh mungil dihadapannya. Hatinya tidak rela tapi Bagus akan tinggal dengan ibu kandungnya.


Mira pulang dengan meninggalkan setengah hatinya disini.


Hari berlalu tanpa Bagus. Kasih dan Awan selalu menanyakan tentang Bagus sehingga membuat Mira semakin sedih. Mira hanya menjawab kalau Bagus sudah kembali pada orangtuanya dan hidup bahagia.

__ADS_1


Raka melihat Mira sedih diapun tidak tahan dan ingin menghiburnya. Mira duduk termenung didepan meja riasnya. Mira tidak menyadari bahwa suaminya sudah berdiri dibelakangnya.


" Sayang...Jangan terlalu dipikirkan. Jika kamu seperti ini terus, bagaimana Bagus bisa hidup bahagia disana. Aku punya sesuatu untuk kamu," kata Raka.


" Apa...?!" tanya Mira penasaran.


" Sini, ikut aku," ajak Raka sambil memegan tangan Mira dan mengajaknya duduk di atas ranjang.


" Apa kamu masih ingat, kamu bilang kalau sudah saatnya bukan hanya satu detik tapi ..." tanya Raka.


" Ingat, tapi ...?!" tanya Mira.


" Sekarang, apa yang ada didepanmu ini semua adalah milikmu. Jadi lakukan sesukamu," kata Raka.


Raka menahan senyumannnya agar terlihat lesung pipit dipipinya. Mira mulai menyentuh wajah suaminya yang telihat semakin tampan. Lalu dia mencium kedua pipi suaminya dengan lembut.


Raka berhenti tersenyum. Dia mulai menahan hasratnya yang tiba-tiba muncul setelah ciuman Mira dikedua pipinya. Tiba-tiba Mira berinisiatif mencium bibir Raka terlebih dulu. Dan Raka tidak bisa bertahan lagi. Raka bergerak cepat membalas ciuman Mira dan merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang. Mereka menikmati malam yang indah berdua.


Raka memang selalu membuat Mira tidak dapat menolak keinginannya meski dalam keadaan sedih sekalipun tentu dengan sedikit modus dan rayuan.


***


Hari ini seperti biasa, Mira pergi bekerja setelah terlebih dahulu mengantar Kasih dan Awan ke sekolah. Tiba -tiba Fara datang dan memberitahukan bahwa Bagus hilang. Mira sangat kaget lalu dia segera menghubungi Desy untuk meminta penjelasan. Desy menceritakan semuanya. Lalu dia hanya bisa bilang " Maaf aku tak bisa membuat Bagus bahagia."


Mira menghubungi Raka untuk memintanya pulang dan membantunya mencari keberadaan Bagus. Ketika Raka datang, Mira menangis dipelukan suaminya.


Mereka bergegas mencari keberadaan Bagus. Mereka menyusuri jalan yang diperkirakan akan dilewati Bagus. Mungkin dia berniat pulang kembali ke rumah Mira yang baru lalu dia tersesat. Hal itulah yang saat ini mampu Mira pikirkan.


Mereka sudah mencari seharian, namun Bagus belum juga ditemukan. Mereka memutuskan untuk melaporkan kehilangan anak pada polisi. Raka meminta Mira untuk beristirahat dulu dirumah, sementara Raka bersama pihak kepolisian akan berusaha mencari jejak keberadaan Bagus.


Mira sebenarnya ingin ikut pergi mencari Bagus, namun Raka melarangnya. Raka tidak mau Mira kecapekan dan jatuh sakit.


Mira menunggu kabar dari Raka dan kepolisian dirumah dengan cemas. Lalu giba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Mira bergegas membuka pintu berharap suaminya memberikan kabar baik tentang Bagus. Betapa terkejutnya dia melihat sesosok anak kecil yang penuh ketakutan berlari kearahnya. Bagus memeluk bundanya dengan erat sambil menangis sesenggukan. Mira merasa bersalah telah membuat Bagus mengalami hal seperti ini.

__ADS_1


"Maafkan bunda..." kata Mira lirih.


__ADS_2