
Perceraian Nanda dan Desy menjadi rahasia Nanda yang kesekian kalinya. Yang entah kapan akan dikatakannya pada Mira.
Bagi Nanda, perpisahannya dengan Desy tidak terlalu berpengaruh bagi dirinya. Tak tampak kesedihan ataupun penyesalan diwajahnya. Baginya masih banyak wanita diluar sana yang dengan suka rela bersedia hidup bersamanya.
Kesombongan Nanda bagaikan racun dihatinya. Racun yang sudah menyebar sampai kejantungnya. Dan keseluruh aliran darahnya.
Rosa adalah salah satunya, yang dengan senang hati menikmati kemewahan yang diberikan Nanda.
Rosa mengajak Nanda makan di luar untuk menghilangkan rasa jenuh.
" Mas, Rosa perhatikan dari tadi mas melamun aja. Apa yang mas pikirkan? Katakanlah siapa tahu Rosa bisa membantu." Rosa berusaha memberi perhatian pada Nanda yang termenung saat mereka makan siang disebuah resto.
" Itu, Desy minta cerai. Dia sudah tahu hubungan kita."
Rosa kaget tapi juga senang.
" Lalu apa mas Nanda bersedi menceraikannya."
" Sebenarnya aku tak tega menceraikannya terlebih lagi saat ini dia sedang hamil anakku. Tapi dia memaksa aku memilih antara dia dan kamu."
" Terus, jawaban mas Nanda?" Rosa mendengarkan dan penasaran.
" Tentu aku bilang aku tak bisa berpisah dari kamu."
Rosa bersorak dalam hati. Dia merasa sudah bisa menguasai hati Nanda.
" Trimaksih mas Nanda memilih aku."
" Aku terpaksa mentalak Desy ."
" Apakah mas Nanda menyesal?"
" Tidak. Aku hanya memikirkan anakku yang ada dalam kandungannya. Bagaimana masa depannya kelak tanpa aku."
" Mas, kamu masih bisa memberi anak kamu uang setiap bulannya. Untuk biaya hidupnya. Kamu juga bisa menemuinya kapan saja. Bagaimana?"
" Bener juga katamu, sayang."
" Nah sekarang tak perlu dipusingkan lagi. Mari makan."
__ADS_1
Rosa merasa diatas angin. Dia sudah menyingkirkan satu saingannya, Desy. Kini, giliran istri pertama Nanda, Mira.
Mira tak tahu apapun tentang perilaku suaminya diluar sana. Apalagi semenjak Nanda memutuskan untuk menikah lagi, Mira seolah tidak perduli tidak ingin tahu lagi kegiatan Nanda diluar rumah. Karena semakin Mira peduli dia akan semakin sakit hati.
Hari ini, adik perempuan Mira namanya Sara datang berkunjung kerumah Mira untuk memberikan undangan pernikahan. Minggu depan Sara akan menikah. Namun Mira melihat diwajahnya, ada keraguan.
" Sara, apa yang kamu pikirkan, katakan pada kakak. Mau menikah harusnya kamu bahagia tapi ini kok malah seperti masih ragu."
" Kakak, aku sebenarnya bahagia akan segera menikah dengan lelaki yang aku cintai. Tapi, bila ingat keadaan rumah tangga kakak, aku takut aku juga akan mengalami seperti kakak."
" Jangan takut, tidak semua lelaki seperti kakak iparmu. Masih banyak lelaki yang setia. Aku lihat, Farhan lelaki yang baik." Kata Mira untuk meyakinkan adiknya.
" Kak Nanda dulu juga baik. Sangat mencintai mbak Mira. Tapi kini dia menduakan kakak."
" Fara, kak Nanda hanya khilaf. Kamu harus percaya pada pilihan hatimu, jika kamu ragu, semua akan berantakan. Dan jika Farhan tahu kamu meragukan cintanya, dia pasti akan sangat sedih."
" Maafkan Fara kak."
" Pulanglah, dan jangan pernah lagi meragukan calon suamimu."
Mira sangat sedih, telah membuat adiknya meragukan pernikahannya sendiri. Walaupun ini bukan salah Mira, memiliki suami seperti Nanda. Bahkan tak pernah terpikir olehnya suami yang sangat dicintainya telah menghancurkan hidupnya.
" Pa, nanti mama akan pergi kerumah ibu. Mau bantu-bantu Fara."
Nanda hanya mengangguk sambil makan.
" Mama akan ajak Kasih. Jadi perginya nanti tunggu Kasih pulang sekolah."
" Nanti papa suruh zaki antar mama dan kasih. Daripada naik taksi, papa lebih tenang pakai mobil sendiri."
Nanda terlihat seperti suami yang bertanggungjawab dan penuh perhatian. Namun apa itu benar? Berkecamuk berbagai pertanyaan yang tidak dapat Mira ucapkan. Mira hanya bisa menerima apapun seandainya itu hanya tampak luarnya saja.
" Apa mama dan kasih akan menginap dirumah ibumu?" Tanya Nanda kemudian.
" Tidak, tapi kita akan pulang agak malam." Mira menatap Nanda. "Ada apa?"
" Mama, Desy hamil. Dan mungkin beberapa hari ini papa akan lebih banyak menemaninya."
Mira terdiam sesaat, entah kenapa hatinya sakit mendengar Desy telah hamil anak suaminya. Namun dia akhirnya tersenyum untuk menunjukkan rasa bahagianya. Meski hatinya menangis.
__ADS_1
" Iya, saat seorang wanita hamil, pasti lebih banyak butuh perhatian suaminya."
" Ma, terimakasih atas pengertianmu. Mama memang istri yang paling baik."
Istri yang paling baik. Sesungguhnya, Mira tidak ingin jadi istri yang paling baik, tapi ingin menjadi istri yang paling dicintai suaminya. Karena menjadi istri yang baik sangatlah melelahkan dan menyakitkan.
Kebohongan Nanda pada Mira terus berlanjut. Memang jika pada awalnya sudah berbohong, akan ada kebohongan yang lain untuk menutupinya.
Beberapa hari ini Nanda menghabiskan waktu bersama Rosa. Rosa tentu sangat senang apalagi saat ini Rosa sudah memiliki tempat tinggal baru. Sebuah rumah yang cukup besar dan bagus biarpun hanya rumah kontrakan.
Nanda sengaja memberi Rosa rumah kontrakan, agar dia bisa lebih bebas menginap. Karena saat ini Mira tahunya Nanda tidur dirumah Desy. Tidak mungkin Nanda selalu menginap di hotel.
Hari pernikahan Fara tiba. Semua orang sibuk mengikuti acara demi acara. Mira terlihat gelisah, beberapa kali menatap kearah pintu masuk. Suaminya belum datang juga, dia sudah berjanji akan datang langsung dari rumah Desy.
Saat menunggu Nanda, Mira malah mendengar dua orang ibu-ibu sedang membicarakan dirinya dan Nanda suaminya.
" Kasihan Mira ya." Seorang ibu-ibu mulai bergosip.
" Kenapa dengan Mira?" tanya ibu yang lain.
" Hidupnya memang bergelimang harta, tapi batinnya pasti tersiksa. Beberapa hari yang lalu, suamiku bilang padaku kalau Nanda punya wanita baru lagi."
" Setahuku Desy kan namanya. Semua orang sudah tahu itu. Mereka sudah menikah siri. Mira juga sudah menerima."
" Bukan, bukan Desy. Tapi dia seorang gadis muda. Sangat cantik katanya."
" Apa iya. Apakah Mira tahu kelakuan suaminya diluar sana."
" Kayaknya dia belum tahu. Kalau dia tahu, nggak kebayang bagaimana perasaannya."
" Untung saja suamiku tidak seperti Nanda."
" Untung suamiku takut padaku, kalau sampai berani macam-macam, akan aku kebiri dia."
Kedua orang ibu itu tertawa tanpa menyadari Mira mendengarkan pembicaraan mereka.
Dengan hati kacau, Mira mencoba melupakan apa yang dia dengar tadi. Namun, ucapan-ucapan itu bermain dipikirannya.
Tak berapa lama, yang ditunggu akhirnya datang. Mira mendekati Nanda sambil tersenyum. Mira dan Nanda menyapa para tamu undangan dan menunjukkan kemesraan dihadapan mereka.
__ADS_1
Tentu saja mereka harus menunjukan bahwa kehidupan keluarga mereka baik-baik saja meskipun Nanda menikah lagi. Hal ini akan mempengaruhi reputasinya sebagai lelaki yang mampu berpoligami. Dan juga lelaki yang bisa mengatur istri-istrinya sehingga tidak bertengkar dan bisa hidup rukun.