
Pagi yang cerah secerah hati Mira dan juga ketiga anaknya. Hari ini mereka akan masuk ke sekolah baru. Mira sangat sibuk karena harus mengurus 3 anak yang berbarengan harus pindah sekolah.
Mira mengurus kepindahan ketiga anaknya hingga siang. Diapun sudah capek dan ingin segera ke butiknya. Tapi tiba-tiba taksi yang ditumpanginya berhenti mendadak.
" Ada apa pak?" tanya Mira.
" Sepertinya ada kecelakaan didepan," jawab pak sopir.
" Saya turun sebentar ingin melihatnya, tolong tunggu sebentar ya pak," kata Mira.
" Baik mbak," kata pak sopir.
Mira bergegas turun. Di depan banyak sekali orang berkerumun. Dan mereka sepertinya sedang mencari kendaraan untuk membantu membawa orang itu ke rumah sakit.
" Saya ada taksi silahkan saja. Nanti saya bantu sampai ke rumah sakit," kata Mira menawarkan diri.
" Baiklah. Kita angkat sama-sana," kata salah seorang penolongnya.
Mereka mamasukkan orang itu kedalam taksi Mira.
" Tolong antar ke rumah sakit. Saya akan ikut mengantar," kata penolong itu.
Sesampainya di rumah sakit, dia langsung dibawa ke UGD. Bapak penolong itu malah pamit pergi karena ada urusan penting. Tinggallah Mira sendirian mengurus si korban itu. Mira tidak tahu siapa dia dan bagaimana menghubungi keluarganya.
Sementara itu dokter sudah menanyakan anggota keluarganya.
" Anda keluarga pasien?" tanya dokter.
" Bukan. Hanya teman," jawab Mira gugup.
" Tolong hubungi keluarganya," perintah dokter.
" Maaf dok, saya tidak tahu dimana keluarganya juga tidak tahu nomor yang bisa dihubungi. Sebenarnya saya hanya kebetulan lewat saat kecelakaan itu terjadi dan mengantarnya kesini," jawab Mira jujur." Lalu bagaimana keadaannya dok?"
" Pasien kehilangan banyak darah dan harus segera mendapatkan tranfusi darah. Pasien juga harus menjalani beberapa operasi. Kalau pasien tidak segera dioperasi, kami tidak tahu apakah pasien masih bisa bertahan atau tidak," jawab dokter sambil menjelaskan.
__ADS_1
" Apakah harus keluarganya dok?"
" Ya. Kalau ada keluarganya ada kemungkinan ada darah yang cocok dengan pasien. Untuk keperluan operasi juga membutuhkan tanda tangan keluarganya. Tapi kalau melihat keadaan pasien, sepertinya tidak bisa menunggu lagi. Harus secepatnya," kata dokter.
Mira tidak bisa berpikir terlalu lama. Ini sebuah nyawa. Akhirnya Mira bertaruh.
" Dok, mungkin darah saya bisa cocok dengan pasien, saya bersedia mendonorkan darah saya. Dan juga bisakah saya menandatangani surat itu dan berapa biaya operasinya?" kata Mira agak takut.
" Tentu saja. Silahkan ikut suster untuk pemeriksaan darah. Biaya operasinya memang agak mahal sekitar 50 juta. Bagaimana apa masih bersedia tandatangan?"
" Ya dok. Saya akan tetap menandatangani surat tersebut,"
Mira menandatangani surat tersebut walaupun dia hanya membawa uang 10 juta yang hanya cukup untuk membayar uang muka. Setelah bernegoisasi dengan petugas dan meninggalkan KTP nya sebagai jaminan.
Mira juga mendonorkan darahnya yang kebetulan cocok dengan pasien. Mira menjalani donor langsung kepasien saat pasien menjalani operasi.
Setelah semua selesai, Mira tampak lelah. Tapi lelahnya terbayarkan. Nyawa pasien itu dapat diselamatkan, hanya saja saat ini pasien masih belum sadarkan diri diruang rawat inap.
Mira teringat ketiga anaknya yang sudah saatnya pulang. Diapun menghubungi Fara untuk menjemput anak-anak. Dia juga meminta Fara untuk membawakan uang 30 juta untuknya sebelum dulu sebelum menjemput anak-anaknya. Fara tidak banyak bertanya pada kakaknya uang sebanyak itu digunakan untuk apa. Karena jika kakaknya butuh berarti itu lebih penting dari butiknya.
" Mbak Mira, maaf tadi jalanan agak macet," ucap Fara agak terengah karena dia datang setengah berlari.
" Tidak apa-apa Fara. Nanti kakak cerita setelah sampai dirumah. Kakak pergi dulu," kata Mira terlihat terburu-buru.
Fara penasaran tapi kakaknya sudah berjanji akan memberitahunya nanti. Fara lalu pergi menjemput anak-anak kakaknya.
Sementara Mira segera menebus KTP nya dengan melunasi biaya operasi orang yang ditolongnya. Akhirnya dia bernafas dengan lega. Dia telah menyelamatkan satu nyawa. Walaupun tadi dia bertaruh, jika operasi itu gagal, dia pasti akan dituntut oleh keluarga pasien.
Semua sudah berakhir. Dia segera pulang dan tidak sempat melihat orang yang ditolongnya. Dia tidak menyadari bahwa keluarga pasien ternyata sudah sampai di rumah sakit setelah mendengar kabar dari kantor polisi tentang kecelakaan anggota keluarganya.
" Bagaimana keadaan suami saya dokter?" tanya wanita itu yang bernama Santy pada salah satu dokter.
" Apakah anda keluarga pasien?" tanya dokter.
" Benar dok. Saya istrinya," jawab Santy.
__ADS_1
" Pasien sudah melewati masa kritisnya. Sekarang hanya tinggal menunggu pasien bisa sadar kembali," kata dokter.
" Lalu kapan suami saya bisa sadar kembali dok," tanya Santy.
" Bisa satu jam, dua jam, bahkan mungkin bisa satu hari. Tergantung kondisi pasien sendiri," kata dokter lagi." Saya permisi dulu, masih ada pasien yang lain yang sedang menunggu."
" Terimakasih dokter."
***
Mira kembali ke rumah. Dia membersihkan diri terlebih dahulu sebelum dia menemui ketiga anaknya dan Fara.
" Fara, terimakasih udah jaga anak-anak. Apakah mereka sudah makan?" tanya Mira.
" Sudah mbak. Kini mereka sedang tidur siang. Mbak, mbak Mira terlihat lesu dan pucat, apakah mbak Mira sedang sakit?" tanya Fara kemudian.
" Aku tidak sakit, hanya tadi aku abis mendonorkan darahku," jawab Mira.
" Donor darah?"
" Ya, tadi kakak menolong seseorang yang sedang membutuhkan darah. Kebetulan darahnya sama denganku."
" Jadi, uang tadi juga untuk orang itu?"
" Benar, Fara. Orang itu harus segera dioperasi," jawab Mira.
Mira menceritakan semuanya pada Fara. Mulai dari kecelakaan dijalan sampai dia harus mengambil sebagian uang yang seharusnya dia gunakan untuk membuka butik impiannya. Mungkin juga ini sudah kehendak Tuhan, yang harus dia jalani. Tapi Mira tidak pernah menyesal dapat menyelamatkan sebuah nyawa.
Fara hanya tertegun melihat kakaknya mengorbankan impiannya demi menyelamatkan nyawa seseorang. Tidak semua orang bisa seperti kakaknya.
" Mbak Mira, mbak harus makan makanan yang sehat dan bergizi untuk mengembalikan kesehatan mbak Mira. Fara akan siapkan. Mbak Mira tunggu saja disini dulu, sebentar pasti sudah siap," kata Fara.
Fara bergegas membuatkan Mira segelas susu dan dan membuatkannya telur mata sapi. Selesai makan, Fara meminta kakaknya agar segera istirahat yang banyak agar tubuhnya bisa sehat kembali.
Mira hanya menurut saja perkataan adiknya. Mira meminta adiknya untuk segera pulang agar suaminya tidak bingung mencarinya dan Fara Masih harus menyiapkan makan malam juga untuk suaminya.
__ADS_1
Setelah Fara pergi, Mira termenung. Rencana pembukaan butiknya sekarang hanya bisa dilakukan secara sederhana saja. Dia juga harus memberikan penjelasan pada dokter Raka sebagai investornya. Mira berharap dokter Raka akan memahami keputusannya saat ini. Mengutamakan nyawa seseorang yang ada didepan kita yang seharusnya bisa kita tolong.