
Hendra berjalan mendekati Mira dan Nanda yang masih kaget dengan kedatangannya. Terlebih kalimat yang dia ucapkan seolah membela Mira.
" Ada apa. Kalian terkejut melihatku? Aku tadi memang langsung masuk karena mendengar suara kalian cukup keras terdengar dari luar," kata Hendra merasa bersalah.
" Tidak, pak Hendra. Ada apa pak Hendra datang?" tanya Mira.
" Ini tadi istriku menitipkan hadiah untuk Kasih dan adik-adiknya. Sepertinya sebuah mainan ."
" Tunggu pak Hendra. Mereka masih mempunyai seorang ayah, mereka tidak butuh hadiah dari kalian," kata Nanda kesal.
" Aku tahu.Tapi ini adalah niat baik kami dan bu Mira juga tidak keberatan."
" Jangan munafik. Setelah semua yang kamu lakukan, akhirnya aku mengerti apa sebenarnya tujuanmu. Kamu mau mendekati Mira kan?" tanya Nanda sinis.
" Ah...kamu. Seandainya ya ... kamu mau apa?"
" Aku akan membongkar semuanya." ancam Nanda. " Mira dia bukan laki-laki yang baik.Dia lebih seperti seorang mafia kejam."
" Jangan macam-macam Nanda," kata Hendra kesal.
" Dia yang sudah membuatku bangkrut dan menyuruh anak buahnya memukuliku," kata Nanda lagi.
" Aku melakukan itu untuk melindungi bu Mira dari laki-laki bejat sepertimu."
" Pergi kalian berdua...dari rumahku," teriak Mira keras membuat Nanda dan Hendra berhenti bertengkar. " Keluar...dengar tidak."
Nanda dan Hendra saling berpandangan dan mereka keluar dari rumah Mira dengan saling menyimpan amarah masing-masing.
Mira sangat sedih, dia tidak bisa lagi berpikir.
Ternyata Hendra adalah bos besar yang membuat perusahaan Nanda bangkrut karena mereka menarik investasi sepihak. Hendra juga yang menyuruh orang merekam Nanda saat akan melakukan kejahatan di hari pernikahan Mira.
Ternyata banyak hal yang tidak Mira ketahui.
***
Hendra mengajak istrinya untuk berdiskusi tentang keluarga Mira.
" Santy, kasihan Mira. Mantan suaminya ingin mengejarnya lagi. Kelihatannya dia tidak akan menyerah begitu saja."
" Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membantunya?"
" Entahlah aku sendiri tidak tahu. Aku sudah banyak melakukan hal yang buruk pada Nanda dan kelihatannya Mira tidak menyukainya. Jika kali ini aku berbuat seperti itu lagi, dia tidak akan memaafkanku."
__ADS_1
" Mas Hendra. Apa kamu tidak sadar bahwa kamu sudah jauh melebihi hak sebagai teman. Kamu menyukainya?"
" Apa yang kamu katakan!?" tanya Hendra kaget.
" Aku tahu, Mira sudah menyelamatkan nyawamu. Aku juga tahu kamu ingin membalas kebaikannya. Tapi tatapan matamu menunjukan lain."
" Apa...?"
" Tanpa kamu sadari, kamu sudah mulai menyukainya sejak kamu bertemu dengannya secara langsung." kata Santy lagi.
Hendra hanya terdiam.
" Aku hanya mengaguminya," kata Hendra.
" Aku pernah meminta mas Hendra untuk menikah lagi agar kamu punya keturunan. Mungkin kemaren-kemaren mas Hendra menolak dengan berbagai alasan. Dia sudah tidak bersuami. Sekarang, dia seorang janda. Jadi nikahilah dia. Semua anak-anaknya juga akan menjadi anak kita."
Hendra termenung dan ini mungkin jalan agar dia bisa menjaga Mira dan keluarganya.
" Apakah kamu serius? Tapi Mira tidak akan setuju jika aku yang memintanya," kata Hendra.
" Biar aku yang akan bicara dengannya sebagai sesama wanita. Aku yang akan memintanya secara langsung," Ucap Santy dengan nada lemah.
Mulutnya mungkin bisa berkata begitu jelas, tapi hatinya tetap tak rela suaminya akan menikah lagi. Tapi Santy menyadari kekurangannya yang tidak bisa menjadi wanita seutuhnya.
***
" Mira, bisa bicara sebentar?" tanya Santy.
" Tentu mbak Santy. Kita duduk disamping sambil melihat taman saja."
Mereka berjalan beriringan menuju taman di samping rumah Mira. Taman yang dibuat oleh Raka , suaminya khusus untuknya.
" Mira, boleh aku minta sesuatu darimu?" tanya Santy setelah mereka duduk santai.
" Tentu mbak Santy, jika aku bisa pasti akan kuberikan."
" Menikahlah dengan suamiku..."
Mira kaget dan tertegun mendengar permintaan Santy yang tidak pernah Mira bayangkan.
" Maksudmu...aku menjadi madumu?"
" Iya. Percayalah, aku akan baik padamu dan anak-anakmu."
__ADS_1
" Bukan masalah baik dan tidak. Ini menyangkut masa depan keluargaku."
" Anggap saja kamu menolongku. Aku dan mas Hendra sudah menikah selama lebih dari sepuluh tahun. Dan kamu juga tahu kami belum dikaruniai seorang anak. Sedangkan kamu memiliki tiga bahkan akan bertambah satu lagi. Itu hal yang tidak kami miliki."
" Mbak Santy, maksudmu setelah menikah aku harus melahirkan anak dari suamimu? Bukankah itu tidak adil bagiku yang hanya kalian anggap sebagai pemuas keinginan kalian?"tanya Mira sedih.
" Bukan begitu Mira. Sebenarnya mas Hendra menyukaimu. Karena itulah dia setuju menikah lagi denganmu."
" Aku ingin bertanya padamu. Apakah kamu ikhlas suamimu menikah lagi? Aku ingin jawaban yang jujur darimu mbak Santy," tanya Mira lagi.
Santy terdiam sesaat lalu menghela nafas panjang.
" Sejujurnya tidak ada seorang wanitapun yang ingin suaminya menikah lagi. Tapi..."
" Jawaban itu sudah cukup bagiku. Apa yang pernah aku alami cukup untukku tidak melakukan kesalahan lagi. Aku tidak akan pernah menikah dengan suami orang. Sekalipun statusku seorang janda. Aku tidak akan manjadi madu dari wanita manapun. Lebih baik menjadi seorang janda selamanya," kata Mira memotong perkataan Santy.
" Ini berbeda, aku juga ingin menjadi seorang ibu seperti wanita yang lain..." kata Santy sedih.
" Menjadi seorang ibu tidak harus bisa melahirkan seorang anak. Banyak anak-anak yang tidak punya orangtua. Yang setelah dilahirkan malah ditelantarkan. Bagus adalah contoh nyata. Aku tidak pernah melahirkannya tapi dia bahkan lebih mencintai aku dari ibu yang melahirkannya. Mereka akan menganggap kita ibu jika kita bisa bertindak sebagai ibu baginya. Aku harap mbak Santy mengerti keputusanku demi kebaikan bersama."
Santy termenung mendengarkan perkataan Mira yang bisa membuatnya sadar.
" Mira, kamu membuka hatiku untuk tidak terlalu menyesali hidup karena aku tidak bisa menjadi seorang ibu. Aku akan bicara pada Mas Hendra tentang pilihanmu," kata Santy." Tapi dia sangat ingin sekali membantumu dan membalas budi padamu."
" Aku tidak pernah berharap balas budi darinya. Katakan padanya aku ikhlas menolongnya. Jika aku ingin balasan, dari awal aku akan mencari keluarganya dan mengambil kembali uangku," kata Mira kemudian.
" Aku mengerti. Jadi bolehkah aku dan mas Hendra tetap berteman dengan kalian?"
" Tentu. Anggaplah anak-anakku anak kalian juga. Mereka pasti senang mempunyai orangtua kedua."
" Terimakasih Mira. Oh ya ...bagaimana dengan mantan suamimu. Apa dia masih terus mengganggumu?"
" Sebentar lagi dia juga akan menyerah."
" Saat ini kamu sedang hamil, jadi jangan terlalu banyak pikiran. Jika butuh bantuan, katakan saja. Kami akan membantumu dengan senang hati."
" Tentu. Kalian sudah banyak membantu keluargaku. Terimakasih."
Mira menghela nafas lega. Meskipun kini Mira harus menjalani hidup yang berat tanpa suaminya.
" Pak dokter, apakah masih ada harapan tersisa untuk tetap yakin bahwa dirimu masih hidup?
Anak ini akan segera lahir kedunia. Raka kecilku..."
__ADS_1