Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Bertemu sahabat


__ADS_3

Mira memiliki sahabat dekat. Namanya Nisa. Nisa, adalah sahabat baik Mira dari SMP sampai diperguruan tinggi bahkan sampai sekarang. Nisa sudah menikah dan ikut suaminya pindah keluar negeri tempat suaminya bekerja.


Mira, Nisa dan Nanda adalah sahabat masa kecil. Sampai akhirnya Nanda dan Mira memutuskan berpacaran dan menikah.


Nisa sengaja datang saat mendengar ibunya Mira meninggal. Nisa sudah menganggap ibu Sri sebagai ibunya yang kedua. Hubungan mereka sangat baik. Tapi karena suaminya banyaknya kesibukan, dia baru bisa datang.


Setelah dari rumah ibunya Mira, dia pergi kerumah Mira untuk melihat keadaan sahabatnya sekarang. Sudah hampir 5 tahun tidak bertemu sejak pernikahan Nisa. Nisa ikut suaminya yang bekerja di luar negeri.


Bagi Mira, bertemu Nisa merupakan hal yang sangat diharapkannya. Kini didepannya berdiri dihadapannya sahabatnya yang sudah lama dirindukannya. Merekapun berpelukan melepas rindu.


" Nisa kamu makin cantik aja."


" Wah, si cantik bilang aku cantik. Apa nggak salah, tetep aja si cantik paling cantik."


Si cantik adalah julukan Mira yang diberikan Nisa padanya.


" Kapan kamu pulang?"


" Sudah hampir sebulan. Mas Dwi pindah kerja ke Jakarta. Karena ingin lebih dekat dengan orangtuanya. Maaf karena aku tidak memberitahumu. Aku pikir aku ingin memberikan kamu kejutan."


" Tidak apa-apa. Aku ngerti. Kamu berhasil memberi aku kejutan manis. Bagaimana, sudah punya baby?"


" Sudah. Seorang laki-laki, kini baru berusia 2 tahun. Saat kemari aku menitipkannya pada ibuku. Karena aku datang untuk sahabatku, jadi aku ingin berfokus hanya untuk sahabatku."


" Trimakasih."


" Mira, Aku mendengar banyak hal terjadi padamu. Tapi aku ingin mendengar langsung dari kamu. Semoga kamu tidak keberatan."


" Tentu saja aku tidak keberatan. Aku malah senang kalau kamu bersedia mendengar keluh kesahku."


Mira akhirnya menceritakan semuanya dari awal. Saat suaminya harus menikah dengan Desy hingga kini Mira hamil.


" Apakah kamu juga menganggapku bodoh dan lemah karena menerima semua perlakuan mas Nanda?" Tanya Mira agak sedih.


" Mira, setiap orang mempunyai pilihan hidup masing-masing. Dan semua pilihan ada konsekuensinya yang harus diterima. Pilihan yang kamu pilih memang tidak semua wanita bisa melakukannya. Aku tahu kamu pasti juga sudah mempertimbangkan berbagai hal untuk memilih bertahan."


" Kamu mendukungku? Bagaimana seandainya kamu jadi aku?"


" Mira, sebagai sahabat aku selalu mendukung apapun keputusan sahabatku." Nisa berhenti sejenak dan menghela nafas panjang." Jika aku ada di posisi kamu, aku mungkin tidak bisa memaafkan suamiku. Aku akan minta cerai dan menghapusnya dari hidupku selamanya. Aku tidak akan peduli dengan apapun asal aku bisa bebas dari suami sepertu itu."

__ADS_1


" Lalu anak-anak dan orangtuamu? Bagaimana perasaan mereka?"


" Itulah bedanya, kamu dari dulu selalu memikirkan kebahagiaan orang lain. Selalu banyak pertimbangan dan tidak peduli dengan kebahagiaan kamu sendiri. Tapi aku sangat menghargai sifatmu yang seperti itu."


" Sebenarnya aku sangat tertekan. Banyak yang menganggap aku ini terlalu bodoh dan lemah. Mau saja diperlakukan seperti itu. Sampai aku tidak berani keluar rumah bertemu orang-orang. Aku merasa malu dan takut dengan pandangan orang."


" Mira, Kamu tidak perlu malu atau takut dengan pandangan orang lain. Menurutku kamu wanita yang kuat dan tegar. Kamu mampu bertahan hingga saat ini. Tidak semua wanita bisa seperti kamu. Tersenyumlah. Mira yang kukenal adalah wanita yang murah senyum. Kamu harus terlihat bahagia dengan pilihanmu. Maka mereka tidak akan lagi berani mengataimu lagi."


" Aku, bisakah aku melakukannya?"


" Tentu, kamu pasti bisa. Jangan biarkan hatimu terbawa kesedihan. Saat kamu sedih, ingatlah ini pilihanmu. Jadi kamu harus terima semuanya dengan lapang hati. Ingat juga, ada sahabatmu Nisa selalu mendukungmu. Semangatlah..."


" Terimakasih Nisa sahabatku, pemberi semangatku. Memang kamu paling mengerti aku." Mira tersenyum bahagia memiliki sahabat yang mengerti dan mendukungnya.


Dua sahabat ini saling berpelukan untuk mengisi semangat menghadapi hari esok yang mungkin lebih berat lagi. Sebelum pergi ada satu hal yang Nisa katakan pada Mira.


" Saat kamu memutuskan menerima wanita lain sebagai madumu, baik satu orang ataupun bahkan banyak wanita, anggap saja itu sama. Maka kamu tidak akan terlalu kecewa dan terluka. Disampingmu masih ada sahabatmu, adikmu Fara, Putri kecilmu Kasih dan baby kecilmu yang akan segera lahir. Kebahagiaan datang bukan hanya dari seorang suami, tapi juga dari orang-orang yang dekat denganmu yang mencintaimu lebih tulus dari suamimu."


Mira berusaha memahami kata-kata sahabatnya. Walupun mungkin belum tentu dia bisa melakukannya. Tapi itu juga kata-kata semangat untuknya.


Sejak kedatangan Nisa, Mira mulai membuka diri bertemu orang-orang dan tetangga dekatnya. Dia tak lagi tampak murung dan sedih. Mira tersenyum kepada orang -orang yang dia temui dan menebarkan aura bahagia untuk orang-orang disekelilingnya. Mereka tak lagi mengatakan Mira wanita yang bodoh dan lemah seperti yang dulu.


Suatu hari Nanda mengajak Rosa dan bayinya pergi ke rumah orang tua Nanda. Orangtua Nanda tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima cucu dan menantunya yang entah menantu yang ke berapa. Mereka sampai bingung dan pusing jika memikirkan putranya yang datang dengan membawa istri yang berbeda.


Rosa naik taksi menuju rumah Mira yang hanya berjarak 1 kilo dari rumah ibu mertuanya. Sesampainya disana, dia melihat rumah Mira begitu besar dan terlihat mewah. Diparkiran ada 2 buah mobil dan sepeda motor dan juga sebuah kolam renang yang cukup luas.


Dalam hati, Rosa kecewa karena dia juga istri sah Nanda, tapi sampai saat ini dia belum memiliki yang sama.


Bel rumah berdering. Mira berjalan perlahan untuk membuka pintu karena bibi Mei dan Kasih pergi ke sekolah. Betapa terkejutnya dia melihat siapa yang datang.


" Kenapa, apa aku tidak boleh datang?" Tanya Rosa sambil tersenyum sinis pada Mira.


" Siapa bilang tidak boleh silahkan masuk."


Mira jadi ingat kejadian yang sama saat Desy datang sebagai istri baru Nanda. Rosa juga melakukan hal yang sama.


Rosa mengamati seluruh isi ruang tamu dan sekitarnya. Mira hanya diam dan membiarkan apa yang dilakukan Rosa sampai Rosa duduk sendiri. Mira mengikuti Rosa duduk dihadapannya.


" Mbak Mira, rumah kamu bagus."

__ADS_1


" Terimakasih. Tapi aku yakin tujuanmu kesini bukan untuk mengatakan untuk memuji rumahku."


" Mbak Mira memang benar. Aku kesini untuk menanyakan satu hal. Mengapa mbak Mira tidak meminta cerai dari mas Nanda? Dia sudah menghianati mbak Mira, bukan hanya denganku, kenapa mbak Mira terus bertahan."


" Kenapa, kamu ingin aku menyerah?"


" Itu yang aku inginkan. Menyerahlah mbak. Mintalah cerai dari mas Nanda."


" Bertahan atau tidak, itu adalah keputusanku sendiri, tidak ada hubungannya denganmu. Apakah keputusanku bertahan hingga kini membuatmu tidak nyaman? Jika memang iya maka aku akan lebih kekeh bertahan. Aku tidak akan membuat hidup kamu tenang."


" Terserah saja jika mbak Mira berpikir begitu. Tapi toh, tetep aku dan anakku yang diutamakan. Karena selamanya anak mbak.Mira yang belum lahir tak akan pernah mendapatkan kasih sayang sedikitpun dari ayahnya."


" Kamu begitu yakin dengan ucapanmu. Apakah kamu yanh sengaja menghasut mas Nanda agar membenci anak yang ku kandung? Aku akan membuat mas Nanda mencintai anak ini."


" Coba saja jika bisa. Karena dia tidak yakin anak yang kamu kandung adalah anaknya."


" Jadi benar kamu yang melakukannya. Apa yang kau katakan pada mas Nanda?"


" Kamu selingkuh kan sama..." Rosa tertawa sinis melihat Mira penasaran.


" Kamu keterlaluan Rosa." Kata Mira kesal.


" Aku punya bukti, jika tidak, Mas Nanda tidak akan percaya."


" Bukti, bukti apa." Mira semakin kesal.


Saat itulah Fara muncul dan terkejut melihat seorang wanita yang sedang bertengkar dengan kakaknya.


" Kamu siapa? Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Fara sambil menunjuk kearah Rosa.


" Aku Rosa istrinya mas Nanda." Kata Rosa penuh percaya diri.


" Oh, jadi kamu si pelakor itu. Dasar wanita ******, untuk apa menemui kakakku. Kalian para pelakor tidak tahu malu. Harusnya mbak Mira yang datang melabrak kalian, ini malah sebaliknya. Kamu pikir kami takut dengan kamu. Cih, pergi sana, jika terjadi sesuatu dengan kandungan mbak Mira, aku akan menuntutmu."


Rosa hanya diam menahan kesal. Rosa tidak bisa menyela omongan Fara yang nyerocos dan tidak ada titik koma. Akhirnya Rosa hanya bisa pergi dengan hati kesal.


Mira berusaha menenangkan Fara yang terlihat sangat marah.


" Fara, sudah jangan marah lagi. Dia sudah pergi."

__ADS_1


" Mbak Mira, mbak ini terlalu baik. Seharusnya mbak tampar dia, atau jambak rambutnya. Mbak Mira harusnya melampiaskan kekesalan mbak padanya." Kata Fara berapi-api.


" Kamu lupa, mbak kan lagi hamil. Sudah sebesar ini kamu suruh berantem." Kata Mira sambil mengelus perutnya yang sebentar lagi akan melahirkan. Mira juga tersenyum dan dibalas Fara dengan senyuman malu.


__ADS_2