
Dokter Raka mengajak Mira dan ketiga anaknya pergi menemui orang tua dokter Raka yang ada di kota. Namun Mira merasa harus mempersiapkan mental dan hatinya untuk kemungkinan yang paling buruk. Ditolak calon mertua dengan berbagai macam alasan yang memang ada.
Mira tidak menyangkal jika banyak alasan bagi orangtua dokter Raka untuk menolaknya, namun dia akan tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk cintanya.
Walaupun dokter Raka mencintainya dan menerima kondisinya sebagai ibu dari tiga orang anak, tapi orangtuanya belum tentu bisa menerima dirinya apa adanya. Sedangkan bagi Mira restu orangtua penting untuk kedamaian dan kelanggengan sebuah keluarga.
Setelah merasa siap, Mira pergi ke kota bersama dokter Raka dan ketiga anaknya. Sebelum pergi, Mira menyerahkan semua pekerjaan pada Surti anak bibi Mei yang menjadi kepercayaanya selama ini. Demikian juga dokter Raka, dia mengambil cuti selama satu minggu agar memiliki waktu yang cukup untuk menemani Mira dikota. Dia juga tidak lupa menceritakan kondisi keluarganya pada Mira agar Mira mengerti situasinya.
Dokter Raka lahir disebuah keluarga pengusaha sukses, R & R group. Dia anak pertama dari 2 bersaudara. Seharusnya dia menjadi pewaris dari perusahaan ayahnya, yang bergerak di bidang tekstil. Namun dia justru mengikuti kata hatinya dan menjadi seorang dokter.
Meski ditentang oleh hampir semua keluarga besarnya, tak menyurutkan langkahnya untuk tetap konsisten dengan pilihannya.
Mendengar cerita dokter Raka, Mira menjadi agak keder juga. Mira tidak menyangka dokter Raka yang dikenalnya sangat sederhana, ternyata adalah anak dari keluarga kongklomerat.
Mira meminta dokter Raka untuk membawanya kerumah adiknya. Untuk sementara dia dan ketiga anaknya akan tinggal dirumah Fara sebelum dia memutuskan apakah akan kembali ke kampung atau membuka usaha baru disini.
Pertemuan dengan keluarga dokter Raka akan di lakukan malam ini. Mira merasa deg-degan dan cemas. Dokter Raka berharap bisa mengajak anak-anak ikut tapi Mira menolaknya. Mira tidak mau melibatkan anak-anaknya sebelum ada kejelasan sikap dari keluarga dokter Raka terhadap hubungan mereka. Dokter Raka menghormati keputusan Mira.
Mobil dokter Raka masuk ke sebuah rumah yang sangat besar dan luas. Mungkin dua kali lipat luas rumahnya dulu. Persiapan yang Mira lakukan akhirnya goyah juga. Mira duduk terdiam sebelum masuk ke dalam rumah keluarga dokter Raka. Dokter Raka menggenggam tangan Mira yang mulai keluar keringat dingin.
" Mira, lihat aku. Kamu pasti bisa.Tarik nafas lalu hembuskan perlahan. Ulangi lagi sampai hatimu tenang," kata dokter Raka menyemangati wanita yang sangat dicintainya.
Dokter Raka tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya yang tampak jelas. Lesung pipit yang membuat Mira jatuh hati padanya dan mendapatkan ketenangan hati.
" Ayo kita masuk," ajak dokter Raka kemudian.
Mereka berjalan bersama memasuki rumah yang terlihat sangat mewah. Disana sudah menunggu kedua orangtua dokter Raka dan adiknya Vivi. Mira seperti masuk kesebuah pengadilan. Setelah dokter Raka memperkenalkan Mira pada orangtua dan adiknya suasana menjadi tegang. Mira tidak tahu apa yang harus dikatakan didepan orangtua dokter Raka.
" Apakah benar kamu sudah memiliki anak?" tanya ibu dokter Raka pada Mira.
" Benar bi. Anakku ada tiga dan semua masih anak-anak." jawab Mira.
" Tapi anakku Raka belum pernah menikah apalagi punya anak. Sekarang harus merawat ketiga anakmu, apa kamu pikir dia akan sanggup?" tanya mamanya lagi.
Mira melihat kearah dokter Raka.
__ADS_1
" Mama, kenapa bertanya seperti itu pada Mira. Aku yang akan menjawabnya. Tentu aku sanggup merawat Mira dan juga ketiga anaknya," kata dokter Raka.
" Mama sudahlah, mereka datang kesini bukan untuk berdebat," kata ayahnya dokter Raka yang terlihat sangat bijaksana.
" Tapi pa...," kata mamanya agak kecewa dengan suaminya.
" Mira, maafkan kami karena sudah membuatmu tidak nyaman. Raka, papa ingin bicara berdua saja dengan Mira." kata ayahnya lagi.
Dokter Raka memberi isyarat pada Mira untuk mengikuti papanya keruang kerjanya. Mira berjalan mengikuti ayahnya dokter Raka dengan penuh pertanyaan. Akankah seperti di drama-drama, orangtuanya akan memberinya uang agar menjauh dari anaknya?
" Duduklah, kamu tidak perlu sungkan. Aku hanya ingin meminta bantuanmu," kata ayah dokter Raka.
" Bantuan seperti apa yang paman butuhkan. Jika Mira bisa pasti Mira akan lakukan," tanya Mira penasaran.
" Kamu pasti bisa. Bujuklah Raka agar berhenti dari pekerjaannya yang sekarang, dan bersedia bekerja di perusahaan," kata ayah dokter Raka.
" Apakah ini sebuah syarat agar kami bisa bersama?"
" Kamu bisa menganggapnya begitu," jawab ayah dokter Raka.
" Tapi aku tidak mungkin bisa membujuknya. Bukan karena dia tidak akan menurutiku tapi aku yang tidak mau mengorbankan prinsipnya demi bisa bersama," kata Mira tegas.
Mira pulang dengan hati yang bimbang. Dokter Raka mencoba bertanya tentang pembicaraannya dengan ayahnya, namun Mira tidak ingin membahasnya karena takut akan menyakiti hati dokter Raka. Dokter Raka harus menelan rasa penasarannya sampai Mira bersedia bicara dengannya.
Sebelum pulang, dokter Raka mengajak Mira untuk santai sejenak di sebuah cafe. Mereka duduk sambil menikmati kopi hangat.
" Mira, aku ke toilet sebentar ya," kata dokter Raka.
Mira hanya tersenyum sambil mengangguk pelan. Tapi tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya. Suara yang sempat membuatnya panik. Namun dia berusaha tenang dan berusaha tidak terpengaruh lagi dengannya.
" Mira, apa kabar," suara Nanda pelan tapi bagi Mira seperti suara geledek.
" Baik. Kamu juga terlihat baik-baik saja," jawab Mira.
" Tidak juga. Aku begitu khawatir saat kamu dan anak-anak menghilang. Tapi syukurlah kalian baik-baik saja," kata Nanda sambil duduk didepannya.
__ADS_1
" Kamu tidak perlu pura-pura khawatir dengan kami. Kami masih bisa makan dan tidur dengan layak walau tanpa kamu," kata Mira agak kesal.
" Aku tidak berpura-pura peduli dengan kalian. Kembalilah padaku, kita rujuk kembali. Kita lupakan semua yang telah terjadi. Kita akan mulai dari awal lagi," kata Nanda memelas.
" Kamu mau menjadikan aku istrimu yang keberapa?" tanya Mira.
" Aku akan menceraikan Rosa dan Nela. Aku janji aku akan menjadikanmu satu-satunya istriku," jawabnya berusaha meyakinkan Mira.
Mira hanya tersenyum pahit melihat sikap mantan suaminya yang berusaha merayunya.
Bagaimana Nanda tidak akan tergoda dengan Mira. Mira kini berubah menjadi wanita karier yang cantik dan fashionable karena tuntutan pekerjaan.
" Mas Nanda, kamu ternyata masih sama seperti dulu. Sangat egois. Kenapa kamu tidak bisa menghargai apa yang kamu miliki saat ini. Kamu sudah punya Rosa dan juga Nela, hargailah keberadaan mereka dan jangan mencoba mencari apa yang bukan milikmu," kata Mira kesal.
" Kamu adalah milikku. Kamu sangat mencintai aku dan aku juga sangat mencintaimu. Aku menyesal dengan semua perbuatanku terhadapmu. Tidak ada wanita yang bisa mengerti aku selain kamu. Mira..."
" Mungkin dulu aku sangat mencintai kamu, bahkan aku menjadi wanita paling bodoh di dunia karena kamu. Itulah kenapa, orang harus menghargai miliknya saat ini karena dia tidak akan tahu betapa berharganya dia setelah dia tidak ada lagi disisimu," kata Mira sambil meneteskan airmata.
" Mira, kenapa menangisi masa lalu," ucap dokter Raka tiba-tiba.
Nanda dan Mira tidak menyadari bahwa semua yang mereka bicarakan didengarkan dokter Raka. Sebenarnya dokter Raka marah saat mendengar Nanda meminta rujuk pada Mira, namun jawaban Mira selanjutnya membuatnya tenang.
" Tidak, aku tidak menangisi masa lalu. Aku hanya menyesal setelah semua yang terjadi dia tidak juga bisa berubah menjadi lebih baik," jawab Mira pelan.
Dokter Raka mendekati Mira lalu menghapus airmata Mira dengan ujung jarinya.
" Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan airmata ini menetes lagi untuknya. Aku ingin selalu melihatmu tersenyum untukku. Senyumlah..." pinta dokter Raka.
Mira tersenyum malu dan manja.
Nanda memperhatikan Mira dan Raka yang mengumbar kemesraan dihadapannya.Dia sangat kesal melihatnya.
" Pergilah, tunggu aku di mobil. Aku ingin bicara berdua dengan mantan suamimu yang sombong itu," kata Raka pada Mira.
" Tapi apa yang ingin kamu bicarakan denganya?" tanya Mira.
__ADS_1
" Kamu tidak perlu khawatir. Kami tidak akan berantem. Kami sudah dewasa," ucap Raka meyakinkan Mira.
Mira melangkah pergi meninggalkan Raka dan Nanda yang saling beradu pandang seolah bertanding secara batin. Mira berharap semua akan baik-baik saja.