
Hubungan Nanda dan Rosa sudah malangkah jauh dan melewati batasan. Sebenarnya Rosa tidak ingin menyembunyikan hubungan mereka, tapi Nanda masih belum siap menghadapi kedua istrinya.
Suatu hari, Rosa meminta Nanda untuk menemaninya pergi berbelanja ke mall. Rosa berpura-pura menangis dan merajuk supaya Nanda bersedia menemaninya. Nanda pun tidak tega melihatnya sehingga dia bersedia pergi dengan Rosa.
Di mall, Rosa mengajak Nanda ke bagian pakaian. Disana Rosa bingung memilih baju yang cocok untuknya. Dia berjalan kesana kemari, lalu mendesah kesal.
" Sayang, kamu ini kenapa? Dari tadi bolak balik dan terlihat kesal, sampai pusing aku melihatnya."
" Mas, aku bingung. Baju disini bagus-bagus, bingung mau pilih yang mana."
" Kenapa bingung, pilih semua yang kamu sukai."
" Benarkah?"
" Tentu, apa sih yang nggak buat sayangku." Kata Nanda sambil menyentuh hidung Rosa.
Rosa sangat gembira, dipilihlah banyak baju yang disukainya. Melihat Rosa gembira, Nanda juga ikut senang dapat memanjakan Rosa dengan uangnya.
Namun, tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan. Dia adalah Novi, sahabat Desy. Novi mengambil gambar Nanda dan Rosa secara diam-diam. Wajahnya tampak kesal dan marah. Setelah dirasa cukup bukti, Novi bergegas pergi dan tidak ingin Nanda melihatnya.
Novi menemui Desy di sebuah cafe.
" Ada apa Nov, kamu terlihat serius sekali tidak seperti biasanya." Desy tersenyum.
" Benarkah, wajahku pasti terlihat tua sekarang. Makanya kamu bilang begitu."
" Cantik kok. Agak sih, agak tua."
Mereka tertawa bersama.
" Bagaimana kabarmu. Maksudku bagaimana hubunganmu dengan Nanda. Apakah kalian baik-baik saja?"
" Cukup baik. Walaupun akhir-akhir ini mas Nanda lebih banyak menghabiskan waktu dengan istri pertamanya, mbak Mira. Jarang ke tempat aku. Nggak papa sih, biar mbak Mira nggak terlalu marah sama aku." Desy sedih dan menghela nafas berat.
" Kamu yakin Nanda bersama istrinya?" Novi memandang Desy penuh rasa kasihan.
" Iya lah Nov, mau sama siapa lagi."
" Des, Kemaren aku melihat Nanda di mall sedang belanja dengan seorang gadis muda."
" Gadis muda?" Desy tertegun.
" Ya, yang aku tahu istrinya Nanda seumuran kamu kan. Dia bukan Mira. Kelihatannya hubungan mereka sangat dekat. Kayak begitulah. Mesra banget."
" Masak sih. Memang setahuku mbak Mira nggak suka pergi ke mall. Lebih banyak dirumah."
" Aku udah ambil beberapa foto mereka."
Novi menunjukkkan foto Nanda dan Rosa kepada Desy. Desy tiba-tiba meneteskan airmata. Lalu Desy memegang perutnya. Novi jadi curiga melihat Desy.
" Apakah kamu sedang hamil?" Tanya Novi penasaran.
__ADS_1
" Iya Nov, udah jalan 3 bulan." Jawab Desy suara agak parau.
" Aduh, tahu gitu aku nggak akan kasih tahu kamu tentang suamimu." Novi merasa bersalah.
" Mungkin ini takdir."
" Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
" Aku tidak tahu. Aku harus memikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan." Desy berhenti lalu menatap sahabat baiknya. " Terimakasih kamu sudah memberitahu kebenaran ini padaku. Jangan merasa bersalah. Aku baik-baik saja."
Novi menggenggam erat tangan Desy untuk memberi semangat pada sahabat baiknya. Setelah tahu kebenarannya, biarlah Desy membuat keputusan untuk hidupnya sendiri dan masa depannya.
Sekian lama tak datang, Nanda akhirnya datang menemui Desy. Nanda tampak gelisah. Desy berusaha memperlakukan Nanda dengan baik layaknya istri yang berbakti. Menyiapkan makanan kesukaan Nanda. Desy pura-pura tidak melihat kegelisahan Nanda.
" Mas Nanda, Mas mandi dulu. Ini baju gantinya Desy taruh diatas tempat tidur. Setelah itu kita makan bersama. Desy siapkan makanan kesukaan mas Nanda."
" Iya sayang." Jawab Nanda seraya berjalan kekamar untuk mandi.
Makan malam yang Desy siapkan, sepertinya tidak cukup untuk membuat Nanda berselera makan. Desy memperhatikan tingkah laku Nanda dengan tatapan sedih. Selesai makan, Desy menyuruh bibi membereskan meja makan.
Desy dan Nanda duduk santai di ruang keluarga sambil menonton televisi. Desy merasa Nanda berubah. Meski raganya disini bersamanya namun hatinya entah dimana.
Saatnya Desy bertanya pada suaminya, Malam ini akan menjadi malam penentuan hubungan antara dia dan Nanda.
" Mas, apakah tidak ada yang ingin kamu katakan padaku."
" Tidak ada." Nanda menatapnya curiga.
" Sungguh? Bagaimana dengan gadis kecil yang bersamamu di mall kemaren. Tidakkah ada yang perlu mas Nanda jelaskan padaku?"
" Sayang, kamu beneran sudah melihatnya?" Ucap Nanda tak yakin dengan ucapn Desy.
" Kenapa, mas Nanda tidak percaya? Haruskah kemaren itu aku langsung labrak dia, menjambak rambutnya, atau aku patahkan tangannya yang berani menggandeng tangan suamiku. Atau haruskah langsung aku potong-potong tubuhnya karena dia berani memeluk suamiku? Begitu mas?" Desy mulai tak dapat menahan emosinya.
" Bukan begitu." Nanda mulai merasa bersalah.
" Mas Nanda berhutang penjelasan kepadaku dan harus mas Nanda bayar sekarang."
" Baiklah sayang ,tapi kamu jangan emosi dulu ya?" Nanda menata hatinya, menghadapi segala kemungkinan yang terburuk
" Gadis itu pacar aku. Namanya Rosa."
Namda berhenti menjelaskan karena melihat Desy giginya gemeretak menahan amarah. Lalu-tiba berubah sedih.
" Jadi semua ini benar. Mas Nanda berselingkuh dibelakang aku dan mbak Mira."
" Maksud kamu, kamu sebenarnya tidak tahu? Kamu berbohong padaku?" Nanda kesal dibohongi Desy.
" Mas Nanda tidak berhak kesal atas kebohongan aku, karena apa yang mas Nanda lalukan juga sebuah kebohongan."
Nanda terdiam mendengar ucapan Desy karena itu memang benar.
__ADS_1
" Baiklah, aku akui aku juga salah. Karena kini kamu sudah tahu semuanya, aku harap.kamu bisa menerima Rosa."
" Apakah mbak Mira tahu tentang perselingkuhan mas Nanda?"
" Belum, kalau sudah tiba waktunya aku sendiri yang akan mengatakan padanya."
" Mas harap kamu menyimpan hal ini untuk saat ini."
"Tentu, aku bisa menyimpan hal buruk untuk kebaikan mbak Mira. Seandainya mas Nanda Desy suruh memilih antara Desy dan Rosa, siapa yang akan maa pilih."
" Kalian sama-sama wanita yang aku cintai. Jangan paksa aku untuk memilih."
" Mas Nanda jangan serakah. Mas Nanda sudah ada aku dan mbak Mira, kenapa masih mencari wanita lain?"
" Karena aku mencintainya. Dan aku tak bisa berpisah dengannya."
Jawaban Nanda membuat hati Desy hancur. Begini rasanya bila suami mencintai wanita lain. Mungkinkah ini karma karena merebut Nanda dari Mira. Kenapa pembalasan terlalu cepat datang. Perasaan Desy campur aduk antara marah, benci, kesal dan cinta.
" Kalau mas Nanda, tidak bisa meninggalkan wanita itu, biar aku yang memilih menyerah."
" Sayang, apa maksudmu menyerah?"
" Aku tidak bisa seperti mbak Mira. Wanita yang punya hati yang luas dan cinta yang ikhlas. Aku tidak punya kekuatan untuk dapat mencintai mas Nanda dengan segala kekuranganmu. Aku tidak bisa menerima cinta dengan yang penuh kekhawatiran dan ketakutan kehilangannya." Desy meneteskan airmata yang sudah ditahanya sejak tadi.
"Mas Nanda, kita berpisah saja. Ceraikan aku sekarang juga."
Nanda kebingungan dengan keputusan Desy. Diraihnya tangan istrinya yang masih menangis.
" Sayang, jangan berkata begitu. Aku mencintai kamu, aku akan adil pada kalian, percayalah."
" Keputusanku, sudah bulat. Sudah aku pikirkan dengan matang dan aku tidak akan menyesalinya."
Desy melepaskan tangan suaminya, lalu berjalan menuju kekamarnya.
" Aku tidak akan pernah menceraikanmu." Kata Nanda keras agar Desy mendengarnya.
Tak berapa lama terdengar suara bibi menjerit. Nanda berlari mendekati arah suara tadi. Betapa terkejutnya Nanda melihat Desy tergeletak di lantai dalam keadaan pingsan.
Nanda panik. Diangkatnya tubuh Desy lalu dibawanya kekamar. Bibi mengelus perut Desy yang sudah mulai terlihat sadar.
" Bik, apa yang terjadi?"
" Nyonya pingsan, untung bayinya tidak apa-apa." Jawab bibi senang.
" Bayi, kamu hamil. Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau kamu sedang hamil?" Nanda terkejut tapi juga bahagia dengan kehamilan Desy.
" Untuk apa, toh semua juga tidak akan berubah. Kita akan tetap bercerai."
" Sayang, pikirkanlah lagi, kita akan punya anak. kalau kita bercerai, dia tidak akan punya ayah."
" Aku bisa mengasuhnya sendiri. Masalah biaya kamu bisa memberi anakmu jika masih kamu anggap anak."
__ADS_1
" Karena keputusan kamu final, baik aku akan menceraikan kamu. Aku talak kamu, Desy. Mulai sekarang kamu bukan istriku lagi. Tapi karena saat ini kamu sedang hamil, biarkan aku tetap sesekali mengunjungimu." Dengan berat hati, Nanda akhirnya menceraikan Desy.
Desy sedih, akhirnya cintanya berakhir.