
Rosa kembali kerumah kontrakannya. Namun kali ini berbeda, dia kembali bukan sebagai simpanan, tetapi sebagai istri Nanda yang telah mendapat izin dari istri pertamanya.
Selangkah lagi Rosa akan menjadi nyonya Nanda yang sah. Senyum Rosa merekah sepanjang waktu sesampainya dirumah kontrakanya.
Rosa kembali tak hanya sendiri, dia membawa ibunya untuk menemani dan merawat Luky yang juga ikut bersamanya.
Luky adalah anak dari suami pertamanya yang meninggal karena kecelakaan saat dia masih dalam kandungan. Saat ini Luky baru berusia 2 tahun.
Sebenarnya Nanda ingin menyewa seorang perawat untuk mengasuh Luky agar tidak merepotkan ibu mertuanya. Tapi Rosa menolak dengan alasan supaya ibunya juga bisa ikut menjaganya. Saat ini dia sedang hamil dan membutuhkan ibu disampingnya.
Nanda berusaha berpikir keras untuk mencari cara agar kedua orangtuanya tidak marah saat mengetahui bahwa dia menikah lagi.
"Cucu..."
Mereka tidak akan saat tahu Rosa hamil dan mereka akan segera memiliki cucu. Namun tiba-tiba Nanda teringat Desy. Apakah dia sudah melahirkan? Bagaimana kondisi anaknya?
Karena penasaran, Nanda menghubungi Desy yang ternyata saat ini sudah melahirkan seorang anak laki-laki.
" Hallo, mas Nanda."
" Desy, apa kabar."
" Baik mas. Apakah kamu ingat anakmu?"
Nanda terdiam.
Kata-kata Desy menyindir Nanda karena sejak menceraikanya, Nanda tidak pernah sekalipun menghubunginya apalagi menemuinya untuk hanya sekedar bertanya tentang anaknya.
" Bagaimana, apakah kamu sudah melahirkan?"
" Dua minggu yang lalu. Dia laki-laki yang sehat. Wajahnya mirip sekali dengan kamu."
" Siapa namanya?" Nanda tersenyum bahagia.
" Kamu ayahnya. Berilah dia nama."
" Aku..." Nanda sejenak berpikir. " Bagus, ya Bagus. Bagaimana?"
" Ya, namanya Bagus." Desy setuju saja nama pemberian Nanda untuk anaknya.
Rosa mendengar pembicaraan Nanda dan Desy dengan penuh amarah dan cemburu. Rosa langsung merebut handphone Nanda dan langsung mematikan panggilan. Nanda kaget, dia lupa saat ini dia ada dirumah kontrakan Rosa.
__ADS_1
" Mas, mas Nanda masih berhubungan sama Desy?"
" Sayang, aku hanya menanyakan kabar anak aku saja. Tidak lebih dari itu." Nanda berusaha menjelaskan sambil memegang tangan Rosa.
" Sudah, jangan marah lagi. Ingat kamu lagi hamil nggak boleh marah-marah. Okey."
Rosa tahu Nanda hanya menanyakan soal ananya, tapi dia ingin agar suaminya jujur padanya.
" Benarkah ?"
Rosa cemberut sambil bersikap manja dihadapan Nanda yang kemudian memeluknya.
Esoknya, Nanda pulang kerumah Mira sepulang kerja. Walaupun hanya sekedar menyapa putrinya, Kasih. Kasih sejak beberapa hari yang lalu selalu menanyakan ayahnya kepada Mira. Mira hanya menjawab kalau ayahnya pergi dinas keluar kota.
Kasih sangat bahagia melihat ayahnya kembali. Dia menyambut ayahnya dengan pelukan hangat. Nanda tersenyum melihat Kasih yang terlihat sangat merindukannya.
" Kasih, biarkan ayah mandi dulu. Ayah bau keringat tuch." Kata Mira pada Kasih. Mira menyadari kepulangan Nanda kali ini bukan untuknya ataupun untuk Kasih, tapi untuk meminta restu orangtuanya.
" Nggak bau kok." Kata Kasih seolah tak ingin melepaskan ayahnya, takut ayahnya pergi lagi.
" Tapi papa kan capek udah seharian bekerja. Entar habis ayah mandi kan bisa main lagi." Mira berusaha membujuk Kasih yang masih enggan melepas ayahnya.
Akhirnya Kasih melepaskan pelukannya dan membiarkan ayahnya pergi. Nanda hanya tersenyum melihat tingkah Kasih yang manja dan merajuk.
Nanda melangkah pergi meninggalkan Kasih yang masih cemberut.
Mira menyuruh bibi Mei membawa Kasih ke kamarnya untuk belajar agar bisa melupakan kedatangan ayahnya.
Nanda terlihat sudah rapi ketika Mira keluar dari kamar Kasih.
" Papa akan pergi, menemui ayah dan ibu." Pamit Nanda.
" Iya pa. Tapi, kemarin ayah jatuh sakit. Papa hati-hatilah berbicara pada mereka. Soal Kasih, papa tidak perlu khawatir. Mama yang akan menjelaskan."
" Terimakasih ma."
Mira tertegun melihat suaminya pergi meninggalkan dirinya yang penuh dengan kekecewaan. Suaminya sama sekali tidak bertanya apapun tentangnya.
Hingga malam telah larut, Nanda tidak pernah kembali lagi. Mira masih saja menunggu hingga dia ketiduran di sofa. Suaminya tak datang hingga sang fajar datang.
Perasaan kecewa dan sedih bercampuk aduk menjadi satu. Mira melangkah gontai menuju kamar Kasih. Dipandanginya putrinya yang juga menanti ayahnya.
__ADS_1
" Maafkan ibu, Kasih. Tak bisa menjaga ayah untukmu."
Sementara itu Nanda segera pulang kerumah kontrakan Rosa setelah memberi tahu orangtuanya tentang pernikahannya.
Mulanya orangtuanya sangat marah dan kecewa pada Nanda. Namun Nanda berhasil membujuk orangtuanya dengan mengatakan bahwa Rosa saat ini sedang hamil anaknya dan Mira juga sudah menyetujuinya menikah lagi.
Nanda juga mengatakan bahwa pernikahannya dengan Desy sudah berakhir. Nanda sudah menceraikan Desy. Dan kini istrinya hanya Mira dan Rosa. Nanda meminta orangtuanya untuk tidak mendengarkan apa kata orang tentangnya.
Orangtuanyapun hanya bisa pasrah, melihat kelakuan putranya. Kemarin mereka merestui pernikahannya dengan Desy karena Deay sudah banyak membantu perusahaan. Kini harus merestui pernikahannya dengan Rosa karena Rosa sudah hamil anak Nanda.
Mereka saja merasa sakit dan sedih, apalagi Mira. Bagaimana dia bisa menghadapi semua kenyataan ini tanpa mengeluh pada mereka saat menjaga ayah mertuanya yang sakit.
Rosa tampak senang mendengar kabar dari Nanda. Berarti sekarang sudah tidak ada yang bisa menghalanginya untuk meminta pernikahan yang sah.
" Mas, akhir-akhir ini aku memikirkan sesuatu dan aku menginginkanya. Maukah mas Nanda memberikan apa yang aku mau, demi anak kita ini?"
" Apa itu?"
" Aku ingin menjadi istri resmi mas Nanda secara negara bukan hanya secara agama."
Nanda terkejut dengan keinginan Rosa yang baginya sulit untuk dilakukan. Kepalanya rasanya berat. Nanda seperti mau stres mengurus persoalan rumahtangganya yang seakan tak pernah berhenti.
" Mas Nanda, bagaimana mas, bisa tidak. Ini keinginan anak kamu lho."
" Akan aku pikirkan."
" Jangan hanya dipikirkan mas."
" Kamu terlalu banyak menuntut." Nanda terlihat kesal.
" Mas, kamu marah sama aku. Baik kalau kamu tidak menginginkan aku dan anak kamu lagi, lebih baik aku pergi saja dari sini."
Rosa juga ikut kesal lalu berdiri seolah benar-benar akan pergi, padahal dia sengaja menunggu Nanda membujuknya.
Melihat Rosa marah, Nanda jadi merasa bersalah. Nanda berusaha menahan Rosa agar tidak pergi.
" Sayang, aku yang salah. Sudah ya jangan marah lagi. Baiklah, nanti papa akan mencari pengacara untuk meminta bantuan dan membicarakan masalah ini. Senyum dong jangan marah lagi." Bujuk Nanda.
Rosa tersenyum senang dan memeluk suaminya sambil mengucapkan terimakasih.
" Terimakasih mas, mas Nanda suami yang terbaik."
__ADS_1
Nanda tak pernah menyangka ternyata kali ini sangat sulit hidup berpoligami, terlebih Rosa terlalu banyak menuntut dan Nanda tak bisa menolaknya.
Lagi-lagi Nanda harus memohon pada Mira, sebagai istri sahnya secara negara untuk mengabulkan keinginan Rosa.