
Mira menyimpan kekecewaan yang dalam pada suaminya setelah dia mengetahui suaminya mementingkan liburan bersama Rosa daripada menemaninya menanti kelahiran sang buah hati.
Mira yang semula berharap Nanda memberi nama pada anaknya, kini Mira tak berharap lagi.Dia memberi nama untuk sang buah hati "Tabah Kurniawan".
Sedalam rasa cinta yang Mira miliki maka sedalam itu pula sakit yang dia rasakan. Harapan-harapan yang dia selipkan diantara kekecewaan hatinya bahwa suatu saat suaminya akan sadar dan kembali padanya, hanyalah merupakan harapan semu.
Mira melepaskan harapannya jauh ke angkasa yang kian hilang terbawa angin. Memadamkan api cinta yang selama ini meneranginya dan menghapus memory indah cinta pertama.
Senyum dan tawa yang pernah memancarkan aura bahagia hanyalah topeng kepalsuan untuknya menutupi hatinya yang luka. Saat dia tersenyum, sesungguhnya hatinya menangis. Dan saat dia tertawa, hatinya menjerit kesakitan.
Mira akhirnya menggenggam keikhlasan tanpa rasa. Mematikan hati dan rasa kepada suaminya yang tidak setia.
Meski Nanda datang meminta maaf dan membawa penyesalan karena telah meragukan kesetiaan Mira, Mira tak sedikitpun merasa bahagia ataupun tersanjung.
Bagi Mira saat ini, asalkan anak-anaknya tidak kehilangan kasih sayang seorang ayah, Mira akan bertahan dan ikhlas. Hal yang dulu sulit dia terima. Ikhlasnya untuk berbagi dengan madu-madunya.
Tiga tahun telah berlalu.
Perusahaan Nanda semakin maju dan semakin besar. Keinginan Rosa untuk memiliki rumah dan mobil yang lebih bagus dan mewah dari rumah dan mobil yang dimiliki Mira akhirnya kesampaian. Rosa kini merasa sudah sejajar dengan Mira dalam hal kemewahan.
Apalagi anaknya yang dulu memiliki kekurangan, kini dengan biaya yang tidak sedikit, akhirnya anak Rosa sudah bisa melihat dan berjalan dengan normal.
Karena perusahaan semakin besar dan kini sudah membuka beberapa cabang baru dikota lain. Nanda harus pergi untuk mengurus salah satu cabang di kota Balikpapan yang sedang bermasalah.
Di kota inilah dia bertemu Nela. Wanita cantik dewasa dan lembut. Dia juga seorang janda beranak satu. Dia bekerja sebagai asisten pribadi Nanda selama berada di kantor cabang di Balikpapan.
Karena Nanda akan cukup lama di Balikpapan, dia menyewa sebuah rumah sederhana untuk dia tinggali selama bekerja di sini.
Awalnya tak ada yang istimewa dengan hubungan mereka berdua. Nela menyiapkan semua keperluan Nanda baik yang berhubungan dengan pekerjaan di kantor, maupun keperluan pribadi. Seperti menyiapkan makan dan pakaian bersih untuk Nanda.
Suatu hari, Nanda mengajak Nela menemani klien minum disebuah bar. Klien tersebut berusaha menggoda Nela dan mengajaknya minum alkohol. Nela bingung dan takut, jika menolak pasti akan mempengaruhi kesepakatan yang sudah ada, tapi jika dia menerima, itu tidak baik untuknya.
Nanda menyadari keadaan Nela, dengan pura-pura mabuk Nanda mengatakan pada kliennya bahwa Nela tidak boleh mabuk karena dia harus menyetir. Lalu dia mengajak Nela pergi dan meminta Nela memapah dirinya. Nanda memeluk tubuh langsing Nela hingga membuat Nela agak canggung.
Wangi aroma parfum Nela sangat menyengat hidung Nanda. Wajah Nanda begitu dekat dengan wajah Nela. Sangat dekat hingga membuat Nanda bergetar sesaat, sampai Nela melepaskan pegangannya karena dirasa sudah cukup jauh.
Nanda mengantar Nela pulang. Selama perjalanan mereka hanya diam dan terbawa suasana hati masing-masing.
Sejak saat itu, secara diam-diam Nanda mulai memperhatikan Nela. Nanda juga tidak mengerti mengapa dia merasa Nela begitu menggoda. Apalagi jika Nela memakai rok pendek, kakinya terlihat panjang dan ramping.
Malam itu, selesai menghadiri rapat dengan klien, Nanda mengajak Nela makan malam dulu sebelum pulang. Nela setuju saja karena kebetulan dia juga merasa lapar.
" Nela, apakah persiapan untuk pertemuan besok sudah siap?" Tanya Nanda sambil makan agar tidak terada canggung.
" Pak Nanda, sebenarnya ada beberapa dokumen yang saya butuhkan ada dirumah pak Nanda. Tapi ini sudah malam jadi saya..."
" Malam. Ini baru jam berapa? Nanti sebelum aku antar kamu pulang, mampir dulu ketempatku untuk mengambil dokumen yang kamu perlukan."
__ADS_1
" Baik, pak Nanda."
Selesai makan, Nanda dan Nela pergi ke tempat Nanda untuk mengambil dokumen itu.
" Kamu cari saja dokumen yang kamu perlukan, aku mandi dulu, nanti baru aku antar pulang."
" Baik pak, Tapi dimana dokumen itu?"
" Ada dikamarku."
Nanda bergegas masuk diikuti Nela. Sementara Nanda mandi, Nela berusaha mencari dan mengumpulkan dokumen yang dibutuhkannya untuk rapat besok.
Setelah ketemu Nela melihat-lihat dokumen itu, tiba -tiba seseorang memeluknya dari belakang. Nela sangat terkejut dan kaget, untuk sesaat Nela terdiam.
" Nela, kamu cantik. Aku menyukaimu." Ucap Nanda lirih.
" Jangan pak. Apa yang pak Nanda lakukan."
Nela sadar bahwa Nanda yang memeluknya. Diapun berusaha melepaskan pelukan Nanda, tapi sulit bagi Nela untuk melepaskan diri. Karena Nanda memeluknya dengan erat.
Untunglah saat itu, ponsel Nanda berdering tak berhenti hingga membuat Nanda melepaskan pelukanya. Nela segera berlari keluar dan pergi. Sementara Nanda melihat ponselnya, ternyata Rosa yang menghubunginya.
" Hallo sayang, ada apa, kangen ya?" Kata Nanda mesra.
" Ya, mas. Bagaimana mas Nanda disana, kangen juga nggak sama aku?" Rosa me.jawab dengan manja.
" Lalu kapan mas Nanda bisa pulang?"
" Entahlah, mungkin 1 minggu lagi. Setelah semua berjalan normal, aku pasti segera kembali"
" Baiklah, jangan lupa makan nanti mas Nanda bisa sakit."
" Baik bu bos."
Nanda tertawa sambil menutup panggilan dari Rosa.
Nanda teringat apa yang dilakukannya pada Nela. Nanda berganti baju dan bergegas mengejar Nela. Namun Nela sudah tidak ada. Dia berusaha menghubungi ponsel Nela, tapi Nela tidak menjawabnya.
" Nela pasti marah padaku. Dasar, apa yang akan aku lakukan sekarang." Pikirnya dalam hati.
Nanda berusaha mencari kesempatan untuk meminta maaf pada Nela. Namun Nela selalu berusaha menghindar jika Nanda mulai berusaha membahas kejadian hari itu.
Jika Nela tidak butuh pekerjaan ini, dia pasti sudah berhenti karena malu diperlakukan seperti itu. Walaupun sebenarnya didalam hati, Nela juga menyukai Nanda. Tetapi Nela harus berpikir dua kali jika dia tidak ingin kehilangan pekerjaan karena menyukai atasannya yang sudah berkeluarga.
Karena perasaan sedang kacau dan banyak pikiran, Nanda berusaha melupakannya dengan minum alkohol hingga mabuk. Malam itu, bar akan ditutup, tapi Nanda masih mabuk disitu hingga membuat pegawai bar mendatanginya untuk menyuruhnya pergi.
" Pak, kami akan segera tutup, mohon segera pulang. Atau saya bantu hubungi teman bapak untuk menjemput bapak." Tanya si pegawai bar.
__ADS_1
Nanda mengeluarkan ponsel dari sakunya dan diberikan pada si pegawai bar itu.
" Siapa yang harus saya hubungi?" Tanya si pegawai yang bingung.
" Asistenku." Jawab Nanda pelan.
Si pegawai bar mencari tulisan asisten di kontak ponsel milik Nanda. Beberapa kali nomor itu dihubungi, tapi tak ada jawaban. Dan dicobanya lagi hingga Nela mengangkat panggilan Nanda.
" Hallo, pak Nanda. Ini jam berapa? Kenapa menghubungi saya." Jawab Nela kesal karena panggilan Nanda mengganggu tidurnya.
" Hallo. Begini, yang punya ponsel ini saat ini sedang mabuk di bar kami. Bar kami akan segera tutup, jadi tolong bawa pulang atasan anda."
" Tunggu, ini sudah sangat larut malam. Bagaimana..." Nela semakin kesal.
" Saya kirimkan alamatnya." Kata si pegawai bar tanpa menunggu jawaban Nela.
Pegawai bar itu benar-benar mengirimkan alamat bar tempat Nanda mabuk. Dengan perasaan kesal, Nela pergi menjemput Nanda dengan naik taksi.
Di sana, Nanda mabuk seperti orang yang tak sadarkan diri. Nela berusaha membangunkan bosnya, tapi Nanda hanya menggeliat saja.
Nela meminta bantuan salah satu pegawai bar untuk membawa Nanda menuju ke mobil Nanda yang ada di parkiran. Nela meminta kunci mobil dari Nanda yang hanya tersenyum sambil menunjuk salah satu kantong bajunya.
Setelah mengambil kunci mobil, Nela langsung melaju dijalanan malam yang terasa sepi.
Dengan susah payah Nela membawa Nanda masuk kedalam rumah tempat Nanda tinggal. Sampai dikamar Nanda, Nela mendorong tubuh Nanda keatas kasur. Dia membuka sepatu dan jas Nanda lalu membuatkan minuman madu pereda mabuk.
Nela memaksa Nanda untuk meminum minuman pereda mabuk yang dia buat. Nela menghela nafas melihat tingkah Nanda yang seperti anak kecil, sungguh merepotkan.
Nela membersihkan wajah dan beberapa bagian tubuh Nanda yang penuh bau minuman dan muntahan. Mulanya Nela kebingungan bagaimana caranya mengganti pakaian Nanda yang kotor.
Lalu dia membuka baju Nanda dengan susah payah, harus geser kanan geser kiri. Sebelum mengganti pakainnya dengan piyama, Nela membersihkan bagian dadanya yang terkena muntahannya sendiri.
Sesaat Nela berdesir melihat dada Nanda yang bidang. Lalu dia tersadar dan segera memakaikan piyama kepadanya.
Setelah selesai, Nanda terlihat tertidur lelap. Kini saatnya Nela pulang. Tapi ini sudah dini hari dan sebentar lagi pagi menjelang. Akhirnya Nela memutuskan untuk berdiam sebentar di tempat Nanda dan nanti baru memanggil taksi.
Nela melihat sebentar keadaan Nanda. Selimut yang dikenakan Nanda jatuh dilantai. Sementara Nanda sendiri hampir jatuh. Nela mengambil selimut dan diletakkan diatas ranjang. Lalu dia membantu membenarkan posisi tidur Nanda. Saat ingin melepaskan tangannya, Nanda bergerak cepat memeluk tubuh Nela yang tepat jatuh di atas tubuhnya.
Lalu yang terjadi tak pernah dibayangkan Nela. Nanda membuka matanya, lalu tersenyum melihat Nela. Nela berusaha melepaskan pelukan Nanda, tapi Nanda malah semakin bergairah. Nanda tak dapat lagi menahan hasratnya yang sudah mulai memuncak.
" Aku akan bertanggungjawab padamu Nela."
Kata-kata itu terucap saat Nanda mulai melampiaskan hasratnya yang sudah cukup lama tak tersalurkan sejak pergi ke kota Balikpapan.
Nela tak bisa berontak lagi, dia hanya bisa pasrah menerima perlakuan Nanda. Mungkin karena Nela mencintai Nanda. Dia mencoba menikmati setiap sentuhan lembut yang dilakukan Nanda. Nela tidak tahu, apakah yang dilakukan Nanda padanya karena Nanda mencintainya atau hanya kebutuhan yang tidak terpenuhi karena jauh dari istrinya.
Apapun yang akan terjadi setelahnya, biarlah waktu yang menjawab.
__ADS_1