Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Jangan di depan mata


__ADS_3

Nanda mulai mempersiapkan semua menyambut kedatangan Nela. Nanda membelikan Nela sebuah rumah yang memang tidak semewah rumah Mira ataupun rumah Rosa. Isi rumahpun belum lengkap. Hanya berisi barang-barang yang akan mereka perlukan.


Nela tidak terlalu banyak menuntut seperti Rosa. Karena itu, Nanda lebih nyaman bersama Nela. Sedangkan Mira, bagi Nanda adalah pajangan hidup yang ingin dia pandang tapi tak ingin menyentuhnya.


Hari kedatangan Nela sudah tiba. Nanda menjemput Nela di bandara. Nela datang bersama ibu dan anaknya, Rudy yang baru berusia 8 tahun. Nanda membawa mereka kerumah barunya yang sudah atas nama Nela. Rumah itu sebagai hadiah pernikahan untuk Nela.


" Mas, kapan mas Nanda akan membawaku bertemu mbak Mira? Mas Nanda sudah membuat mbak Mira menerimaku sebagai madunya. Sebenarnya apa yang membuat mbak Mira rela suaminya menikah lagi."


" Nela sayang, jangan membuat aku seperti suami yang jahat. Aku selalu bersikap adil pada istri-istriku, makanya Mira mengizinkan aku poligami. Sudahlah, jangan bahas ini lagi. Lebih baik kita bahas rencana bulan madu kita."


" Kapan kita ada rencana bulan madu?" Tanya Nela manja-manja mesra.


" Ada. Baru aku rencanakan. Bulan madu di rumah saja. Malam ini di kamar." Kata Nanda sambil tersenyum lebar.


" Apa-apaan sih mas." Nela malu-malu dan mencubit mesra Nanda.


" Kenapa, kamu malu? Kita sudah jadi suami istri, itu wajib kan?"


" Nela ngerti. Tapi apa mbak Rosa tidak mencari mas Nanda?"


" Sudah bilang sama Rosa, mau nginep dirumah Mira. Soal ketemu Mira, ntar minggu depan aku ajak kamu ketemu dia."


" Baiklah mas. Aku mau beres-beres dulu."


" Aku bantu beres-beres."


Nanda membantu Nela membereskan barang bawaan Nela yang cukup banyak tanpa mengeluh.


Hari ini, Nanda dan Nela pergi menemui Mira. Mira menyuruh bibi Mei menyiapkan makanan untuk menyambut Nela.


" Bibi, siapkan beberapa hidangan yang enak untuk mas Nanda. Hari ini dia akan datang bersama temannya." Kata Mira pada bibi Mei.


" Ibu Mira, teman atau istri baru pak Nanda?" Bibi Mei kesal harus masak untuk menyambut wanita yang sudah merebut suami Mira yang sudah menganggapnya keluarga.


" Bibi, Mira tahu bibi tidak suka. Tapi dia datang bersama mas Nanda, anggaplah dia tamu biasa. segeralah memasak sebelum mereka tiba."

__ADS_1


" Baik, bu Mira."


Bibi Mei kasihan pada Mira. Mira kini dingin bagai es. Tak pernah tersenyum selain pada kedua anaknya dan hanya keluar rumah untuk mengantar Kasih sekolah itupun hanya sesekali. Dia menutup diri dari dunia luar. Di rumah inilah dunianya sekarang.


Mira menyambut kedatangan Nanda dan Nela. Nanda memperkenalkan Nela pada Mira. Mira menyambut dingin madunya yang membuat Nela agak canggung.


" Mbak Mira, apa kabar?" Tanya Nela berusaha akrab dengan Mira.


" Baik." Jawab Mira dingin.


" Kemana anak-anak?" Tanya Nanda saat tak melihat anak-anaknya.


" Mereka pergi kerumah Fara."


" Pantas saja, biasanya mereka yang duluan menyambutku. Hari ini masak apa, baunya harum, pasti lezat. Nela sayang, mau makan?"


" Boleh." Jawa Nela.


Mereka menuju ruang makan yang sudah tersedia beberapa menu masakan bibi Mei. Mira tidak tahu harus bagaimana meghadapi mereka berdua. Dia tidak ingin menemani mereka makan, pasti akan sangat canggung.


Di ruang makan Nanda dan Nela mengumbar kemesraan di depan Mira tanpa peduli perasaanya. Nanda dan Nela makan saling menyuapi tepat didepan matanya.


Mira tidak menyangka, suaminya tega menguji keikhlasannya menerima Nela sebagai madunya dan menguji seberapa kuat Mira bertahan menerima kelakuan Nanda. Mira bersandar dipintu kamarnya dan membiarkan airmatanya mengalir perlahan. Mira masih bisa bertahan.


Nanda dan Nela akhirnya pergi juga dari rumah Mira. Mira menarik nafas panjang, berusaha menghilangkan rasa sesak didadanya melihat kepergian suami dan madunya.


Nanda mengatur dengan rapi masuknya Nela sebagai salah satu karyawan di perusahaannya agar tidak ada yang curiga hubungan mereka. Tapi Desy mulai curiga dengan keberadaan Nela diperusahaan.


Desy datang keperusahaan sebagai investor. Meskipun sudah bercerai dengan Nanda Desy tidak menarik dana investasinya karena prospek perusahaan yang bagus. Terbukti sekarang perusahaan maju dengan pesat.


Desy mengajak Nela bicara di disebuah cafe. Desy menanyakan secara langsung hubungan Nanda dan Nela. Tapi Nela berusaha mengelak dan membantah pertanyaan Desy.


" Tidak ada hubungan apa-apa antara saya dan pak Nanda selain dia adalah atasan saya dan saya adalah bawahannya."


" Baiklah. Jika suatu saat aku menemukan bukti tentang hubunganmu dengan Nanda, kamu tidak akan bisa mengelak lagi seperti sekarang." Kata Nela sedikit mengancam.

__ADS_1


Nela sangat takut dengan ancaman Desy, karena itu dia mengatakannya pada Nanda tentang kecurigaan Desy. Nanda kesal mendengar cerita Nela tentang Desy yang ikut campur urusannya.


Nanda pergi kerumah Desy untuk memperingatkannya agar tidak terlalu ikut campur masalah pribadinya. Hal itu tidak akan mempengaruhi pekerjaan.


" Desy, jangan ikut campur masalah pribadiku. Aku bisa membedakan masalah pribadi dan pekerjaan. Lagi pula hal hubunganku dengan Nela tidak akan mempengaruhi jalannya perusahaan. Jadi kamu diam saja, buang kecurigaanmu itu jauh-jauh."


" Mas Nanda, aku hanya kasihan pada mbak Mira. Kamu memperlakukannya seolah dia tidak punya perasaan. Kamu tidak pernah berubah. Kamu akan menyesal jika suatu saat mbak Mira mulai menyadari bahwa keputusannya mempertahankan suami sepertimu, itu suatu kesalahan."


" Mira tidak akan pernah meninggalkan aku apapun yang aku lakukan. Kehidupannya bergantung padaku. Dia tidak akan bisa hidup tanpa uang dariku."


" Karena dia miskin, kamu menindasnya semaumu. Kejam kamu Nanda."


Pertengkaran antara Nanda dan Desy terhenti saat anak Desy, Bagus datang menangis.


" Mama, kakak Henly nakal." Kata Bagus sambil menangis.


" Ada apa, apa kakak Henry menggoda kamu lagi?" Kata Desy pelan.


" He em, dia mengambil mainanku."


" Sudahlah, nanti mama akan memarahi kakak. Sekarang berhentilah menangis."


" Apa dia anaku Bagus?" Tanya Nanda.


" Benar. Ini Bagus anakmu."


" Kenapa dia tampak kurus sekali. Kamu tidak merawatnya dengan baik. Apa karena kita sudah bercerai, makanya kamu ..."


" Mas Nanda, kamu keterlaluan. Bagas adalah anakku. Aku menyayanginya seperti menyayangi kakak-kakaknya. Aku merawat mereka dengan baik walaupun aku harus pergi bekerja." Desy sangat marah karena dianggap tidak bisa merawat anaknya." Atau mas Nanda ingin mencoba merawat anakmu? Bawalah, agar kamu bisa merasakan susahnya merawat anak."


" Kamu pikir aku tidak bisa merawatnya? Baik, akan aku bawa Bagus bersamaku. Tapi, apakah dia bersedia ikut denganku?" Nanda merasa ditantang Desy. Dalam hati Nanda bingung, jika Bagus bersedia ikut denganya. Akan bagaimana merawatnya.


" Serahkan saja padaku. Aku yang akan membujuknya." Desy merasa harus memberi pelajaran pada mantan suaminya yang menuduhnya tidak bisa merawat anaknya.


Entah bagaimana caranya Desy membujuk Bagus, anak itu bersedia ikut dengan Nanda. Sambil menangis, Bagus memeluk ibunya sebelum masuk kemobil ayahnya. Dengan berat hati, Desy melepas kepergian anaknya sambil menahan tangis. Dia menenangkan diri sendiri bahwa Bagus pergi bersama ayahnya bukan orang lain.

__ADS_1


" Bagus akan baik-baik saja." Katanya dalam hati.


Selama perjalanan, Nanda berpikir keras, kemana dia akan membawa Bagus. Dan siapa yang akan merawatnya?


__ADS_2