
Mira mengikuti keinginan Bagus dengan sabar. Tapi Bagus memang memiliki emosi yang menggebu-gebu dan Mira menjadi tempat pelampiasan kemarahan Bagus. Mira tidak bisa membalas perlakuan Bagus yang selalu memukulnya sambil berteriak bila hatinya tidak senang.
Awan yang melihat perlakuan Bagus terhadap bundanya, segera maju melawan Bagus. Mulanya Awan hanya menghalangi pukulan-pukulan Bagus, tapi akhirnya Awan membalas pukulan Bagus dengan sama sengitnya. Mira berteriak histeris melihat kedua anak kecil itu berkelahi. Mereka masih anak-anak dan mereka terpaksa harus mengalami hal yang tidak seharusnya. Tubuh Mira lemas dan dia terduduk di lantai tak sanggup lagi berdiri.
Mendengar teriakan Mira, bibi Mei segera memisahkan kedua anak tersebut dan mengancam mereka berdua akan dilaporkan polisi jika masih berkelahi. Tatapan mata Bagus penuh dengan kebencian sedangkan Awan masih dalam keadaan marah. Bagus kembali kemobil sedangkan Awan mendekati ibunya dan memeluknya dengan erat seolah mengatakan babwa dia akan melindungi bundanya.
Mira tak bisa lagi bertahan dan dia memutuskan menyerah untuk merawat anaknya Desy, Bagus. Jika Mira bersikeras melanjutkan usahanya, Mira takut akan mempengaruhi kondisi psikologis Awan dan juga Bagus. Lebih baik dia dikembalikan pada Desy, ibunya.
Mira menghubungi suaminya. Mira meminta Nanda mengambil Bagus dari rumahnya dan mengembalikan dia kepada ibunya. Banyak alasan yang Mira jelaskan pada Nanda, namun Nanda bersikeras dengan keputusan yang sudah dibuatnya.
" Pa, menurut mama apa yang papa lakukan itu malah akan membuat keadaan jadi kacau. Kembalikan Bagus pada ibunya, dia masih terlalu kecil, masih membutuhkan kasih sayang dari ibu kandungnya."
" Tidak, ma. Papa tidak bisa membiarkan Bagus hidup bersama Desy. Papa merasa hidup Bagus tidak bahagia disana. Tolong ma, lakukan apapun asalkan Bagus bisa melupakan Desy dan menerima mama sebagai mamanya."
" Pa, apa itu tidak terlalu kejam. Membuat seorang anak melupakan ibu kandungnya, ibu yang sudah mengandungnya selama 9 bulan. Ibu yang dengan taruhan nyawa melahirkannya kedunia ini. Ibu yang sudah merawatnya dari bayi hingga sebesar itu. Mama tidak sanggup dan tidak akan bisa melakukannya." Kata Mira menolak keinginan suaminya.
" Baiklah, jika mama tidak bisa dan tidak sanggup, biarkan saja Bagus selamanya tidur di dalam mobil dan mobil itu akan menjadi rumahnya untuk selamanya." Ucap Nanda dengan nada kecewa tapi sebenarnya Nanda yakin bahwa Mira tidak akan mungkin tega melihat hal itu terjadi di depan matanya.
" Papa, apa yang akan terjadi dengan Bagus jika seperti yang papa katakan. Mama tidak dapat membayangkan masa depan Bagus kedepannya."
" Jika begitu, berusahalah membuat Bagus keluar dari mobil itu secepatnya dan buat dia menerima mama. Papa tidak mau Desy menertawakan papa karena gagal merawat Bagus."
Mira sangat kecewa pada suaminya yang teramat sangat egois menghadapi masalah ini. Dia lebih mementingkan gengsinya daripada perasaan Bagus anaknya.
__ADS_1
Kini Mira terpaksa harus menuruti keinginan suaminya. Membuat Bagus menerimanya sebagai mamanya. Mira bingung, tidak tahu harus berbuat apa.
Emosi Bagus yang yang kerap kali meledak membuat Mira berpikir keras. Hal apa yang bisa melelehkan hatinya, Mira juga tidak tahu. Makanan favoritnya, mainan kesukaannya, semuanya dia tidak tahu.
Hal paling gampang yang dipikirkan oleh Mira adalah memberikannya sebuah ponsel. Siapa yang tidak suka ponsel, baik orang tua maupun anak-anak paling menyukainya. Secercah harapan timbul dihati Mira.
Mira membeli ponsel baru. Nomor kontaknya hanya berisi nomor ayahnya dan nomor mamanya. Mira mengisinya dengan berbagai game anak-anak yang lagi ngetrend saat ini.
" Bagus, ini ponsel baru punya Bagus. Bisa untuk bermain game dan juga bisa untuk bicara sama papa dan mamanya Bagus. Bicara sambil melihat mama juga bisa. Mau dicoba?" Mira sangat berharap Bagus memberinya respon yang baik.
" Benarkah, bisa lihat mama?" Kata Bagus senang.
" Benar. Mari kita coba." Mira sangat senang sampai meneteskan airmata melihat Bagus yang sangat merindukan mamanya.
" Hei Bagus sayang, apa kabar. Mama kangen sama Bagus." Kata Desy sambil meneteskan airmata.
" Mama, mama. Bagus kangen mama. Bagus pingin pulang. Bawa Bagus pulang mama." Kata Bagus sambil menangis.
" Sayang, mama tidak bisa bawa kamu pulang. Bagus sementara ikut papa dulu ya. Nanti mama akan datang menjemput Bagus. Jadi Bagus mesti baik-baik disana. Jangan nakal ya sayang."
" Benel ya ma, mama akan jemput Bagus pulang."
" Iya sayang. Sudah ya, ingat pesan mama, jangan nakal, jangan menyusahkan orang lain. Mama sayang Bagus."
__ADS_1
Desy menutup teleponnya. Bagus nampak sedih dan kecewa. Mira berusaha menghiburnya.
" Bagus, sayang mama kan? Bagus harus sehat agar nanti saat mama datang menjemput, mama akan senang melihat Bagus." Mira tersenyum. " Kita masuk kedalam untuk mandi dan ganti pakaian. Kalau nanti mama tiba-tiba datang, Bagus sudah siap. Bagaimana?"
Bagus mengangguk pelan. Mira menggendong Bagus masuk kedalam rumah untuk mandi dan berganti pakaian. Untuk sementara Bagus memakai pakaian Awan. Biarpun usia Awan lebih kecil dari Bagus, tapi badan Awan lebih besar dari Bagus.
Mira merasa lega. Langkah pertama sudah berhasil dengan baik. Untuk selanjutnya Mira akan melakukan pendekatan secara pelan-pelan dan masuk kehatinya. Dia akan berusaha mengisi kekosongan posisi ibu yang kini tidak ada di samping Bagus.
Mira mengajak Bagus berbelanja bersama Kasih dan Awan dan juga bibi Mei. Mereka membeli pakaian terutama pakaian untuk Bagus. Setelah itu mereka bermain sepuasnya di area game di mal tersebut. Mereka bertiga sangat senang dan bahagia menikmati berbagai permainan. Melihat mereka sangat menikmatinya, Mira hampir tiap akhir pekan mengajak mereka bermain.
Bagus juga sudah tidak tidur dimobil lagi. Mira selalu menemani mereka bertiga tidur diatas satu ranjang, sambil membacakan buku cerita yang berbeda setiap malamnya. Bagus mulai bermanja pada Mira.
Suatu hari, Mira mengajak Kasih, Awan dan Bagus untuk sarapan bersama agar mereka terbiasa sebagai satu keluarga. Bagus tidak suka sarapan. Kali ini Mira harus bisa membuat Bagus ikut sarapan juga.
Mereka berempat duduk dimeja makan dengan hidangan penuh dimeja. Mira sengaja membuat telur mata sapi kesukaan Bagus. Tapi Mira sengaja menyuapi Awan dengan telor itu tepat didepan mata Bagus. Reaksi Bagus sungguh tidak terduga.
" Bunda... Bagus juga mau di suapi."
Mira, Kasih dan Awan terkejut mendengar Bagus memanggil Mira dengan sebutan bunda.
" Apa, coba sekali lagi, Bagus bilang apa?" Mira mencoba memperjelas apa yang dia dengar.
" Bunda...Bagus juga mau disuapi." Bagus mengulangi kata-katanya.
__ADS_1
Mira tersenyum senang. Padahal tujuannya agar Bagus mau sarapan, malah dia dapat bonus sebuah panggilan yang jadi tujuan awalnya. Itu berarti Bagus sudah menerimanya. Ternyata usaha dan ketulusan Mira tidak menghianati hasil.