Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Memilih Bunda


__ADS_3

Mira bisa bernafas lega, setelah Bagus mulai bisa menerimanya sebagai bundanya. Mungkin Bagus ikut-ikutan Awan yang memanggil Mira Bunda. Apapun yang membuat Bagus berubah, Mira ikut senang.


Kini saatnya membuat Bagus bersedia masuk sekolah. Hari itu, Mira membawa Bagus mengantar Kasih dan Awan kesekolah. Mira berharap, Bagus bisa tertarik untuk masuk sekolah. Harapan Mira terkabul. Akhirnya Kasih, Awan dan Bagus bisa sekolah bersama.


Kehidupan Bagus kini sudah mulai berubah. Kini dia tidak lagi teringat mamanya apalagi ingin pulang kerumahnya. Entah Mira harus merasa senang atau sedih dengan hal ini. Yang pasti bayangan Desy masih dilihatnya di diri Bagus.


Suatu hari, Bagus jatuh sakit. Badannya panas sekali. Memang beberapa hari ini dia sering batuk dan sakit tenggorokan. Mira sudah memeriksakan ke dokter terdekat. Namun panasnya masih belum turun juga. Mira panik, dia takut terjadi apa-apa dengan Bagus, dia pasti yang akan disalahkan.


Mira akhirnya membawa Bagus ke rumah sakit. Mira menghubungi Nanda dan mengatakan bahwa Bagus masuk rumah sakit. Nanda sangat terkejut mendengar kabar itu dan dia memarahi Mira karena dia tidak bisa mengurus Bagus dengan baik.


" Apa, Bagus masuk rumah sakit. Bagaimana bisa.Mama tidak bisa merawat Bagus dengan baik. Apa karena dia bukan anak mama?" Kata Nanda marah.


" Papa, mama sudah berusaha melakukan yang terbaik yang mama bisa. Mama sudah menganggap dia seperti anak mama sendiri, sama seperti Kasih dan Awan." Mira berusaha membela diri.


Nanda merasa bersalah karena telah meragukan ketulusan Mira karena sedang emosi.


" Maafkan papa, karena telah meragukan mama. Tolong jaga Bagus, papa akan memberitahu Desy, mungkin Bagus memang lebih baik bersama ibunya." Nanda menghela nafas berat.


" Baik pa."


Mira menjaga Bagus sendirian di rumah sakit. Kasih dan Awan ingin sekali menemani Mira menjaga Bagus di rumah sakit tapi Mira melarangnya. Mira takut mereka akan ikut sakit juga.


Desy datang bersama Nanda. Dia langsung memeluk Bagus. Mira berdiri menjauh untuk memberi waktu Bagus dan Desy melepas rindu. Desy menangis melihat keadaan Bagus yang terbaring lemah dan di infus.


" Bagus, mama kangen sama Bagus. Bagaimana keadaanmu, apa yang kamu rasakan? Mana yang sakit, bilang sama mama?"


" Bagus tidak apa-apa mama." Suara Bagus lemah.


" Ya sudah, Bagus istirahat dulu. Mama keluar sebentar ya?"

__ADS_1


Desy mendekati Mira.


" Ayo kita bicara. Mas Nanda juga."


Desy mengajak Mira dan Nanda keluar ruangan dengan penuh emosi. Mira hanya menghela nafas dan menyiapkan hati untuk kemungkinan yang paling pahit.


" Mas Nanda, bagaimana bisa Bagus sakit. Kalian tidak bisa merawatnya dengan baik bukan, Mas Nanda harus mengakui itu."


" Oke, aku mengaku. Aku tidak bisa merawat Bagus dengan baik dan aku mencabut kata-kataku bahwa kamu tidak bisa merawatnya."


" Itu memang sudah seharusnya mas Nanda lakukan. Dari awal mas Nanda sudah salah, bagaimana seorang ibu tidak merawat anaknya sendiri dengan baik." Kata Desy merasa berhasil membuat Nanda malu karena merasa bersalah.


Desy lalu memandang Mira yang sejak tadi hanya mendengarkan saja percakapan suami dan mantan madunya.


" Mbak Mira, Desy mengerti jika mbak Mira tidak bisa merawat Bagus dengan baik karena dia memang bukan anak kandungmu. Aku sudah merasa senang, mbak Mira bersedia merawat Bagus selama beberapa bulan ini. Bagus pasti sudah sangat merepotkan mbak Mira." Desy berhenti sejenak. " Aku akan membawanya pulang bersamaku setelah Bagus sembuh."


Desy dan Mira menjaga Bagus bersama-sama. Namun Bagus selalu mencari bunda bukan mamanya untuk menemaninya. Hal ini membuat Desy merasa tersinggung.


" Bagus, mama datang untuk menjemput Bagus. Nanti mama dan bagus bisa pulang bersama kembali ke rumah kita. Bagus senang kan?" ucap Desy sambil tersenyum.


" Bagus tidak mau pulang sama mama. Bagus mau sama bunda." Kata Bagus.


" Bunda, bunda siapa?" Tanya Desy penasaran.


" Bunda Mila. Bagus mau dibacain buku celita." Kata Bagus dengan suara khas anak-anak.


" Bunda Mira, bun...bunda." Desy mengulang kata-kata Bagus dengan terbata-bata seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Desy memandang ke arah Mira yang tersenyum mendengar ucapan Bagus.

__ADS_1


" Bagus, bunda lupa bawa buku cerita. Bagus segeralah sembuh, nanti bunda bacakan buku cerita."


Bagus tersenyum pada Mira yang membuat Desy cemburu karena Desy merasa Bagus lebih menyukai Mira daripada ibu kandungnya.


Bagus dinyatakan sehat dan boleh pulang setelah dirawat di rumah sakit selama 3 hari.


Desy mendekati Bagus yang sudah siap untuk pulang. Tapi Bagus selalu menempel pada Mira dan tidak melepaskan tangan Mira.


" Bagus, mari kita pulang." Desy meraih tangan Bagus yang sedang memegang lengan Mira.


" Tidak mau. Bagus mau pulang sama bunda saja." Kata Bagus yang memicu emosi Desy.


" Bagus, aku ini ibu kandungmu, ibu yang melahirkan kamu. Hanya beberapa bulan saja kamu sudah melupakan ibu?" Suara Desy keras hingga membuat Bagus ketakutan.


" Desy, Kamu membuat Bagus ketakutan. Bagus sudah memberikan pilihannya. Sebaiknya kamu menerima saja keinginan Bagus. Itu yang terbaik. Kamu tidak bisa memaksakan kehendak kamu kepadanya." Kata Nanda kepada Desy yang sedang termenung mengingat ucapan anaknya.


Mira mencoba bicara pada Bagus untuk pulang bersama mamanya. Namun Bagus malah menjerit histeris hingga membuat Desy mau tidak mau harus merelakan Bagus.


Sebelum pergi, Desy ingin sekali memeluk Bagus untuk yang terakhir kali. Namun Bagas menolak. Desy melangkah lesu meninggalkan Bagus bersama Nanda dan Mira. Airmatanya menetes deras, hatinya tidak rela meninggalkan Bagus dan entah kapan dia akan bertemu kembali dengan Bagus.


Setelah Bagus memutuskan untuk memilih hidup bersa dengan Mira, Mira meminta Nanda untuk segera memasukkan Bagus ke dalam kartu keluarganya bersama Kasih dan Bagus. Mira juga meminta Nanda mengurus dokumen secara hukum tentang pengadopsian Bagus agar dikemudian hari ibunya tidak akan bisa mengambilnya kembali.


Kini Mira menjalani hidup bersama ketiga anaknya, Kasih, Bagus, dan Awan. Semenjak hari itu, Nanda mulai perhatian kembali kepada Mira dan ketiga anaknya. Hal itu membuat Rosa sangat cemburu. Dia berusaha memikirkan cara untuk membuat Nanda membenci Mira dan kembali lebih perhatian kepadanya.


Rosa meminta Nanda untuk mengajaknya berkunjung ketempat Mira untuk bersilaturahmi. Setidaknya, mereka memiliki status yang sama, sama-sama istri sah Nanda. Rosa ingin lebih dekat dengan Mira dan anak-anaknya.


Tidak tahu siasat apa yang di mainkan Rosa, Nanda menanggapi keinginan Rosa dengan baik. Tentu saja Nanda lebih bahagia jika kedua istrinya bisa akur dan bisa hidup berdampingan. Hal itu juga akan membuat Nanda lebih fokus dengan pekerjaannya dan tidak akan lagi dipusingkan dengan masalah kehidupan rumah tangganya.


Walaupun jika ditelusuri lebih jauh, bukankah Nanda sendiri yang mencari masalah sejak dia memilih berpoligami. Kesenangan sesaat yang melukai banyak hati. Terutama hati istri pertama dan anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2