Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Putus asa


__ADS_3

Hingga pemakaman ibu Mira selesai, Nanda masih belum datang. Tidak ada yang berani menanyakan keberadaan Nanda pada Mira, karena kondisi Mira yang sedang drop dan lemah. Mereka takut menambah tekanan batin pada Mira.


Mira semakin sedih dan kecewa. Meskipun Nanda tidak lagi peduli padanya, setidaknya dia memberikan penghormatan terakhir untuk ibunya yang juga mertuanya.


Meskipun setelahnya Nanda datang, meminta maaf pada keluarga Mira. Nanda juga akan membayar semua biaya pemakaman dan biaya-biaya lainnya. Akan tetapi hal itu tidak bisa membuat hati Mira tersentuh.


Mira berharap, suaminya mengerti apa yang dia butuhkan saat ini. Bukan hanya uang tapi juga perhatian. Tapi nyatanya suaminya sama sekali tidak peka.


Ataukah karna dimatanya Mira bukan lagi wanita yang dicintainya selama hampir 13 tahun ini. Setidaknya Mira juga pernah jadi cinta pertamanya, tidakkah ada sedikit saja cinta yang masih tersisa dihatinya?


" Ma, papa minta maaf. Papa tadi sibuk sekali, jadi tidak mengangkat panggilan mama. Tadi baru sempet buka pesan mama, papa langsung kemari. Sayang papa terlambat."


" Tidak apa pa. Papa memang orang yang sibuk, mama tidak akan mempersoalkannya." Mira berusaha menutupi rasa kecewanya.


" Makasih ma." Kata Nanda lega Mira tidak marah kepadanya.


Mira bukan tak marah, tapi Mira sudah tidak ada kekuatan lagi untuk marah.


Mira meminta izin pada suaminya untuk menginap di rumah ibunya hingga hari ketujuh kematian ibunya. Nanda memberi izin namun dia tidak bisa menemani Mira karena dia harus menemani Rosa. Mira tidak keberatan


menginap dirumah ibunya tanpa Nanda.


Setelah hari ketujuh, sebelum Mira kembali kerumah, Mira bertanya pada Fara. Pertanyaan yang sudah dipendamnya selam beberapa hari ini.


" Fara, mbak ingin tahu apa yang menyebabkan ibu terkena serangan jantung."


" Mbak, Fara tidak tahu." Jawab Fara agak cemas.


" Katakan saja pada mbak Mira. Jangan sampai mbak Mira tahu dari orang lain." Kata Mira seolah tahu Fara menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


" Mbak Mira, waktu itu tanpa sepengetahuan Fara, ibu pergi keluar rumah. Bertemu beberapa ibu-ibu yang sedang membicarakan mbak Mira dan mas Nanda." Fara berhenti.


" Lalu?"


" Lalu ibu mengetahui bahwa mas Nanda mempunyai istri baru lagi. Bahkan bukan hanya menikah siri tapi sudah menikah secara resmi sebagai istri kedua secara hukum. Ibu kaget dan..."


Mira tertegun mendengar cerita Fara. Jadi secara tidak langsung dia menjadi penyebab kematian ibunya. Andai dia mengatakan pada ibunya dan bicara pelan-pelan sambil membujuk ibunya menerima nasib putrinya, mungkin sekarang ibunya masih hidup.


Mira membawa penyesalan hingga kembali kerumahnya. Dirumahnya, hari-hari Mira penuh dengan kenangan ibunya. Kepergian ibunya sangat membuatnya terpukul. Mira merasa putus asa. Bagaimana dia bisa menjalani kehidupan ini tanpa ibunya, ibu yang selalu memberi semangat untuknya agar bisa bertahan menghadapi hidup ini.


Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah botol obat berisi obat tidur. Dikeluarkannya semua isinya ke telapak tangannya. Didepannya terlihat ibunya tersenyum dan memintanya meminum obat tidur yang ada ditangannya.


Perlahan Mira mulai menggerakkan tangannya. Sebelum sempat Mira minum obat tidur itu, secara tak diduga, sebuah suara kecil memanggilnya dan membuatnya sadar dari halusinasinya walaupun belum sepenuhnya.


" Mama..." Kasih berlari memeluk Mira dengan erat hingga obat tidur yang ada ditangannya jatuh berhamburan ke lantai.


" Mbak Mira, apa yang terjadi? Apa yang mbak Mira lakukan?" Kata Fara yang kebetulan datang untuk menemui Mira.


" Kasih, ajak mamamu turun untuk makan bersama. Kasihan calon adikmu pasti kelaparan."


Fara sengaja menyuruh Kasih supaya bisa jadi semangat buat Mira.


" Mama, ayo tita makan. Dedek pasti juga lapal kayak Kasih." Kata Kasih manja.


" Iya, sayang." Jawab Mira sambil memandang Kasih yang terlihat manja. Mirapun tersenyum.


" Mama jangan sedih lagi, Kasih dan dedek jadi itut sedih. Kasih janji, Kasih tidak akan nakal. Kasih akan nulut kata mama."


Mira mengangguk pelan.

__ADS_1


" Kasih mau nyanyi buat mama."


" Emang Kasih bisa nyanyi lagu apa?"


" Balonku ada lima. Lupa-lupa walnanya hijau kuning kelabu melah muda dan bilu." Kasih bernyanyi sambil bergerak kesana kesini." Meletus balon hijau dong... hatitu sangat kacau balonku tindal empat tupedang elat-elat." Kasih tersenyum malu.


Fara melihat semua itu dari depan pintu kamar dengan hati bangga. "Kasih kami harus bisa jadi penopang kekuatan ibumu setelah nenekmu tiada." Katanya dalam hati.


Mira tak dapat menahan tawanya melihat tingkah putrinya. Tapi meski tertawa butiran airmata menetes tak terkendali diwajahnya yang sayu. Mungkin ini yang dinamakan tangis bahagia.


Mira berdiri mendekati putrinya lalu memeluknya sambil berjongkok.


" Putriku, kekuatanku." Gumamnya.


Mira mulai menemukan kekuatannya kembali yang telah hilang ketika ibunya meninggal. Dan masih ada satu lagi, yaitu anak yang dalam kandungannya. Dia juga hidup, dan merasakan indahnya mempunyai ibu dan kakak yang menyayanginya.


Sejak itu Mira tidak banyak berpikir keras tentang apapun, bahkan tentang suaminya yang jarang pulang kerumahnya. Dia membebaskan diri dari kesedihan dan fokus pada Kasih dan bayi dalam kandungannya.


Kabar Rosa melahirkanpun sampai juga ditelinganya. Ada sedikit rasa sedih, karena Nanda selalu menemani Rosa saat kehamilannya dan saat melahirkan Nanda juga ada disamping Rosa.


Walaupun saat kehamilan Mira, Nanda tidak bisa menemaninnya. Mira berharap saat malahirkan nanti suaminya bisa ada disampingnya.


Namun kabar terbaru mengatakan bahwa anak Rosa mengalami cacat fisik karena pengaruh obat penggugur kandungan yang pernah Rosa minum saat hamil. Anak Rosa memiliki gangguan pada matanya dan pada kakinya terlalu lemah.


Meski begitu Nanda masih sangat menyayangi anaknya. Ternyata Nanda begitu sangat menyayangi anak-anaknya dari ketiga istrinya . Tak kurang sedikitpun meski ada kekurangan.


Mira tidak merasa senang atas apa yang terjadi pada anak Rosa. Mira justru kasihan padanya, pasti Rosa sangat sedih sekali dengan keadaan anaknya.


Memang benar, Rosa sangat sedih dan kecewa memiliki anak seperti itu. Dia beruntung karena Nanda bersedia melakukan banyak hal untuk bisa membuat anaknya bisa normal seperti anak yang lain. Membawanya pergi keberbagai rumah sakit di beberapa kota. Walaupun hasilnya masih jauh dari yang diharapkan.

__ADS_1


Ada satu hal yang hingga saat ini masih mengganjal dihati Mira. Nanda begitu menyayangi anak-anaknya, kenapa dengan bayi yang dikandungnya saat ini dia sama sekali tidak peduli. Ingin sekali rasanya bertanya langsung padanya, tapi ini pasti akan memicu pertengkaran dia dan Nanda.


Mira berharap suatu hari pertanyaan ini akan terjawab tanpa dia harus bertanya pada suaminya.


__ADS_2