Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Kesempatan kedua pak dokter


__ADS_3

Mira mulai membuat desain sendiri. Pakaian untuk berbagai kalangan, dari anak-anak sampai orang dewasa. Dia menggunakan ukuran ketiga anaknya karena Mira berencana membuat anak-anaknya sebagai model desain miliknya. Sedang untuk desain wanita dewasa dia menggunakan dirinya sendiri sebagai model dan juga bibi Mei ikut ambil bagian.


Pada awalnya mereka tidak tertarik dengan apa yang dilakukan Mira. Tetapi ketika ketiga anak Mira mulai memakai pakaian buatan Mira dan terlihat bagus, mereka mulai mendatangi Mira untuk membuatkan baju untuk anak-anak mereka. Mira mulai dikenal oleh masyarakat sekitar.


Keinginannya untuk berjualan online masih butuh banyak persiapan. Dia tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Dan lagi Mira sudah sibuk dengan pesanan dari orang-orang disekitarnya yang mulai membuatnya kerepotan membagi waktu.


" Bunda..." Kata Bagus sambil menarik baju bundanya.


" Iya, ada apa? Bunda lagi sibuk. Mau dibuatkan susu?" Tanya Mira.


" Bukan bunda. Ada pak dokter."


" Apa... pak dokter?" Kata Mira kaget. Untuk apa dokter Raka datang.


" Selamat sore mbak Mira, apa aku mengganggu?" Tanya dokter Raka yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.


" Tentu saja tidak. Apa dokter perlu sesuatu yang bisa saya bantu?"


" Saya ingin membuat baju untuk acara pernikahan teman. Katanya disini bisa buat pakaian yang bagus dan berkwalitas."


" Terimakasih atas kepercayaan pak dokter pada saya. Model seperti apa yang pak dokter mau."


" Terserah mbak Mira yang penting bagus."


" Baiklah. Boleh saya ambil ukurannya dulu?"


" Tentu."


Dokter Raka mendekati Mira yang sedang memegang pita ukuran. Mira mulai mengukur bagian tubuh dokter Raka untuk mendapatkan ukuran yang tepat. Dokter Raka tersenyum dalam hati. Baru kali ini dia begitu dekat dengan Mira. Ketika Mira mengalungkan kedua tangannya keleher dokter Raka untuk mengukur bagian kerah, tak sengaja mereka beradu pandang hingga membuat Mira menjadi gugup demikian juga dokter Raka.


" Bunda, Awan lapal." Suara panggilan Awan menyadarkan Mira.


" Awan lapar? Mau makan apa?" Tanya Mira.


" Ayam goleng. Punyanya om doktel."


Mira melihat kearah dokter Raka yang tersenyum kepadanya. Senyum itu, sepertinya Mira pernah melihatnya. Lelaki dengan lesung pipit di pipinya ketika tersenyum, tapi entah dimana dia lupa.


" Tadi aku bawa ayam goreng untuk anak-anak. Hanya sedikit kok." Kata dokter Raka sambil melirik ke arah Mira.


Mira hanya tersenyum kecil.


" Awan, bagi-bagi sama kak Bagus dan kak Kasih."

__ADS_1


" Iya bunda ?" Tanya Awan khawatir.


" Besok, aku undang bunda dan anak-anak makan di luar. Bagaimana mbak Mira?"


" Horee, benel ya om doktel. Awan bilang sama kak Bagus dan kak Kasih." Awan berteriak senang dan berlari pergi menemui kakak-kakaknya.


" Pak dokter, jangan terlalu memanjakan mereka. Saya tidak ingin anak-anak bergantung pada dokter. Maaf, saya mengatakan ini karena suatu saat dokter akan menikah dan memiliki keluarga sendiri."


" Saya mengerti kekhawatiran kamu. Apakah salah jika saya menyayangi anak-anak yang manis seperti mereka? Mereka pantas dicintai."


" Iya, mereka adalah hidupku."


" Hidupmu berarti hidupku juga." Kata dokter Raka dalam hati.


Ternyata dokter Raka telah mengetahui semua cerita tentang keluarga Mira dari bibi Mei. Dokter Raka sangat marah pada Nanda yang tidak tahu menghargai wanita yang baik seperti Mira. Tetapi dokter Raka juga senang karena akhirnya Mira memilih berpisah dengan Nanda. Dan kini dokter Raka memiliki kesempatan kedua untuk mengejar Mira. Kali ini dokter Raka tidak akan menyerah seperti dulu.


Janji makan bersama diluar, bagi dokter Raka menjadi kesempatan untuknya agar lebih dekat dengan Mira dan ketiga anaknya. Jadi dia ingin tampil menawan didepan Mira. Beberapa kali ganti baju, sampai baju-baju itu berantakan diatas tempat tidurnya. Ini seperti akan melakukan kencan pertama, dia sangat gugup.


Sementara Mira dan ketiga anaknya sudah menunggu kedatangan dokter Raka. Tak berapa lama dokter Raka datang dengan penampilan yang menawan. Mereka berjalan bersama menuju ke sebuah rumah makan yang tak jauh dari rumah mereka.


Mereka memesan 5 porsi ayam goreng dan sedikit nasi. Saat mereka sedang asyik menikmati makan malam, tiba-tiba ada seorang wanita yang mendekati Mira lalu memarahinya.


" Kamu yang bernama Mira kan, janda yang suka menebar pesona. Apa yang kamu lakukan sehingga suamiku sangat mengagumi kamu bahkan memujimu didepanku. Itu sungguh keterlaluan." Kata wanita itu dengan marah.


" Salah paham apanya, kamu sebagai janda jangan banyak tingkah. Jangan suka tebar pesona sana sini. Mau mencari suami baru yang bisa menhidupimu dan anak-anakmu? Jangan mimpi."


" Nyonya sudah keterlaluan menghina saya."


" Suka-suka saya, lebih baik kamu kembali kekota asalmu!" Teriak wanita itu cukup keras.


Dokter Raka melihat Mira panik dan sepertinya sangat tertekan dengan omongan wanita itu. Dokter Raka segera tampil sebagai pembela. Tidak main-main, dia langsung to the point.


" Nyonya, anda terlalu berlebihan menghina orang. Mira, untuk apa tebar pesona pada suami nyonya, kalau disini sudah ada saya."


" Dokter Raka, kalian ada hubungan ..."


" Benar, dia calon istriku."


Mira kaget. Demikian juga dengan orang-orang yang ada di rumah makan itu. Tapi akhirnya Mira menyadari bahwa apa yang dikatakan dokter Raka adalah untuk membantunya lepas dari tuduhan dan kemarahan wanita itu. Meski begitu kenapa sampai bilang calon istri bukannya itu malah akan menambah gosip baru untuknya.


Sejak hari itu, semua orang dikampung tahu kalau Mira adalah calon istri dokter Raka. Ada yang suka dan ada juga yang tidak suka. Mereka menyayangkan seorang dokter muda akan menikah dengan janda beranak 3. Betapa memalukan menjadi bahan perbincangan orang-orang. Mira merasa ini tidak benar dan harus segera diluruskan oleh dokter Raka sendiri karena dia yang memulai.


Mira memperhatikan rumah dokter Raka yang masih terlihat sepi. Tak lama kemudian terdengar suara sepeda motor dokter Raka yang baru kembali dari klinik. Mira pamit pada ketiga anaknya yang sedang bermain untuk pergi keluar sebentar.

__ADS_1


Dokter Raka pasti sedang santai sekarang sehabis kerja. Tapi Mira menjadi ragu begitu dia sampai di depan rumah dokter Raka. Apakah pantas dia membicarakan masalah itu dengan dokter Raka. Dari dalam rumah dokter Raka memperhatikan tingkah laku Mira yang membuatnya tersenyum sendiri.


Dokter Raka pura-pura mau pergi keluar agar bisa menemui dan bicaradengan Mira tanpa canggung.


" Mbak Mira, kenapa ada disini? Ada perlu dengan aku?" Dokter Raka pura-pura bertanya.


" Sebenarnya memang ada perlu sama pak dokter." Jawab Mira ragu.


" Kalau begitu, silahkan masuk." Dokter Raka memersilakan Mira masuk.


Walaupun dengan berat hati, akhirnya Mira masuk ke rumah dokter Raka.


" Duduklah, santai saja. Anggap saja rumah sendiri." Dokter Raka tersenyum." Mau minum apa"


" Tidak perlu. Saya hanya sebentar saja kok.


" Baik." Doktet Raka duduk perlahan.


" Ini tentang perkataan pak dokter waktu itu." Mira berhenti sejenak." Sekarang semua orang membicarakan itu. Apa pak dokter tidak merasa terganggu?"


" Terganggu? Tidak juga. Apa mbak Mira terganggu?"


" Terus terang saya terganggu. Saya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak tahu bagaimana menjawabnya."


" Jawab saja iya. Gampang kan?" Dokter Raka tersenyum.


Dia terlihat banyak senyum hari ini. Dan lesung pipitnya tampak sangat jelas dilihat dari dekat.


" Tapi saya tidak ingin berbohong dan membuat candaan seperti itu?"


" Apakah yang aku ucapkan kemaren seperti sebuah candaan?" Tanya dokter Raka serius.


" Lalu, jika tidak. Apa saya harus menganggapnya serius?" Jawab Mira balik bertanya.


Dokter Raka menatap Mira dengan tatapan tajam membuat Mira agak gugup dan ingin segera pergi.


" Aku tidak bercanda dengan apa yang pernah aku ucapkan dihadapan orang-orang kemaren. Mbak Mira, apakah mbak Mira merasa aku kurang pantas bersama mbak Mira?"


" Bukan, tapi saya yang tidak pantas untuk pak dokter."


" Siapa bilang mbak Mira tidak pantas untukku? Asalkan mbak Mira setuju, aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa untuk menjaga mbak Mira dan anak-anak."


Apa ini, kenapa malah jadi seperti ini. Mira tidak tahu dan tidak bisa memahami jalan pikiran dokter Raka. Jawaban Mira akan menentukan masa depan Mira selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2