Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda

Berbagi Cinta : Maduku Seorang Janda
Permintaan seorang ibu


__ADS_3

Pernikahan Mira dan dokter Raka tinggal menghitung hari. Persiapan sudah hampir 95% dilakukan.


Dokter Raka mengajak Mira untuk fitting pakaian pengantin. Mira sengaja mendesain baju pengantinnya sendiri, supaya sesuai keinginannya yang sederhana. Dokter Raka terpaksa setuju dengan keinginan calon istrinya itu untuk membuatnya senang.


Mira mencoba baju pengantin yang didesainnya sendiri dibantu adiknya Fara. Sementara Raka menunggu di luar ruang ganti. Tak berapa lama Mira keluar dengan mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang terkesan sederhana tapi indah. Sangat cocok dengan Mira. Raka tersenyum melihat Mira terlihat malu-malu.


" Ada apa, kamu terlihat malu? Disini hanya ada aku dan Fara," tanya Raka.


" Aku...Aku hanya tidak menyangka akan mengenakan baju pengantin lagi untuk yang kedua kalinya. Lebih tidak menyangka lagi mengenakan baju pengantin hasil karyaku sendiri," jawab Mira.


" Kamu tahu, aku juga tidak menyangka bahwa aku bisa menikah denganmu. Ini seperti sebuah mimpi bagiku. Mimpi yang indah," sambung Raka.


" Pak dokter...jika ini mimpi, aku akan menghilang saat kamu terbangun," kata Mira.


" Kalau begitu, kemarilah. Biarkan aku merasakan bahwa kehadiranmu bukan mimpi," pinta pak dokter.


Mira berjalan mendekati Raka dengan masih memakai baju pengantinnya. Mira berhenti tepat didepan Raka.


" Kamu nanti harus memperbaiki cara berjalanmu. Lebih anggun dikit lagi, terutama harus banyak senyum agar tidak dikira kamu menikah denganku karena terpaksa," kata Raka kemudian.


Mira memukul dada Raka karena Mira merasa dipermainkan Raka. Raka hanya tersenyum lalu menarik tubuh Mira kedalam pelukannya hingga Mira tak bisa lagi memukulnya. Akhirnya Mira berhenti dan membalas pelukan Raka.


***


Ada orang yang ingin Mira undang di hari pernikahannya secara secara langsung.


Mira menghubungi sahabatnya yang tinggal diluar kota. Sudah terlalu lama Mira tidak memberi kabar pada sahabatnya Nisa, sejak terakhir Nisa datang saat ibunya meninggal. Mira memutuskan kontak dengan semua orang dan pergi ke kampung. Mira membuang nomor handphone yang biasa dia gunakan agar tidak seorangpun yang menemukannya.


" Hallo, siapa ini?!" tanya Nisa karena dia tidak mengenal nomor tersebut.


" Hallo, Nisa. Apa kabar?! Tidak mengenali suaraku?!" tanya Mira balik.


" Mira...Ini benar kamu. Kenapa baru menghubungi aku sekarang?!" tanya Nisa lagi.


" Ceritanya panjang. Kalau aku cerita, tak akan habis satu hari," jawab Mira.


" Tunggu..., dari nada suaramu ada yang berubah," kata Nisa.


" Benarkah...?!"


" Biar aku tebak, kamu dapat lotere ya...terasa bahagia banget," ledek Nisa.

__ADS_1


" Apa begitu kelihatan cuman dari suara. Tapi memang benar sih...aku lebih bahagia sekarang," jawab Mira malu.


" Nah...kan. Cerita...cerita...cerita. Lagi kepo nich..." kata Nisa penasaran.


" Nisa, akhirnya aku memutuskan untuk bercerai..."cerita Mira terhenti oleh pertanyaan Nisa.


" Tunggu...bercerai?! Apa aku tidak salah dengar. Jika itu benar aku turut senang mendengarnya. Kamu berhak bahagia," kata Nisa sambil menghela nafas lega.


Nisa tidak mampu lebih jauh berkomentar tentang rumah tangga sahabatnya dulu karena Nisa takut akan mengingatkan Mira pada masa lalunya.


" Terimakasih. Kali ini aku menghubungimu untuk memberitahumu sekaligus mengundangmu untuk hadir di pernikahanku," kata Mira.


" Pernikahanmu...kamu akan menikah lagi?! Siapa dia, lelaki yang bisa membuatmu melupakan trauma dihatimu secepat itu?!"


" Dia seorang dokter. Hatinya baik, perhatian, pengertian dan yang terpenting dia lajang. Namanya dokter Raka."


" Sepertinya aku familier dengan nama itu," kata Nisa.


" Aku juga merasa seperti itu. Lelaki yang punya lesung pipit dipipinya bila dia tersenyum. Sepertinya aku juga pernah melihatnya tapi entah dimana.." tambah Mira.


" Dokter Raka. Raka Setiawan. Lelaki dengan lesung pipit diwajahnya. Umurnya, tak beda jauh darimu," kata Nisa.


" Benar. Bagaimana kamu bisa tahu dia?!" tanya Mira kaget.


" Dia hanya cerita tentang keluarganya,"


" Baiklah. Kirimkan saja foto undangannya. Aku pasti akan datang," kata Nisa menghidari Mira bertanya lebih jauh." Sudah, tutup dulu ya. Si kecilku menangis minta dibuatkan susu. Daa..."


" Iya, nanti aku kirimkan."


Mira menjadi penasaran dengan kata-kata Nisa. Ada rahasia apa yang tidak dia ketahui tentang Raka. Bahkan Nisa mengenalnya. Jika Nisa kenal, seharusnya Mira juga tahu. Kenapa jadi pusing mikirin ini.


" Bunda..."


Suara tangis Awan membuatnya kaget. Dia langsung berlari dan menemukan Awan yang sedang menangis dan di depannya Bagus berdiri sambil memeluk sebuah mainan milik Awan.


" Awan, ada apa sayang...?" tanya Mira.


" Bunda...Kak Bagus nakal. Itu...mainan... Awan..." kata Awan terbata-bata sambil menangis.


" Bunda...Bagus mau pinjam...tapi Awan tidak kasih. Bunda jangan marah..." kata Bagus ketakutan.

__ADS_1


Mira memandang Bagus dengan tatapan marah. Semakin dilihat, Bagus mirip dengan mamanya, Desy.


"Tapi sekarang dia adalah anakku. Anak yang tidak berdosa. Dia percaya padaku. Dia memilihku menjadi bundanya, dibanding ibu kandung yang melahirkannya." ucapnya dalam hati.


" Bagus, kalau pinjam tidak boleh maksa. Jika yang punya tidak mengizinkan, maka tidak boleh merebut milik orang lain. Itu tidak baik ya ...sayang. Bunda tidak suka ada pertengkaran diantara anak-anak bunda?!" kata Mira menasehati Bagus.


" Bunda... maafkan Bagus. Bagus tidak akan mengulangi lagi," kata Bagus pelan.


" Ya...sudah. Minta maaf sama Awan dan kalau mau pinjam mintanya baik-baik. Pasti dikasih. Dan Awan nggak boleh pelit sama orang terutama saudara sendiri," tambah Mira.


" Awan, aku minta maaf ya..."


Awan dan Bagus saling bersalaman. Bagus menyerahkan mainan yang dipegangnya pada Awan. Awan tersenyum gembira.


" Nanti aku kasih pinjam sebentar ya...":


Mereka akur kembali. Meski bukan saudara kandung, Mira ingin ketiga anaknya tidak merasakan perbedaan perlakuan darinya. Terutama bagi Bagus, meski tidak bisa menggantikan posisi ibu kandungnya tapi dia bisa menjadi bunda pilihan Bagus untuk dijadikan sandaran hidupnya.


***


Menjelang hari pernikahan, Desy datang kerumah Mira untuk bertemu Bagus. Semenjak Bagus memilih hidup bersama Mira, Desy belum pernah lagi bertemu Bagus. walau bagaimanapun dia ibu kandungnya, rasa kehilangan pasti juga dia rasakan.


Sebenarnya Mira juga tidak pernah melarang Desy untuk menemui Bagus, hanya setelah bercerai dengan Nanda dan Mira memutuskan untuk pergi, tak seorangpun yang mereka kenal dapat bertemu mereka.


" Mira, sebentar lagi kamu akan menikah dan mempunyai keluarga baru. Kamu pasti juga akan memiliki anak lagi. Alangkah baiknya jika kamu kembalikan Bagus padaku," kata Desy sedikit memohon.


" Desy, aku tidak pernah mengambil Bagus darimu. Dia sendiri yang memilih hidup bersamaku. Bukankah kamu sendiri sudah tahu itu. Jadi apa yang harus aku kembalikan padamu?" kata Mira.


" Aku tahu. Seharusnya kamu jangan terlalu baik pada Bagus. Jangan perlakukan dia seperti anakmu sendiri. Bencilah dia. Dia anak suamimu dengan wanita lain. Apa kamu tidak dendam sama sekali padaku dan anakku?" tanya Desy.


" Aku membenci perbuatan orangtuanya, tapi salah dia apa? Dia hanya seorang anak yang tidak bisa memilih dari rahim siapa dia akan dilahirkan," kata Mira sedikit emosi.


" Tolong, berikan dia padaku. Aku mohon. Biarkan aku membawanya, dia pasti akan bisa menerimaku sebagai ibunya," pinta Desy.


" Desy, aku akan memberimu kesempatan untuk bersama Bagus mengingat kamu adalah ibu kandungnya. Sebagai seorang ibu aku memahami perasaanmu," jawab Mira.


" Lalu kapan kesempatan itu kamu berikan padaku?"


" Tunggu setelah aku menikah. Tapi ingat satu hal, secara hukum dia adalah anakku. Jika kamu tidak bisa membuat dia bahagia bersamamu, aku akan mengambilnya kembali." ancam Mira.


" Setuju..."kata Desy sambil tersenyum.

__ADS_1


Sesungguhnya Mira sedih melakukan itu tapi, seorang ibu tetaplah seorang ibu. Kasih sayangnya pasti lebih besar darinya.


" Bagus, maafkan bunda. Memutuskan jalan hidupmu tanpa bertanya padamu." kata Mira dalam hati.


__ADS_2