
Nanda dan Rosa bersama kedua anaknya datang berkunjung ke rumah Mira. Mira mencoba menahan diri agar tidak terlihat terluka dihadapan Rosa. Ketika Rosa dan Mira beradu pandang, tatapan mereka berdua bagai musuh bebuyutan yang siap bertarung.
Ini kedua kalinya Rosa datang menemui Mira, bedanya kali ini Rosa mendapat dukungan dari Nanda.
Anak-anak dari Rosa maupun anak-anak dari Mira mereka bermain bersama. Mereka tidak pernah memahami juga tidak mau tahu konflik diantara orangtua mereka. Yang mereka tahu hanyalah mereka mempunyai teman bermain.
Mereka berlima berlarian keluar masuk rumah saling kejar mengejar. Tiba-tiba terdengar suara luky menangis. Rupanya dia terjatuh saat berlari bersama Bagus. Nanda segera menolong dan menggendong luky. Nanda memang sangat menyayangi anak-anaknya.
Akan tetapi, Nanda tiba-tiba memarahi Bagus karena Nanda menganggap Bagus yang menjatuhkan luky. Bahkan kata-katanya sudah keterlaluan dan tidak layak untuk di dengarkan oleh anak-anak. Bagus merasa ketakutan tapi dia tidak berani menangis. Bagus terduduk memegang lututnya sambul menunduk tidak berani memandang wajah ayahnya yang sedang marah.
" B*ngsat, b*jing*n, Kurang ajar. Kamu taruh dimana matamu. Dasar b*jing*n kecil tidak tahu aturan." Nanda menunjuk kepala Bagus dengan penuh amarah.
Mira yang mendengar Nanda memarahi Bagus segera mendekati Bagus yang terisak menahan tangis.
" Papa, kenapa papa memarahi Bagus dengan kata-kata kasar seperti itu. Papa sudah keterlaluan. Seharusnya papa dengarkan penjelasan dari Bagus, karena apa yang papa lihat belum tentu itu benar. Mungkin ini hanya salah faham saja. Mereka bermain, berlari dan jatuh, itu adalah hal yang biasa. Bagus mungkin saja tidak sengaja, mungkin juga Luky jatuh sendiri." Mira mengangkat kedua bahu Bagus hingga Bagus dalam poaisi berdiri.
" Mama jangan ikut campur ketika papa sedang memarahi salah satu anak papa, dia nanti akan tumbuh jadi anak manja." Nanda memelototi Mira.
" Benarkah, tidakkah kemarahan papa justru akan membuat anak-anak takut pada papa? Apalagi tanpa mengetahui kebenarannya dan papa tidak mau bertanya atau mendengar penjelasan dari mereka terlebih dahulu. Apakah karena Bagus sendirian tanpa mamanya, jadi papa berani memarahinya? Sekarang Bagus adalah anakku, jadi mama yang akan melindunginya." Mira berbicara dengan tegas pada Nanda.
Mungkin jiwa keibuannya mulai berontak saat melihat anaknya diperlakukan tidak adil.
" Bagus katakan pada bunda apa yang terjadi pada Kak Luky. Jangan takut , ayah tidak akan marah lagi kalau Bagus berkata jujur." Kata Mira pada Bagus yang masih sedih.
" Bunda, kak Luky jatuh sendili. Dia berlali sangat cepat lalu jatuh." Kata Bagus.
" Nah papa dengar kan, anak kecil tidak mungkin berbohong. Jadi mama harap papa tidak akan sembarangan memarahi anak sebelum tahu kebenarannya."
Namun Nanda sepertinya tidak peduli dengan penjelasan Bagus sehingga membuat Mira kesal. Nanda mulai tidak adil terhadap anak-anaknya. Dia lebih peduli dengan anak Rosa. Tentu hal itu membuat Rosa senang dan merasa menang.
__ADS_1
Nanda mengajak kelima anaknya pergi membeli mainan. Tinggallah Mira dan Rosa didalam rumah itu. Rosa mendekati Mira yang sedang membaca majalah di ruang keluarga.
" Mbak Mira, apa kabar. Kelihatannya baik-baik saja. Semoga akan slalu begitu ya." Rosa seolah mencibir Mira.
" Jika sudah tahu, buat apa tanya lagi." Mira membalas cibiran Rosa.
" Mbak Mira, saya salut sama mbak Mira. Punya berbagai cara untuk membuat mas Nanda perhatian sama kamu lagi. Tapi kali ini aku tak mau kalah sama mbak Mira."
" Maksudmu apa? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu katakan."
" Mbak, aku tidak akan memberi mbak Mira kesempatan untuk merayu mas Nanda. Apalagi membuat mas Nanda menyukaimu lagi. Seharusnya aku tidak perlu khawatir, dari segi apapun aku jauh lebih baik dari mbak Mira. Mbak Mira harus sadar, mbak Mira sudah tua. wajah mbak Mira sudah mulai menua dan keriput sangat jauh dari kata cantik." Kata Rosa yang membuat telinga Mira merah karena marah.
" Rosa, silahkan katakan apapun yang ingin kamu katakan. Aku juga tidak pernah sedikitpun berpikir untuk merayu ataupun berharap mas Nanda akan menyukaiku karena aku sudah tidak mencintainya lagi."
" Omong kosong. Aku sama sekali tidak percaya."
Rosa mendengar suara mobil Nanda datang. Niat jahatnya muncul. Rosa mengejar Mira lalu memegang kedua tangan Mira dengan erat hingga Mira sulit melepaskan tangannya. Ketika Nanda dan masuk, akting Rosa segera dimulai.
" Lepaskan tanganku Rosa, apa yang kamu lakukan. Sakit Rosa." Teriak Mira pada Rosa sambil berusaha melepaskan tangan Rosa.
" Tunggu sebentar." Kata Mira sambil tersenyum." Mbak Mira, jangan. Apa yang mbak Mira lakukan. Sakit mbak." Teriakan Rosa membuat Nanda bergegas masuk.
" Kamu bicara apa Rosa." Mira bingung dengan perkataan Rosa yang merasa tersakiti.
" Mbak Mira jangan." Rosa terjatuh tepat ketika Nanda masuk.
Nanda yang melihat Rosa jatuh, langsung berlari menolongnya. Rosa menangis tersedu sedu sambil memegang perutnya. Nanda dengan tatapan marah melihat ke arah Mira yang masih bingung dengan situasi ini.
" Tidak pa, aku tidak melakukan apapun pada Rosa. Dia jatuh sendiri." Kata Mira berusaha membela diri.
__ADS_1
" Aku tidak percaya mama akan melakukan ini pada Rosa. Saat ini Rosa sedang hamil. Teganya mama menyakiti calon bayiku." Kata Nanda marah.
" Pa sungguh, aku tidak..."
Belum selesai Mira berbicara, Nanda sudah melayangkan tamparan beberapa kali lalu menendang Mira hingga jatuh. Mira kaget sekali dengan kelakuan suaminya yang sanggup melakukan KDRT padanya karena kesalahpahaman ini. Mira menahan tangisnya dan menahan rasa sakit akibat tamparan dan tendangan Nanda. Kemarin Mira hanya sudah tidak mencintai suaminya lagi, kini bukan hanya tidak mencintai tapi juga sudah membenci Nanda.
Ketiga anaknya berlari mendekati Mira lalu mereka bertiga memeluk Mira sambil menangis. Mira sangat takut jika ketiga anaknya melihat perlakuan ayah mereka padanya.
" Papa jahat. Papa telah menyakiti mama." Kata Kasih pada ayahnya. Ternyata mereka bertiga telah melihat ayah mereka memukuli dan menendang bundanya.
" Anak kecil jangan ikut campur urusan orangtua." Bentak Nanda pada Kasih.
" Pa, papa boleh menyakiti mama tapi jangan bentak Kasih seolah dia bersalah." Mira tidak tahan melihat Nanda membentak putrinya.
" Mas, tolong bantu aku." Teriak Rosa seolah kesakitan.
" Ayo kita ke rumah sakit. Kandungan kamu harus diperiksa, agar tidak terjadi apa-apa." Ajak Nanda khawatir dengan kandungan Rosa.
Nanda bergegas membawa Rosa ke rumah sakit bersama kedua anaknya.
Sementara Mira dan ketiga anaknya masih saling berpelukan dan menangis. Mira tidak boleh terlihat lemah dihadapan ketiga anaknya.
"Ma, apa masih sakit" Tanya Kasih melihat bekas tamparan ayahnya yang masih membekas di wajah mamanya.
" Tidak sayang, sudah tidak sakit lagi."
Mungkin rasa sakit diwajahnya bisa hilang tapi rasa sakit dihatinya tak akan pernah hilang. Terbersit dihatinya ingin segera mengakhiri semua penderitaan ini. Mempertahankan sesuatu yang tidak patut dipertahankan. Mira mulai meragukan keputusan yang di pilihnya selama ini sebagai suatu kesalahan.
Namun penyesalan memang datangnya terlambat.
__ADS_1