
Nanda menyewa pengacara untuk mengajukan permohonan Rosa menjadi istri sah secara hukum.
Pengacara itu bernama Ziko, yang akan mengurus segala sesuatunya yang dibutuhkan sebagai dasar permohonan. Terlebih Nanda juga disibukkan dengan pekerjaannya yang sudah tertunda saat menikah.
Namun sebelum mengajukan permohonan, Nanda kembali menemui Mira untuk meminta izin terlebih dahulu karena tanpa izin istri pertama, Rosa tidak akan pernah bisa jadi istri sah Nanda.
Dengan berat hati, Nanda meminta Mira untuk memberikan izin mengajukan permohonan agar Rosa bisa menjadi istri Nanda yang sah secara hukum negara.
Mira menolak keinginan suaminya. Dalam hatinya, Mira ingin memperjuangkan sebisa mungkin demi masa depan Kasih, putrinya.
Pertengkaran antara Nanda dan Mira tidak bisa dihindari. Nanda kesal dan marah saat Mira tetap bersikeras menolak keinginan Nanda.
Nanda sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, kepalanya terasa pening dan sakit.
Dan tiba-tiba " Plak..."
Sebuah tamparan mendarat dipipi Mira.
Mira kaget dan sama sekali tidak menyangka, suaminya akan menamparnya demi wanita lain.
Suami yang dicintanya hampir 13 tahun. Dia semakin banyak berubah, dia seperti orang lain Dia bukan lagi Nanda yang dikenalnya selama ini.
Mira tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa meneteskan airmata sambil memandang suaminya dengan hati penuh rasa kecewa.
Nanda merasa bersalah. Namun tidak menyurutkan niatnya.
" Maaf, ma. Papa pusing dan mama yang memaksa papa sampai berbuat begitu."
Mira masih saja diam seribu bahasa.
" Besok, pengacara akan datang menemui mama untuk bertanya beberapa hal. Papa harap mama mau bekerjasama"
Nanda pergi dengan membawa rasa bersalahnya pada Mira. Sedangkan Mira masih duduk dengan kesedihannya.
Dua hari kemudian, pengacara datang kerumah Mira. Pengacara ziko tertegun melihat Mira
yang ternyata masih muda dan cantik walaupun tampak terlihat jelas di wajahnya tekanan batin yang terpendam. Sinar mata yang redup dan mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis.
" Kasihan."
Hanya kata itu yang bisa dia ucapkan dengan pelan.
" Maaf bu Mira, kedatangan saya atas permintaan suami ibu pak Nanda untuk melengkapi persyaratan pengajuan permohonan."
__ADS_1
" Saya tahu, silahkan anda bertanya.Jika saya bisa, saya pasti akan menjawabnya."
" Tidak banyak yang akan saya tanyakan."
Pengacara Ziko berhenti sebentar untuk menghela nafas. " Apakah bu Mira sudah memberikan izin pada pak Nanda untuk menikah lagi?"
" Benar."
" Berapa banyak aset yang bu Mira dan pak Nanda miliki saat ini?"
" Kenapa pak pengacara tidak bertanya pada suami saya saja."
" Sudah bu Mira, ini hanya mengkonfirmasi saja, agar tidak ada kesalahan."
" 2 mobil, 2 sepeda motor, 1 rumah ini dan 2 bagian tanah di pinggiran kota."
" Baik, sudah sesuai. Begini saat nanti sidang dibuka, saya harap bu Mira menjawab dengan konsisten bahwa ibu Mira sudah memberi izin. Selebihnya saya yang akan mengatur semuanya."
Mira menghela nafas berat, seberat beban hidupnya. Dadanya sesak.
Hari-hari berlalu, namun hari dimana sidang itu akan digelar tak ada kabar.
Nanda semakin jarang pulang kerumah apalagi membicarakan masalah itu lagi. Dia pulang hanya untuk meminta haknya sebagai suami. Dan sebagai seorang istri, Mira tidak pernah menolak dan tetap menjalankan kewajibanya walau dengan perasaan sedih dan terluka.
Setelah menunggu hampir satu bulan, hari itu tiba. Nanda menyuruh pengacara Ziko untuk menjemput Mira.
Sebelum sidang dimulai, Mira duduk sambil minum air putih yang diberikan pengacara Ziko padanya. Saat itu tibalah Nanda dan seorang wanita muda yang tengah hamil besar.
" Itu pasti Rosa" Pikir Mira sambil memperhatikannya dengan cermat.
Nanda mendekati Mira dan pengacara Ziko. Dia memperkenalkan Rosa pada Mira. Rosa mengulurkan tanganya yang disambut Mira dengan senyum sinis.
Rosa dan Nanda menunjukan kemesraan mereka di depan Mira. Rosa bersikap manja karena sedang hamil dan Nanda pun meladeninya tanpa peduli perasaan Mira.
Pengacara Ziko hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas. Dia melihat Mira yang dengan segenap kekuatannya menahan emosi hatinya. Pengacara Ziko mulai kagum pada Mira yang sanggup hidup dengan suami yang selalu menyakitinya dan tidak ada rasa ingin membalasnya.
Pengadilan dibuka secara tertutup.
Pengadilan mendengarkan keterangan satu persatu dari mereka bertiga. Banyak pertanyaan yang menjebak hingga mereka harus berhati-hati dalam menjawab.
Demikian juga pertanyaan untuk Mira yang selalu Mira ingat.
" Apakah anda tahu apa yang menyebabkan suami anda menikah lagi?"
__ADS_1
" Apakah karena anda punya penyakit ?"
" Apakah karena anda sudah tidak bisa melaksanakan kewajiban anda sebagai seorang istri?"
" Ataukah karena anda tidak bisa memberikan keturunan untuk suami anda?"
Semua pertanyaan itu selalu terngiang di telinga Mira dengan jawaban dari mulutnya "Tidak.Tak ada satupun yang benar."
Dengan jawaban Mira itu, maka hari itu tak bisa diputuskan. Mira kembali bersama pengacara Ziko sedangkan Nanda bersama Rosa.
Rosa nampak kesal. Nanda hanya diam melihat Rosa menahan amarahnya. Kalau dia bicara, takutnya Rosa malah mengamuk.
Sementara pengacara Ziko mengajak Mira makan siang untuk menenangkan diri sebelum pulang. Di rumah ada Kasih yang pasti akan bertanya kemana mamanya pergi.
Semua jawaban memang harus dipersiapkan terlebih dahulu.
Entah disadari atau tidak, Ziko mulai memperhatikan Mira. Rasa kagum Ziko pada Mira mulai tidak wajar. Ziko menyadari, namun dia sangat menghormati Mira.
Mira harus menghadiri sidang sampai putusan diputuskan. Namun selama Mira tidak mengakui salah satu hal yang ditanyakan hakim, maka tak ada putusan dan hasilnya menggantung.
Nanda meminta pengacara Ziko untuk membujuk Mira agar bersedia mengatakan kalau Mira sedang sakit dan tak bisa melaksanakan kewajibannya.
Ziko menolak permintaan Nanda. Dia tidak ingin meminta Mira berbohong. Jika ingin Mira mengatakan itu, Nanda sendirilah yang harus memohon pada Mira.
Nanda sebenarnya kecewa dengan pengacara Ziko, kini dia harus turun tangan sendiri.
Mira tengah bercanda denga Kasih saat Nanda datang. Kasih tampak senang sekali melihat ayahnya datang. Sudah sekian waktu Kasih tidak melihat ayahnya. Kata ibunya, ayahnya sedang tugas keluar kota.
" Papa ingin bicara sama mama dulu ya.Kasih main sama bibi."
" Nggak mau, kemaren papa bilang gitu tapi nggak balik-balik lagi. Papa bohong kan sama Kasih." Kata Kasih sambil terus memegangi tangan ayahnya.
" Pa, mainlah sebentar sama Kasih. Nanti baru bicara sama mama." Kata Mira bagai sebuah syarat untuk tujuan kedatangan Nanda.
Nanda mengerti isyarat Mira. Dia bermain dan menghabiskan waktu bersama Kasih selama hampir seharian.
Mira menyadari, bahwa keputusannya tak sebanding dengan apa yang dilakukan Nanda hari ini. Tapi melihat senyum putri kecilnya dia dia sangat bahagia dan rela melakukan apapun untuk bisa selalu melihat senyum itu.
Mungkin suatu hari, saat dia tahu, dia akan mengerti dengan keputusannya hari ini. Dan tidak akan menyalahkannya dan menganggap ibunya wanita yang bodoh dan lemah seperti apa yang dikatakan orang-orang padanya.
Nanda menyodorkan selembar kertas kosong bermaterai kepada Mira. Mira sesaat hanya terdiam melihat kertas tersebut. Nanda menjelaskan apa-apa yang harus ditulis oleh Mira.
Dengan hati sakit dan pedih, Mira mulai menulis. Mira menyatakan bahwa dia sakit dan tidak bisa melaksanakan kewajibannya sebagai istri, sehingga mengizinkan suaminya yang bernama Nanda untuk menikah lagi.
__ADS_1
Sebutir airmata Mira menetes di lembar kertas itu ketika Mira menandatangani pernyataan tersebut.